Tuesday, 27 January 2009

Sejuta Warna Dunia Mia


Sejuta Warna Dunia Mia

Judul Asli: A Mango Shape Space

Penulis: Wendy Mass

Penerjemah: Ferry Halim

Penerbit: Atria

Cetakan: I, Desember 2008

Tebal: 354 hlm


Spoiler Alert!!!


Semua orang mungkin memiliki keanehan yang tidak disadarinya. Setidaknya aneh menurut orang – orang yang menganggap dirinya normal.


Sebelumnya Mia juga menganggap dirinya normal. Setidaknya Mia tidak mengganti warna rambutnya setiap minggu seperti kakaknya Beth, ataupun Zack yang selalu memiliki gagasan- gagasan aneh seperti menghitung jumlah hamburger McDonalds yang dimakannya seumur hidup, percaya bahwa menaruh kucing di pangkuan akan membawa keberuntungan ataupun beberapa hal takhyul lainnya. Sampai suatu hari, di usia delapan tahun, Mia menyadari ada sesuatu yang aneh pada dirinya.


Namun hal itu tak diceritakan pada siapapun. Karena siapa yang percaya bahwa ada warna – warna yang muncul pada setap angka dan huruf yang dilihatnya ataupun pada suara yang didengarnya. Tidak ada yang percaya bahwa huruf a berwarna sekuning bunga matahari,warna biru seperti selimut bayi yang terpancar dari angka empat, ataupun suara kucingnya Mango yang berwarna soda jeruk. Rahasia itu tetap disimpannya seorang diri. bahkan pada sahabatnya sejak kecil, Jenna.


Sebenarnya Mia pernah menceritakan hal ini pada orang tuanya ketika insiden kecil terjadi di kelas mate-matika. Namun Ayah dan Ibunya menganggap Mia hanya mengarang semua cerita dan hanya berhalusinasi.

Setelah lima tahun berlalu sejak kejadian memalukan di kelas, Mia tidak juga menemukan jawaban untuk misteri warna – warna yang dilihatnya. Sebenarnaya Mia menikmati semua perpaduan warna – warna yang dilihatnya. Walau sering kali Mia merasa dirinya gila.


Semuanya tersimpan rapat sampai nilai mate-matika Mia di kelas delapan semakin buruk. Tidak hanya mate-matika sebenarnya, ia juga menemui kesulitan yang sama di pelajaran bahasa Spanyol. Semua terlihat begitu sulit baginya. Mia sadar ia tak dapat menyimpan keanehannya lebih lama. Ia harus menceritakan pada Ayah dan Ibunya, walau tahu mereka berdua pasti akan sulit untuk menerima semua kenyataan ini.


Seperti yang diduga Mia, kedua orang tuanya terkejut mendengar semua pengakuan Mia. Tanpa menunggu lama, mereka pun mengunjungi dokter keluarga, Psikiater sampai akhirnya seorang ahli syaraf Berita baiknya Mia dan keluarganya tidak perlu terlalu khawatir karena Mia tidak mengidap tumor otak seperti yang dicurigai ibunya. Sayangnya, hal buruk terjadi ketika akhirnya Mia menceritakan semuanya pada Jenna, yang juga akhirnya menceritakan kepada orang lain sampai akhirnya seluruh sekolah tahu tentang warna – warna yang dilihat Mia. Tidak menutup kemungkinan gelak tawa mengejek yang didengarnya di kelas tiga akan terulang.

Keanehan pada Mia, Beth ataupun Zack membuat saya teringat masa kecil. Tepatnya pada koleksi – koleksi aneh yang hanya dianggap sampah oleh mama. Setiap orang mungkin memang punya keanehan masing – masing.

Satu hal yang paling menarik dari kisah Mia adalah kemampuan melihat warna- warna itu nyata. Di luar sana, benar- benar ada orang yang bisa melihat warna- warna dari angka, huruf, suara. Walau warna- warna yang dilihat setiap orang akan berbeda.


