Friday, 23 December 2011

Review: Presiden Prawiranegara - Akmal Nasery Basral


19 Desember 1948. Agresi Militer II Belanda terhadap Ibu Kota Yogyakarta menyebabkan Presiden Sukarno ditangkap. Wakil Presiden Mohammad Hatta yang cemas dengan kondisi itu segera mengirimkan tlegram kepada Menteri Kemakmuran RI, Syafrudin Prawiranegara, yang sedang berada di Bukittinggi untuk membentuk Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI).

Ternyata benar, tak lama kemudian Sukarno-Hatta pun ditangkap Belanda, mereka diasingkan ke Bangka. Pemerintahan resmi lumpuh. Di sebuah dangau kecil yang belakangan dikenal sebagai "Dangau Yaya", Syafruddin mengumumkan berdirinya PDRI, pada Rabu 22 Desember 1948.

Dari sudut pandang seorang pemuda pengikutnya, Kamil Koto, mengalirlah kisah Presiden Syafruddin Prawiranegara, yang selama 207 hari nyaris melanjutkan kemudi kapal besar bernama Indonesia yang sedang oleng, dan nyaris karam. Sebuah perjuangan yang mungkin terlupakan, tetapi sangat krusial dalam memastikan keberlangsungan Indonesia.
(Goodreads)
 ~~~

Presiden Prawiranegara, dua kata yang sangat mengelitik keingintahuan saya.  Bagaimana tidak, dari apa yang saya pelajari di bangku sekolah, urutan Presiden sejak kemerdekaan sampai hari ini, nama Prawiranegara tidak pernah tercatat.  Inilah yang menjadi alasan mengapa bulan Agustus kemarin saya memilih buku ini sebagai bahan bacaan.

Nama Akmal Nasery Basral yang tertulis jelas di sampul buku, juga sangat berpengaruh dalam pemilihan buku ini.  Saya sangat penasaran bagaimana cara sang penulis, yang pernah membuat saya berdecak kagum beberapa tahun lalu saat membaca Imperia, meramu semua fakta dan  dan sedikit rekaan cerita dan kemudian menyungguhkannya dalam bentuk sebuah novel sejarah. Dan sekali lagi, kepiawaiannya merajut kata-kata terbukti di buku ini. Buku yang membuka mata saya akan sebuah peristiwa yang tidak dijelaskan secara gamblang di buku sejarah yang saya pelajari selama sekolah.

Presiden Prawiranegara. Kalau tidak membacanya, saya tidak akan pernah tahu siapa Syafruddin Prawiranegara. Sebagai seseorang yang dulu menempatkan Sejarah sebagai salah satu pelajaran favorit, buku ini membuat saya malu. Apa yang saya pelajari tentang Agresi Militer II Belanda di sekolah dulu tidak bersisa kecuali tanggal dan tempat terjadinya insiden. Saya sama sekai tidak ingat keberadaan PDRI. Nama Syafruddin Prawiranegara pun tidak melekat di benak. Padahal pemimpin PDRI memiliki banyak peranan penting baik sebelum maupun sesudah kemerdekaan.

Menelusuri bab demi bab buku ini , saya seperti kembali duduk di kelas sejarah. Semua penuturan sang narator, Kamil Koto, mengingatkan pada apa-apa yang nyaris saya lupakan. Tidak hanya apa yang sesungguhnya terjadi saat serangan mendadak tersebut, tapi juga sampai pada dampak yang ditimbulkan. Peristiwa yang terjadi Saya pun diingatkan lagi bagaimana sampai bangsa ini terlibat perundingan demi perundingan. Yang tidak kalah penting adalah pengenalan lebih dalam tentang sosok Syafruddin Prawiranegara, sang pemimpin PDRI.

Satu hal yang saya sayangkan, buku ini tidak menjelaskan dengan detail bagaimana proses penyerahan kembali kekuasaan dari PDRI. Rasanya tidak imbang. Karena di bagian awal, dipaparkan dengan jelas bagaimana kondisi pemerintahan saat agresi terjadi sampai pembentukan PDRI di Bukittinggi.

Yang membuat miris adalah ketika membaca fakta tentang bagaimana kehidupan Syafruddin Prawiranegara di pemerintahan yang baru. Sedih rasanya ketika mengetahui semua yang dialami oleh tokoh yang telah berjuang mempertahankan dan menyelamatkan Republik yang saat itu berada di ujung tanduk.

Saya berharap di tahun-tahun mendatang, akan lebih banyak buku-buku seperti ini. Sehingga genre fiksi sejarah tidak hanya didominasi oleh buku-buku terjemahan.

Cover
Warna dan desain sampul bukan dua hal yang membuat saya memilih buku ini.


Judul: Presiden Prawiranegara; Kisah 207 Hari Syafruddin Prawiranegara Memimpin Indonesia
Penulis: Akmal Nasery Basral
Penerbit: Mizan Pustaka
Cetakan: I, Maret 2011
Tebal: 370 halaman

Thursday, 22 December 2011

Review: Please Look After Mom - Kyung Sook Shin


Sepasang suami-istri berangkat ke kota untuk mengunjungi anak-anak mereka yang telah dewasa. Sang suami bergegas naik ke gerbong kereta bawah tanah dan mengira istrinya mengikuti di belakangnya. Setelah melewati beberapa stasiun, barulah dia menyadari bahwa istrinya tak ada. Istrinya tertinggal di Stasiun Seoul.

Perempuan yang hilang itu tak kunjung ditemukan, dan keluarga yang kehilangan ibu/istri/ipar itu mesti mengatasi trauma akibat kejadian tersebut. Satu per satu mereka teringat hal-hal di masa lampau yang kini membuat mereka tersadar betapa pentingnya peran sang ibu bagi mereka; dan betapa sedikitnya mereka mengenal sosok sang ibu selama ini, perasaan-perasaannya, harapan-harapannya, dan mimpi-mimpinya.
(Goodreads)
~~~