Rasa tidak tepat untuk menyebutnya sebagai kelainan. Sebaliknya saya malah cenderung menyebutnya kelebihan. Karena diantara mereka bisa melihat aura yang ada disekitar tubuh seseorang. Hal ini yang membuat saya sedikit iri. Karena sampai sekarang, warna – warna itu tidak juga terlihat. Walaupun saya telah mencoba berkali – kali dengan berpatokan pada dua buku panduan sekaligus. Namun hasilnya nihil. Padahal semua penulisnya memastikan cara yang mereka ajarkan ini adalah cara paling jitu. Atau mungkin saja saya memang tidak berbakat. Tapi setidaknya harus tetap bersyukur karena bisa menikmati dunia yang penuh warna ini.


Sebenarnya ada istilah ilmiah untuk kelainan(baca:kelebihan) yang dialami Mia dan beberapa orang di luar sana. Namun saya sengaja tidak mau menuliskannya di sini. Ingin tahu apa itu? Buka bukunya dan temukan jawabannya di sana.


Walau tidak sekeren Anastasia Krupnik, seunik Grace Aja, selugu Alice McKinley, kelainan Mia bisa dibilang menarik. 3.5/5

Review: Cosmo and The Magic Sneeze - Gwyneth Rees




Satu lagi buku yang bercerita tentang kucing. Kali ini sedikit istimewa karena kucing kali ini adalah kucing penyihir. Kucing penyihir yang tidak hanya mendampingi para penyihir saat naik di sapu terbang, tapi kucing yang membantu mereka menyiapkan ramuan ajaib. Ramuan yang dibuat para penyihir kwbanyakan membuukan bersin kucing untuk membuatnya berkhasiat. Sayangnya tidak semua kucing memiliki darah penyihir didalam tubuhnya. Untuk mengetahuinya, ia harus dites terlebih dahulu

Adalah Cosmo, anak kucing yang berusia enam bulan, menjadi sangat gugup karenanya. Ya, hari itu Cosmo akan menjalani satu tes yang menentukan apakah dirinya adalah seekor kucing penyihir seperti ayahnya,Mephisto. Sebenarnya ia tidak perlu serisau itu jika ibunya adalah seorang penyihir. Sayangnya India, ibu Cosmo, hanyalah seekor kucing putih biasa, yang saat itu juga merasakan kekhawatiran yang sama dengan anaknya. Ia tidak ingin mengecewakan suaminya.

Beruntung, ketika tes dilakukan oleh Sybil, penyihir yang selama ini menjual ramuan dengan bantuan Mephisto, menunjukan bahwa Cosmo adalah kucing penyihir dengan persentase delapan puluh persen. Tidak hanya Cosmo dan India, Mephisto pun ega mengetahui hasilnya. Terlebih lagi Sybil, ia bakan bersorak gembira. Karena kini ia tidak hanya punya satu kucing tapi dua kucing penyihiri sekaligus.

Walau telah resmi menjadi kucing yang akan membantu Sybil dengan bersinnya, namun Cosmo tidak merasakan rasa nyaman ketika berada di dekat wanita yang penampilannya memang mengerikan. Setidaknya ia ingin bisa bekerja seperti ayahnya yang dengan tenangnya mengerjakan semua yang diinginkan Sybil.

Sebenarnya, yang dirasakan oleh Cosmo ada benarnya. Karena Sybil memang bukan penyihir yang baik. Sebaliknya Sybil adalah penyihir yang jahat, kejam, culas dan licik. Tidak jarang, ramuan yang dibuatnya digunakan untuk menipu para pelanggannya. Beruntung ada para penyihir pengawas yang selalu memperhatikan tindak tanduk Sybil sehingga semua kecurangannya bisa ditekan.

Suatu hari kekhawatiran Cosmo semakin besar, ketika ia mengetahui bahwa Sybil sedang membuat ramuan rahasia berdasarkan petunjuk yang didapatkan dari ibunya, Euphemia, penyihir yang jauh lebih jahat. Cosmo dibantu oleh ibunya dan sahabatnya Mia mencoba menyelidiki apa yang hendak dibuat oleh Sybil. Semuanya benar- benar membuatnya bingung sampai suatu hari ia melihat kardus yang berisi banyak anak kucing.

Pertanyaan demi pertanyaan Cosmo kini terjawab. Sybil ternyata akan menggunakan anak kucing dalam ramuan rahasianya. Bahkan Sybil pun dengan lantang mengatakan tidak akan segan – segan menggunakan Cosmo. Anak kucing kecil itu mulai panik. Bagaiman amungkin Sybil berkata demikian, padahal semua orang tahu bahwa para penyihir tidak diperbolehkan menyakiti kucing penyihir, jika tidak ingin lenyap menjadi asap.

Walau bukan buku pertama yang menuliskan tentang kucing penyihir, namun ini pertama kalinya sang kucing penyihir dijadikan karakter utama. Ilustrasinya juga lucu. Melihat ilustrasi itu, saya dibuatnya rindu untuk mengelus kucing lagi. Punya kucing memang menyenangkan, walau mereka bukan kucing penyihir sekalipun. Di buku ini ternyata untuk memahami bahasa kucing, penyihir juga harus belajar. Tidak seperti Sabrina, The Teenage Witch, yang sejak pertama kali sadar bahwa ia penyihir bisa langsung mengerti bahasa kucing. Apa karena kucingnya yang pintar sampai ia bisa bicara bahasa manusia? Entahlah. Yang jelas kucing – kucing penyihir di buku ini jauh lebih pintar dari kucing ungu milik Hermione, Crookhanks. Yang hanya diam seribu bahasa. Hihihi...
Rasanya tidak sabar memiliki buku – buku yang bercerita tentang kucing lagi. 

Cosmo and The Magic Sneeze
Judul Indonesia: Cosmo dan Bersin Ajaib
Penulis: Gwyneth Rees
Penerjemah: Dini Pandia
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, September 2008
Tebal: 192 hlm

Saturday, 24 January 2009

Review: The Book of Lost Things - John Connolly




Dongeng ini diperuntukkan bagi orang dewasa,
terutama yang masih ingat saat – saat ketika masa kanak – kanak mulai berlalu
dan jalan menuju kedewasaaan telah terbentang
(resensi di sampul belakang)

David, anak laki - laki yang menjadi tokoh utama di buku ini. Berbagai macam ritual dilakukan demi kesembuhan ibunya. Berdoa, tidak berisik saat melakukan segala sesuatu, mendahulukan kaki kiri saat turun dari tempat tidur, menghitung sampai dua puluh kali saat menggosok gigi, sampai menyentuh keran – keran di kamar mandi ataupun gagang pintu dilakukan agar ibunya bisa bertahan lebih lama. Sayangnya kekuatan penyakit yang telah lama bersarang di tubuh ibunya jauh lebih kuat. David hanya bisa menangis tersedu ketika kehidupan perempuan cantik yang sangat disayanginya itu berakhir.

Setelah kehilangan ibu, David tidak mau mengambil resiko kehilangan ayahnya. Rutinitas yang sama terus dijalankannya. Walau tidak sedisiplin dulu. Sayang, seperti saat mengusahakan hal yang sama untuk nyawa ibunya, semua rutinitas itu ternyata juga tidak bekerja untuk ayahnya. Hanya dalam lima bulan, tiga minggu dan empat hari setelah ibunya meninggal, kini hadir wanita lain dalam kehidupan ayahnya, Rose, Bahkan ketika David belum siap menghadapi semua yang ada di depan mata. Seakan ingin kemalangan David, sejak mengetahui Rose akan menggantikan posisi ibunya, suara – suara aneh yang berasal dari buku miliknya mulai muncul di kepala David

Hal buruk berikutny adalah ketika mengetahui bahwa ayahnya akan menikahi Rose.
Seakan tak cukup mengalihkan perhatian ayahnya dari kenangan ibunya, kini Rose hadir bersama bayi laki-laki yang diberi nama Georgie. Sehingga tidak perlu heran jika tidak sekalipun David mencoba untuk bersikap ramah pada Rose. Hubungan mereka tak kunjung membaik, bahkan ketika pindah ke rumah Rose, David di beri kamar yang berisi penuh dengan beragam macam buku. Tentu saja David menyukainya, walau itu berarti suara bising di kepalanya akan bertambah dan erang dingin dengan Rose tak juga berakhir.

David tahu bahwa percuma saja jika harus menghabiskan waktu untuk memikirkan Rose dan George. Maka buku – buku yang tua dan aneh menjadi pilihan David untuk melupakan mereka berdua. Dibandingkan buku koleksinya, Dongeng – dongeng di buku – buku tua itu jauh lebih mengerikan. Bahkan tak jarang David sampai memimpikannya. Mengherankan ketika ternyata David semakin tertarik dan bertanya – tanya siapakah Jonathan Tulvey, yang namanya ada dibalik dua sampul buku.