That you don't know what you've got til it's gone.
~Counting Crows~

Tidak perlu membaca sinopsis di belakang buku untuk tahu tema apa yang diusung buku ini. Dari judul yang tertera di sampul depan, saya dengan mudah bisa menebaknya. Dan tidak perlu berpikir lama untuk membawa pulang buku ini dan menjadikannya salah satu penghuni rak buku di rumah. Yah, semua buku yang mengisahkan perjuangan dan pengorbanan seorang ibu untuk anak-anaknya seperti For One More Day yang ditulis Mitch Albom, memang selalu punya tempat khusus. Seperti halnya fantasi dan fiksi sejarah, mereka punya daya tarik tersendiri.

Park So-Nyo, wanita berusia 69 tahun, hilang. Terakhir ia terlihat di stasiun kereta Seoul. Ibu, istri sekaligus adiki ipar ini tak dapat ditemukan di mana pun. Ratusan selebaran telah dicetak dan  disebar. Beberapa orang yang mengaku telah melihat wanita paruh baya tersebut. Namun hasilnya nihil. Park So-Nyo tak juga ditemukan. Tak ada yang tahu pasti apakah mereka benar-benar melihat wanita, dengan baju warna biru, jaket putih, dan rok lipit krem, ataukah hanya mengincar imbalan yang dijanjikan.

Kesedihan membayangi setiap anggota keluarga. Satu demi satu kenangan akan sosok Park So-Nya pun berkelebat di benak mereka. Perasaan bersalah mulai menghantui dan pada akhirnya menyisakan rasa kehilangan dan penyesalan yang mendalam. Dari penggalan ingatan mereka,  sosok Park So-Nyo menjadi semakin jelas. Tidak hanya sifat dan kebiasaan namun bagaimana keinginan dan mimpinya terungkap dengan jelas.