Satu – satunya jalan untuk mendapatkan jawaban tentu saja dengan bertanya pada Rose,yang juga berarti ia harus mengenyampingkan rasa tak sukanya. Dari penjelasan Rose, Jonathan Tulvey ternyata adalah paman Rose yang menghilang begitu saja ketika ia berumur empat belas tahun bersama seorang anak perempuan kecil bernama Anna.

Hari demi hari sejak itu, keanehan demi keanehan terjadi.Seperti munculnya seorang pria pendek dan bungkuk dengan penampilan yang sangat mengerikan, munculnya suara perempuan yang mirip dengan suara ibunya yang membuatnya sampai tersesat ke dalam hutan. Hutan yang ternyata menghubungkannya dengan dunia lain. Dunia di mana semua dongeng- dongeng yang pernah dibacanya berubah drastis. Dari kisah si Tudung Merah dan serigala jahat, Snow White dan 7 kurcaci, Putri Tidur, Hassel dan Gratel dan masih banyak dongeng lannya menjadi cerita berbeda. Sebagian cerita itu diperoleh dari seorang tukang kayu yang sempat menyelamatkan jiwanya

Dari cerita seorang tukang kayu jugalah, David negeri ini dipimpin oleh seorang Raja tua dan satu – satunya cara untuk menemukan jalan pulang adalah dengan menghadap kepadanya. Sayangnya perjalanan menuju istana sang raja tidak mudah. David harus berhadapan dengan makhluk – makhluk mengerikan yang tidak segan – segan melukai bahkan membunuhnya.

Awalnya saya tak pernah menyangka kalau buku ini akan menjadi buku fantasy yang penuh dengan kejutan. Bagian yang paling menarik tentu saja lembaran – lembaran yang menuliskan dongeng – dongeng yang isinya benar-benar aneh. Membuat saya tidak sabar untuk mengetahui bagaimana dongeng berikutnya setelah membaca bagian pertama yang diceritakan oleh tukang kayu. Bahkan ketika cerita telah habis, saya masih berharap akan mendapat yang lain. Hingga akhirnya terpikir untuk membuat cerita sejenis namun diangkat dari dongeng dari negeri sendiri. Pastinya tidak kalah seru.

Satu hal yang menjadi satu catatan ketika sampai di halaman terakhir buku ini adalah bagaimana membuka mata, telinga dan hati lebih lebar. Sehingga semua hal bisa menjadi lebih jelas. 

The Book of Lost Things
Judul Indonesia: Kitab Tentang Yang Telah Hilang
Penulis: John Connolly
Penerjemah: Tanti Lesmana
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, Agustus 2008
Tebal: 472 hlm

Review: Life On The Refrigerator Door - Alice Kuipers



Another Teenlit!!!!
Entah sejak kapan menulis pesan di pintu kulkas itu menjadi kebiasaan Claire dan ibunya. Dari daftar barang yang harus dibeli, saling bertukar kabar, atau sekedar bercerita bagaimana hari yang telah mereka lalui di sekolah ataupun rumah sakit. Sebagai dokter, ibu Claire memang sangat sibuk. Sehingga untuk bertatap muka dengan anak perempuan satu – satunya adalah hal yang langka.

Sering kali, karena tugas, ia juga harus menghabiskan liburan akhir pekan di rumah sakit. Untung saja Claire punya segudang kegiatan yang harus dikerjakannya. Baik itu tugas dari sekolah, menghabiskan waktu bersama Emma. sahabatnya, sampai akhirnya memutuskan untuk kerja paruh waktu sebagai babysitter. Sehingga ia tak perlu meratapi rumah mereka yang kosong. Walau jauh di dalam hatinya, ia tetap berharap bisa memiliki ibu yang “normal”. Setidaknya seperti ibu Emma yang bisa memasak untuknya. Bukan sebaliknya.

Claire sebenarnya tahu betul bahwa ia tak dapat menyalahkan ibunya sepenuhnya untuk semua waktu yang tidak lagi tersisa untuk dirinya. Karena membesarkan seorang anak perempuan sendirian bukanlah hal yang mudah. Apalagi sejak bercerai dengan ayahnya, semua kebutuhan harus mereka tanggung sendiri. Walau tak dapat menghabiskan waktu bersama, mereka toh masih bisa berbagi semua hal di pintu kulkas.

Semakin lama, pesan – pesan di pintu kulkas tidak hanya berisi kata – kata singkat. Kini semuanya berkembang menjadi beberapa paragraf. Sehingga terasa bahwa pesan- pesan itu menjadi satu – satunya cara untuk berkomunikasi. Bahkan pertengkaran mereka terjadi lewat lembaran kertas- kertas itu. Dari masalah uang saku, pekerjaan rumah tangga, pakaian di mesin cuci, bahkan hal hal sepele lainnya.

Semua terlihat semakin ironis. Berita penting sekalipun ternyata tak sempat lagi disampaikan secara langsung. Bahkan untuk hal sepenting hasil diagnosis dokter mengenai benjolan pada payudara ibunya. Semakin banyak emosi yang tertuang di dalamnya. Namun seburuk apapun hubungan Claire dan ibunya, dari pesan-pesan itu terlihat mereka saling menyayangi.

Satu lagi teenlit yang benar- benar saya suka. Dari desain cover yang manis sampai ceritanya yang menyentuh. Buku ini berhasil membuat saya terharu.

Cerita yang ditulis dalam bentuk yang nggak biasa. Seperti judulnya dan yang saya tulis di atas, buku ini memuat pesan – pesan yang mereka tulis. Jadi kadang satu halaman hanya ada kalimat- kalimat yang sangat singkat. Itu juga jadi satu point yang menarik dalam buku ini. Bacanya jadi cepat banget.

Sayang pesan – pesan yang mereka tulis tuh nggak ada tanggalnya. Jadi agak susah mengetahui kapan tulisan itu di tulis. Walaupun sebenarnya itu tidak begitu mengganggu jalan cerita.

Nah satu lagi buku yang membuktikan kalau cerita teeenlit itu tidak selamanya dangkal. Pengen bukti? Baca buku ini. 

Life On The Refrigerator Door
Judul Indonesia: Kehidupan di Pintu Kulkas
Penulis: Alice Kuipers
Penerjemah: Rosi L. Simamora
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I,November 2008
Tebal: 240 hlm

Tuesday, 20 January 2009

Edgar & Ellen: Pet’s Revenge


Edgar & Ellen Si Kembar Nakal: Pet’s Revenge

Penulis: Charles Ogden

Penerjemah: Meithya Rose

Penyunting: Nat Nat

Penerbit: Matahati

Cetakan: I, Agustus 2008

Tebal: 224 hlm


Spoiler Alert!!!!


Siapa pun yang telah mengikuti kisah ini sejak awal pasti mengenal Pet, binatang berambut dan bermata satu berwarna kuning yang selalu menjadi korban kejahilan Edgar dan Ellen di saat mereka tak punya mainan baru ataupun saat dilanda kebosanan. Mereka seakan tak pernah peduli akan rasa sakit yang mungkin saja dialami oleh Pet. Lihat saja ketika mereka menjadikan Pet sebagai pengganti Shuttle Cock.


Sial bagi Pet, tak peduli di manapun ia bersembunyi, Edgar dan Ellen dengan mudah menemukan tempat persembunyiannya. Mereka seakan memiliki sensor yang dapat mendeteksi keberadaan makhluk malang itu. Bahkan dengan mudah mereka merasakan perbedaan yang belakangan terjadi pada Pet. Tidak hanya terlihat lebih lincah dalam setiap usahanya untuk kabur, bahkan pernah sekali mereka memergoki Pet yang menyelinap ke dalam Laboratorium. Pertanyaan Edgar dan Ellen pun terjawab dengan mudah, ketika tahu bahwa balsemlah yang selama ini memberi kekuatan baru bagi Pet kesayangan mereka. Sayangnya ada satu rahasia lagi yang tidak mereka ketahui.