Dari Chi-hon, Hyong-chol dan anak perempuan yang tak disebut namanya, Park So-Nyo adalah ibu yang kuat dan tak pernah mengenal kata lelah.  Pekerjaan rumah yang seakan tak ada habisnya tidak membuatnya mengeluh. Dari dua bab pertama, tergambar dengan jelas betapa besar kasih sayang yang diberikan Park So-Nyo kepada semua anak-anaknya. Bahkan ketika mereka semua telah meninggalkan rumah. Perhatian yang diberikan sama sekali tidak berkurang. Suami, kakak dan adik ipar pun mendapatkan hal yang sama walau dengan cara yang berbeda. Seakan tak peduli apa yang telah dan tengah terjadi. 

Dari semua potongan kisah itu, bagian yang paling saya sukai adalah bagian yang menceritakan bagaimana kedekatan Park So-Nyo dengan adik ipar yang seakan dianggap sebagai anaknya sendiri. Bab yang menceritakan sisi lain dari Park So-Nyo yang tidak mengejutkan suami dan anak-anaknya, namun saya sebagai pembaca,  juga menjadi salah satu bagian yang terbaik dari buku ini.

Awalnya saya sempat bingung dari sudut pandang siapa buku ini bercerita. Terutama di bab satu dan dua. Namun ketika beralih ke bab tiga dan seterusnya, semakin jelas siapa sang narator. Salut atas kepiawaian Kyung Sook Shin, sang penulis. Tidak hanya cara ia menyusun  semua cerita, tapi juga bagaimana menciptakan dan menghidupkan karakter demi karakter dan yang paling penting adalah ia mampu menyisipkan emosi demi emosi di setiap babnya. Walau telah menyelesaikan buku ini beberapa hari yang lalu, buku ini masih menyisakan banyak kesan.  Saya masih ingat bagaimana kecemasan dan keputusaaan Hyong-chol ataupun rasa bersalah Chi-hon. Untuk sebuah buku fiksi - drama keluarga, buku ini benar-benar menguras emosi.

Tidak perlu khawatir untuk masalah terjemahan. Saya sama sekali tidak merasa kesulitan untuk memahami setiap kalimat. Kalau buku ini bebas typo, pasti akan  lebih menyenangkan membacanya.

Cover
Di Goodreads, saya menemukan beragam sampul. Desain cover yang dipilih pihak Gramedia tidak kalah dengan yang diterbitkan di negara-negara lain. Namun dari semua cover yang ada, saya paling suka cover yang diterbitkan di China.




5/5

Judul Indonesia: Ibu Tercinta
Penulis: Kyung Sook Shin
Penerjemah: Tanti Lesmana
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, September 2011
Tebal: 296 hlm

Wednesday, 21 December 2011

Guest Post: "Make It Or Break It?" by Kelly York

In my writing folder on my computer, I have quite the collection of folders titled "MS - (working title here).” Some of these are nothing more than text documents of ideas. Random character names, notes on world settings, character relationships, or pictures. Some are plots with no characters attached. Some are, in fact, actual stories! They have a beginning! They have action and development!

And I'll probably never touch them again.

I hate saying "I'm abandoning this idea," because I usually don't abandon something entirely. More often than not I abandon the plot, but I bring the characters with me and reuse them elsewhere. (In fact, I've been etching out a story in my head for some time involving two characters. It’s entirely different from the original story and plot I started writing for them. Not even the same time period/setting/genre.)


This probably has to do with the fact that I'm very character-oriented. Plot and stories aren't the easy or fun part for me: the characters are. I never would have finished writing HUSHED if it weren't for the fact that I adored Archer, loved Evan, and loved to hate Vivian. I have to love my characters on some level or nothing will get done.

I've also noticed a trend: I can start a new story and be on a roll with it until I hit around 10,000 words. The 10k mark seems to be my 'make it or break it' line. If I stop there, I'm never going back to that story. If I can move past it, upward to 20,000 words, I'm going to finish it. (I do not have a single ‘abandoned’ MS in those folders over 10k.)

Currently I have not one, but two WIPs both over 10k. One is over 20k, and the other is nearing that mark.