Bosan dengan Pet yang mulai bertingkah, Edgar dan Ellen mengalihkan perhatian mereka pada bangunan baru yang tidak jauh dari rumah mereka. Hotel Knightlorion begitu gedung yang arsitekturnya mirip dengan rumah bobrok mereka. pembagian tugas pun dimulai. Edgar dengan menyamar sebagai karyawan hotel mengangkut kopor – kopor berisi tikus –tikus menjijikan untuk disebar di seluruh ruangan. Ellen sendiri mengendap – ngendap menuju tempat penyimpanan makanan. Ia bermaksud menaikkan suhu ruangan tersebut agar semua makanan beku rusak. Namun tiba tiba saja sesuatu yang aneh terjadi pada Ellen. Alih- alih memutar tombol pengatur ruangan pada thermostat, ia malah meninggalkan ruangan penyimpanan makanan tanpa melakukan apapun. Bukan satu hal yang biasa bagi anak sejahil Ellen meninggalkan misinya begitu saja.


Di rumah, tingkah Ellen ternyata semakin aneh. Bukannya mengusir, Ellen malah menyambut baik ketika Judith Stainswort Knightleigh, istri sang walikota dan anak perempuannya Stephani, yang juga musuh besar Ellen, datang berkunjung. Bahkan dengan mudah ia menyetujui semua rencana Mrs. Knightleigh untuk merombak rumah mereka dalam acara Rumah Yang Lebih Bagi dari Milik Anda. Tentu saja hal itu membuat Edgar bahkan Stephanie menjadi sangat terkejut. Namun dengan cepat Edgar membuang semua pikiran buruk mengenai kakaknya. Ia berpikir bahwa ini hanyalah salah satu siasat Ellen untuk kejahatan berikutnya. Namun rasa optimisnya itu mulai berguguran satu demi satu ketika melihat sikap aneh Ellen lainnya.


Edgar mulai memergoki Ellen mulai membersihkan badan. Namun tidak ada yang membuat Edgar lebih shocked ketika tahu bahwa Ellen akan menghadiri pesta piama yang diadakan Stephanie di kediaman Knightleigh. Bahkan dengan mata kepalanya sendiri ia menyaksikan Ellen dengan asyiknya bermain bersama Stephanie dan teman – temannya. Padahal sebelumnya mereka berada dalam list orang – orang yang paling dibenci Ellen. Edgar benar – benar lemas dibuatnya. Kakak perempuan yang juga teman dalam melakukan semua kejahatannnya selama ini telah hilang bahkan kini berbalik menjadi musuh. Pengkianatan Ellen benar – benar keterlaluan.


Dari keempat seri Si Kembar Nakal, saya lebih suka menyebutnya Kembar Beracun, buku ini memberi sesuatu berbeda. Saya benar- benar menyukai perubahan yang terjadi ada diri Ellen. Bahkan perubahan pada alisnya yang selama ini runcing. Apalagi melihat Edgar yang menjadi nelangsa karenanya. Bukan hal yang sering terjadi dalam keidupan mereka. Walau semua itu tak berlangsung lama. Sedih rasanya melihat rencana untuk merombak rumah bobrok itu gagal.


Misteri demi Misteri dari buku sebelumnya juga mulai terungkap di buku ini. Namun tetap saja ada hal – hal yang masih belum bisa dipecahkan oleh kembar beracun ini.Tak sabar rasanya membaca High Wire, kisah mereka berikutnya. Tentu saja dengan kenakalan – kenakalan baru.

Review: Dracula - Bram Stoker



Vampir, siapa yang tidak mengenal sosok misterius sekaligus mengerikan ini. Wajah dengan seringai kejam dan buas .Kehidupannya yang abadi. Taringnya yang tajam yang setiap saat mengincar darah segar para korbannya dengan meninggalkan luka berupa dua lubang kecil sebagai tanda bahwa ia pernah ada di sana. Belum lagi kekuatannya yang tak terkalahkan kecuali dengan sebuah pancang kayu, salib, bawang putih dan peluru perak.

Di luar sana mungkin terdapat beragam kisah makluk penghisap darah yang ditulisakan menjadi sebuah buku. Namun bagi seorang kutu buku, saya yakin kisah Dracula milik Bram Stoker yang diterbitkan tahun 1897 adalah salah satu yang paling terkenal. Namun walau telah mendengar nama besarnya, dan memiliki bukunya pertengah tahun 2007, saya baru menyentuh lembaran demi lembarannya di awal tahun 2009 ini.

Sampul yang gelap dan suram seakan ingin meneriakkan kepada semua orang bahwa setiap catatan dan surat –surat didalamnya yang membentuk cerita tentang Count Drakula ini sama suramnya.

Kisahnya pun ternyata berasal dari kumpulan catatan – catatann pribadi, surat, telegram bahkan potongan – potongan artikel yang saling terkait dan membentuk satu cerita tragis.

Catatan pertama berasal dari seorang pengacara, Jonathan Harker, yang diutus untuk membantu Count Dracula untuk beberapa urusan di purinya di Transylvania. Melalui catatannya, sosok dingin, kejam, bengis dan licik Count Dracula tergambar dengan jelas. Bagaimana ia nyaris dibuat gila oleh pria yang memiliki puri yang tidak kalah mengerikan. Siapa pun pasti akan merasakan hal yang sama jika dijadikan tawanan rumah oleh pria yang nyaris tak dikenalnya ini, tanpa tahu maksud dan tujuannya. Apalagi nyaris mati di tangan tiga wanita yang sama culasnya dengan Count Dracula. Untung saja, sata itu nyawa Mr Harker tidak ditakdirkan untuk berakhir di tangan kawanan penghisap darah itu. Walaupun untuk lepas dari rasa takut dan trauma atas semua

Satu hal penting dari catatan – catatan itu adalah saat ia dirundung rasa putus asa mencari jalan keluar dari puri , Mr Harker sempat masuk ke sebuah ruangan yang berisi banyak peti. Di salah satu peti itu ia mendapati Count berbaring dengan tenangnya.

Cerita kemudian beralih pada catatan seorang wanita bernama Mina Murray, yang tidak lain adalah tunangan Jonatan Harker. Di dalamnya terdapat sebuah potongan artikel surat kabar yang menuliskan berita mengenai kejadian mengerikan yang menimpa seluruh awak Kapal Demeter, sebuah kapal Russia, yang berlabuh di pelabuhan Whitby, Inggris. Tak satupun yang selamat. Yang ada hanyalah seekor anjing yang melompat ke darat ketika kapal itu kandas. Sayangnya anjing iutpun menghilang begitu saja. Ia tak ditemukan di sudut mana pun.

Dari catatan terakhir sang nahkoda kapal yaang ditemukan dalam botol, seorang anak buah kapal melihat ada seorang pria asing yang tinggi, kurus dan pucat pasi. Sayangnya tidak ada keterangan lebih lanjut mengenai pria asing itu. kini yang tersisa adalah peti – peti yang berisi tanah liat yang harus di antarkan ke suatu alamat. Tidak salah lagi, itu adalah peti yang sama yang ditemukan Mr Harker di puri suram. Namun tentu saja tak seorang pun dari para pengangkut itu yang mengetahuinya. Tugas mereka hanyalah mengantar semua barang – barang itu sampai ke tujuan. Dari catatan – catatan itu ternyata tak hanya menyebrang melalui kapal laut, ada beberapa dari peti yang juga di kirim melalui kereta api dan ditujukan ke alamat yang berbeda.

Tak lama berselang, kejadian aneh pun menimpa sahabat dekat Mina, Lucy Westerna. Suatu malam, untuk kesekian kalinya Mina tidak menemukan Lucy di tempat tidurnya. Mina yang tahu bahwa Lucy suka tidur berjalan pun bergegas keluar rumah, setelah yakin bahwa sahabtnya itu tak berada di ruangan mana pun di rumah. Beruntung Lucy di temukan masih bernafas walau kondisi tubuhnya sangat lemah.

Sayangnya Mina tak dapat terus menemani Lucy. Karena ia sendir harus menemani Mr Harker yang kondisinya tidak kalah menggenaskan. Sehingga keterangan lebih mengenai keadaan Lucy kini beralih ke catatan pribadi milik Dr John Seward, yang tidak lain adalah kerabat dari Arthur Holmwood yang merupakan tunangan Lucy. Di bawah penanganan sang dokter keadaan Lucy ternyata tak lebih baik. Ia tak benar- benar yakin apa penyakit yang bersarang di tubuh Lucy. Sehingga Dr Seward pun meminta bantuan Profesor Van Helsing dari Amsterdam, seorang yang tau banyak tentang penyakit tersembunyi ,yang juga seorang ahli filsafat dan metafisika. Sementara itu keadaan Lucy semakin buruk.