Do any of you have a collection of unfinished stories you can't bring yourself to just...delete? Do you reuse and recycle bits and pieces from old stories no one will ever see into new ones, or do you have to start completely fresh every time? And what is your make-or-break point (if you have one)?

~~~

Hushed - by Kelley York
Title: Hushed
Author: Kelley York
Genre: YA Thriller
Length: Novel
Launch Date: December 2011
ePub ISBN: 978‐1‐937044‐73‐2 | Print ISBN: 978‐1‐937044‐74‐9

Published December 6th 2011 by Entangled Publishing 



He’s saved her. He’s loved her. He’s killed for her.

Eighteen-year-old Archer couldn’t protect his best friend, Vivian, from what happened when they were kids, so he’s never stopped trying to protect her from everything else. It doesn’t matter that Vivian only uses him when hopping from one toxic relationship to another—Archer is always there, waiting to be noticed.

Then along comes Evan, the only person who’s ever cared about Archer without a single string attached. The harder he falls for Evan, the more Archer sees Vivian for the manipulative hot-mess she really is.

But Viv has her hooks in deep, and when she finds out about the murders Archer’s committed and his relationship with Evan, she threatens to turn him in if she doesn’t get what she wants… And what she wants is Evan’s death, and for Archer to forfeit his last chance at redemption.



Grab the book at Amazon or  Barnes & Nobel

~~~

About the Author

Kelley was born and raised in central California, where she sRll resides with her lovely
wife, daughter, and an abundance of pets. (Although she does fantasize about moving
across the globe to Ireland.) She has a fascinaRon with bells, adores all things furry – be
them squeaky, barky or meow‐y – is a lover of video games, manga and anime, and likes to pretend she’s a decent photographer. Her life goal is to find a real unicorn. Or maybe
a mermaid.
Within young adult, she enjoys wriRng and reading a variety of genres from
contemporary with a unique twist, psychological thrillers, paranormal/urban fantasy
and horror. She loves stories where character development takes center stage.





Thursday, 15 December 2011

Review: The Graveyard Book by Neil Gaiman

After the grisly murder of his entire family, a toddler wanders into a graveyard where the ghosts and other supernatural residents agree to raise him as one of their own.

Nobody Owens, known to his friends as Bod, is a normal boy. He would be completely normal if he didn't live in a sprawling graveyard, being raised and educated by ghosts, with a solitary guardian who belongs to neither the world of the living nor of the dead. There are dangers and adventures in the graveyard for a boy. But if Bod leaves the graveyard, then he will come under attack from the man Jack—who has already killed Bod's family . . .

Beloved master storyteller Neil Gaiman returns with a luminous new novel for the audience that embraced his New York Times bestselling modern classic Coraline. Magical, terrifying, and filled with breathtaking adventures, The Graveyard Book is sure to enthrall readers of all ages. (Goodreads)

~~~
My Thought
The Graveyard Book brought me to Nobody Owens. Yeah, he got a weird name. But no need to wonder why. Graveyard was the place where he grew up and lived since he was toddler. Nobody Owens, Bod, was also raised by the dead. He even had Silas, a guardian. Bod almost had no friend but them. Since he was young, he has been warned for many things, from the ghouls till the world outside. Bod was fined with all the rules. Afterwards, the curiosity inside him was getting bigger. There was nothing that could stop him even his guardian. He would only quit till he got the answer why. Bod did not understand that her foster parents, guardian, and teachers were trying to protect him. He just did not get it till he faced the man Jack, the fiercest man ever.

I was excited and worried in a same time when The Graveyard Book was in my hand. First, I had been waiting this book for so long. Second, I have never read Neil Gaiman's book in English. Some of his books that I have in my shelves had been translated. Reading some of them (The Anansi Boys and Stardust) made me think that Gaiman has his own writing style that was not easy to understand. I was not sure if I could get what he wrote. You have no idea, how relief I was when I found out that all the words were not that confusing as I thought before.

Bod, the main character in this book, would never become my favorite, if the other characters were not there. Let's say Silas, Mr and Mrs Owen, Elizabeth Hempstock, Scarlett, even the villain, the man Jack. All of them have their own way to make Bod become special. From all them, I loved the connection between Bod and Silas. I saw father and son relationship there. The chapter which involved Bod and Elizabeth Hempstock, the witch, was also a part that I adored. This chapter was also published in anthology Wizards: Magical Tales From the Masters of Modern Fantasy. Scarlett, she was also nice. She impressed me. I felt so bad when I found out what happened between Bod and her. I wish something better happened between them.

Every chapter has its own magnet. The development of the story and characters were also written very well. It was nice to see how Bod grew older.  There were mixed up feelings and it started even when I was in first chapter. The ending made me feel little bit lost and sad.  I wish Neil would write another ending for Bod.

The Graveyard Book makes me want to read more of Neil's works. I think I am going to read this book again next year.

Cover and Illustration
I love all the illustration inside. I spent more time to stare and look at them before I turn to the next page.  It is as good as what he put in Coraline. I wish all of Neil Gaiman's books were completed with Dave McKean's scratches. But it seems that they are only for children's books.

4/5

Author: Neil Gaiman
Illustrator: Dave McKean
Reading level: Ages 10 and up
Paperback: 336 pages
Publisher: HarperCollins; Reprint edition (September 28, 2010)
Language: English
ISBN-10: 0060530944
ISBN-13: 978-0060530945
Product Dimensions: 7.6 x 5.3 x 1 inches

Monday, 12 December 2011

Review: Water for Elephants by Sara Gruen

Though he may not speak of them, the memories still dwell inside Jacob Jankowski's ninety-something-year-old mind. Memories of himself as a young man, tossed by fate onto a rickety train that was home to the Benzini Brothers Most Spectacular Show on Earth. Memories of a world filled with freaks and clowns, with wonder and pain and anger and passion; a world with its own narrow, irrational rules, its own way of life, and its own way of death. The world of the circus: to Jacob it was both salvation and a living hell.

Jacob was there because his luck had run out - orphaned and penniless, he had no direction until he landed on this locomotive 'ship of fools'. It was the early part of the Great Depression, and everyone in this third-rate circus was lucky to have any job at all. Marlena, the star of the equestrian act, was there because she fell in love with the wrong man, a handsome circus boss with a wide mean streak. And Rosie the elephant was there because she was the great gray hope, the new act that was going to be the salvation of the circus; the only problem was, Rosie didn't have an act - in fact, she couldn't even follow instructions. The bond that grew among this unlikely trio was one of love and trust, and ultimately, it was their only hope for survival.(Goodreads)

~~~

My Thought
Water for Elephants was one of books in my wishlist. I was so excited when this historical fiction book finally arrived. Big thanks to Bukumoo Satu Dua Tiga. Since I saw the rating and read many good things about it, I could not wait any longer to read it on my own. Most of my friends said that Water for Elephants was one of the best book ever. Unfortunately, same words did not come out of my mouth.

To my surprise, it was not as great as I thought.
I was little bit disappointed with what I got. I think I expect too much.  There was nothing wrong with the book actually. It was well written. But It was hard for me to find the ties with the plot, setting nor the characters. All of them were flat for me.

Jacob Jankowski is the main character and narrator. In his nineties, he stayed in nursing home. He could barely remember things. But when it was about 
circus, he was able to summon it into mind with its details. Jacob was just twenty three when he left final exams in Cornell University and joined Benzini Brothers Most Spectacular Show on Earth. In this place, the new chapter of his life began.

I liked the old Jacob. He became one reason why I finished reading its last page. From all the chapters, my favorite was his part. Althought he was not a nice old man, but he got his own charm.  I liked the way he talked and communicated to Rosemary,the nurse who took care of him. I enjoyed all their chit chats. Unfortunately, there was only few of them.

About the young Jacob and other characters, there was almost no emotional bond. Although Jacob in circus was lovely and kind-hearted, but I could not get him. His relationship with Marlene was not interesting enough to hook me. The antagonist character such August and Uncle Al also did not leave any impression. Even when I have given more chances by reading it till the last pages, I felt nothing for them.

Before reading Water for Elephants, I have read some books which took circus as its setting. But through Jacob's eyes, I found many new things about circus life in the past. All those things make me wonder which one that really happened in the past and the one that was just added by Sara Gruen, the author. I was also curios about the "red-lighted" and stampede.