Di tangan Van Helsing, ternyata keadaan Lucy juga tak kunjung membaik. Transfusi yang dilakukan beberapa kali ternyata tak juga membantu. Setelah transfusi dilakukan, Lucy hanya bisa bertahan sejenak sebelum akhirnya kembali lemah. Penelitian demi penelitian juga tak mengarah pada satu jawaban. Semua akhirnya berakhir, ketika suatu malam rumah kamar Lucy diserang serigala. Lucy dan Ibunya ditemukan tewas.

Tak lama setelah pemakaman Lucy, kota mulai digemparkan dengan berita hilangnya anak – anak kecil. Dari beberapa anak yang dapat ditemukan kembali, mereka berkata penculiknya adalah setan wanita yang berpakaian hitam. Tak hanya itu, semua anak yang diculik mendapat bekas luka yang sama di leher mereka berupa dua lubang kecil.

Dari hasil penyelidikan yang dilakukan, Van Helsing tiba ada satu satu kesimpulan yang membuat semua terkejut. Lucy telah menjadi vampir. Dari pertemuannya dengan Mina, kesimpulan baru pun muncul. Ia kini tahu bahwa ada makhluk – makhluk kegelapan lainnya yang sedang mengintai kota London. Makhluk yang tidak segan – segan merusak orang yang tak bernoda dan menghancurkan mereka yang tak berdaya. Yang datang dalam setiap mimpi buruk dan tentu saja mengisap semua darah segar untuk mempertahankan kehidupan abadinya.

Dari pertemuan demi pertemuan, Vn Helsing di temani Dr John Seward, Mr Holmwood yang kini bergelar Lord Godalming, Quency Morrif, Jonathan Harker dan istrinya Mina Harker, bertekad untuk memburu dan menghancurkan kejahatan Count Dracula. Mereka tahu keputusan mereka ini sangat berbahaya. Karena setiap saat nyawa mereka bisa melayang. Namun tekad mereka telah bulat. Makhluk penghisap darah itu harus dimusnahkan secepat mungkin sebelum korban – korban berikutnya berjatuhan.

Buku klasik yang sangat terkenal ini, setidaknya di luar sana, akhirnya dengan susah payah bisa saya selesaikan. Tak hanya karena harus bertahan di lambatnya alur, namun juga kalimat demi kalimat yang dilontarkan oleh setiap tokoh yang kadang sangat bertele- tele. Apalagi di bagian awal. Untung saja di pertengahan, cerita ini mulai menarik.

Dari sisi Count Dracula sendiri, walau di bagian awal dan pertengahan saya melihatnya sebagai sosok yang mengerikan,apalagi melihat banyaknya korban yang berjatuhan, namun dibagian akhir ternyata sangat mengecewakan. Ia terkesan sangat mudah dimusnahkan. Bahkan tak ada perlawanan sama sekali. Image Count Dracula yang kuat tiba – tiba menguap begitu saja

Satu hal lagi yang janggal dari buku ini adalah masalah transfusi darah yang dilakukan oeh Van Helsing. Dengan mudahnya ia melakukan hal tersebut. Padahal semua juga tahu bahwa transfusi darah tidak dapat dilakukan begitu saja. Apa mungkin karena saat Bram Stoker menuliskan kisah ini, ilmu kedokteran belum sampai ke masalah tersebut. Entahlah.

Terlepas dari semua hal – hal di atas, rasanya menyenangkan bisa menuntaskan buku ini. setidaknya saja jadi tahu bahwa sosok Van Helsing yang selama ini saya pikir punya kisah tersendiri, ternyata adalah tokoh penting di buku Dracula. Tak hanya itu buku ini juga setidaknya jadi penghantar bagi saya untuk melanjutkan petualangan di The Historian, buku dengan genre yang sama. walau di sana, makhluk kegelapannya jauh lebih mengerikan.

Dracula
Penulis: Bram Stoker
Penerjemah: Ny. Suwarni A.S
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, Mei 2007
Tebal: 528 hlm

#SS2014: The Riddle

Here we go again~ Setelah dua tahun berturut-turut dapat buku terjemahan, tahun ini aku dapat buku dari penulis Indonesia. Ud...