Cover
I am not really interested with that kind of cover. I like the color choice. 

3/5

Author: Sara Gruen
Paperback: 355 pages
Publisher: Algonquin Books (April 9, 2007)
Language: English
ISBN-10: 1565125606
ISBN-13: 978-1565125605
Product Dimensions: 8.3 x 5.6 x 1 inches


Wednesday, 30 November 2011

Review: Sarah's Key - Tatiana De Rosnay

 
" PARIS, JULI 1942: Sarah, seorang gadis berumur sepuluh tahun, ditangkap bersama orangtuanya oleh polisi Prancis yang menggeledah rumah demi rumah untuk menangkapi keluarga-keluarga Yahudi di tengah malam buta.

Berusaha mati-matian untuk melindungi adik lelakinya, Sarah menguncinya dalam lemari di kamar tidur--tempat persembunyian rahasia mereka--dan berjanji akan kembali begitu mereka dibebaskan.

ENAM PULUH TAHUN KEMUDIAN: Kisah Sarah terjalin dengan kisah Julia Jarmond, seorang wartawan Amerika yang menyelidiki peristiwa penangkapan itu.

Dalam penelitiannya, Julia tersandung pada serangkaian jejak rahasia yang menghubungkannya dengan Sarah, dan mempertanyakan masa depan romantisnya sendiri.
(Goodreads)
~~~

Zakhor. Altichkah

Paris, dini hari, 16 Juli 1942, lebih dari tiga belas ribu lelaki, perempuan dan anak-anak Yahudi ditangkap. Oleh polisi Prancis di bawah perintah Gestapo Jerman, mereka dipaksa keluar dari rumah. Banyak dari mereka yang langsung dikirim ke kamp Drancy, sementara orang tua yang memiliki anak dikirim ke Vel'd'Hiv, sebuah stadion tertutup yang dipakai untuk lomba balap sepeda. Tak ada fasilitas toilet di sana. Selama enam hari lamanya mereka dikurung dalam ruangan yang panas, nyaris tanpa makanan. Semua itu hanyalah awal dari perjalanan panjang yang harus mereka lalui, sebelum semuanya berakhir di Auschwitz.

Berangkat dari sejarah di atas, Tatiana De Rosnay menulis buku ini. Buku yang mampu menguras banyak emosi hanya dalam beberapa lembar pertama.

Senang rasanya saat mengetahui buku ini telah diterjemahkan oleh Elexmedia. Walau sempat terbersit sedikit rasa ragu dengan hasil terjemahannya. Mengingat novel terbitan Elex yang terakhir saya baca sukses membuat kepala saya pusing dengan permainan kata yang tertulis di dalamnya. Namun semua keraguan saya menguap ketika membaca kata demi kata di bab-bab awal.

Sarah's Key mengantarkan saya pada gadis kecil bernama Sarah dan seorang wartawan Amerika, Julia Jarmond. Keduanya terpisah oleh waktu, namun peringatan ke enam puluh tahun Vel' d' Hiv, sebuah  apartemen dan rahasia keluarga yang disimpan rapat selama puluhan tahun menghubungkan keduanya.

Hanya dalam waktu singkat, Sarah dan Julia mampu menarik perhatian dan rasa simpati dengan cara yang berbeda. Tidak butuh waktu lama untuk paham apa yang terlintas di benak Sarah dan semua yang ia rasakan. Ketakutan dan kalut yang menyelimuti Sarah kecil di hari pengumpulan. Bagaimana ketika ia akhirnya mengerti arti bintang kuning yang selalu ia kenakan. Belum lagi kekhawatiran yang terus menghantuinya setelah meninggalkan apartemen. Yang selanjutnya berubah menjadi rasa bersalah berkepanjangan yang ditanggungnya seumur hidup. Sehingga tidak ada keterkejutan ketika menemukan apa yang terjadi selanjutnya.

Seperti halnya Sarah, bukan hal yang sulit untuk memahami Julia. Saya mengerti benar semua rasa penasaran akan peristiwa tragis yang terjadi di Paris puluhan tahun lalu, begitupula dengan rahasia yang selama ini ditutup rapat oleh keluarga suaminya. Bahkan ketika ia akhirnya terobsesi dengan Sarah.

Buku ini awalnya ditulis dari dua sudut pandang. Kisah Sarah dan Julia ditulis dalam bab terpisah secara bergantian. Kegetiran selalu muncul setiap kali membaca bab yang menceritakan Sarah. Hal itu juga menyebabkan saya lebih memilih bab-bab milik sang wartawan. Walau demikian, keduanya tetap membuat saya penasaran. Bagaimana nasib Sarah selanjutnya, bagaimana dengan hasil pencarian Julia ataupun penyelesaian masalah dengan suami dan anak-anaknya. Yang jelas kedua mampu membuat mencampur aduk emosi saya. 



Saya tidak mendapatkan masalah dengan hasil terjemahannya. Terima kasih untuk sang alih bahasa. Sayangnya masih terdapat typo di beberapa tempat. Mengenai ending, saya menyukai cara Tatianan de Rosnay, sang penulis, mengakhir semuanya.

Sarah's Key meninggalkan kesan yang sangat mendalam dan sekali lagi membuka mata saya akan fakta tragis yang menimpa ribuan keluarga Yahudi di masa lalu. Saya sempat malu dibuatnya. Karena kalau bukan buku ini, saya tidak akan pernah tahu bahwa kota Paris pun tidak luput dari cengkraman para Gestapo. Untuk kesekian kalinya, rasa iba dan sedih menyerubungi. Namun buku ini tidak serta merta menutup mata saya untuk apa yang terjadi di Palestina. Zakhor. Altichkah. Ingat. Jangan pernah lupa.

Cover
Saya lebih suka sampul aslinya.

5/5

Sarah's Key
Penulis: Tatiana De Rosnay
Penerjemah: Lily Endang Joelani
Penerbit: PT Elex Media Komputindo
Cetakan: I, 2011


Buku yang pertama kali terbit tahun 2006 ini ternyata telah diadaptasi ke layar lebar tahun 2010. Jadi penasaran, pengen nonton. >.<



Source: Wikipedia

Monday, 7 November 2011

Review: Size 12 Is Not Fat - Meg Cabot

Heather Wells, mantan penyanyi pop idola remaja, telah sampai pada titik jenuh: bosan menyanyikan lirik lagu ciptaan orang lain, tapi produsernya tidak mau menandatangani kontrak baru untuk lagu-lagu ciptaannya sendiri. Keadaannya diperparah dengan ayahnya dipenjara, ibunya kabur ke Buenos Aires bersama seluruh isi tabungan putri satu-satunya itu, dan Heather tampaknya tidak bisa berhenti membenamkan diri dalam kesedihannya dengan melahap cokelat KitKat. Puncaknya, tunangannya Jordan Cartwright telah menggesernya---dari tangga lagu maupun dari ranjangnya---dan menggantikannya dengan bintang pop nomor satu terbaru Amerika, Tania Trace.

Heather lalu mendapatkan pekerjaan di asrama
New York College
---tak jauh dari tempat tinggal sementaranya di rumah Copper---temannya sekaligus kakak mantan tunangannya yang sangat baik kepadanya. Kelihatannya keadaan mulai membaik... setidaknya sampai gadis-gadis di asrama tewas satu per satu dalam waktu berdekatan. Selancar lift merupakan penjelasan resmi dari administrasi kampus mengenai penyebab kematian para gadis itu, tapi Heather punya kecurigaan lain. Dengan bantuan setengah hati dari Cooper, Heather berusaha menyelidiki kematian-kematian tersebut, tanpa menyadari itu bukan hanya sekadar untuk menjawab rasa ingin tahunya, melainkan mungkin akan menjadi pekerjaannya seumur hidup.~Sinopsis dari Goodreads~

~~~

Ketika pertama kali melihatnya di deretan buku baru, saya sungguh tak menyangka karya Meg Cabot ini bercerita tentang misteri pembunuhan. Dari judulnya, saya mengira buku ini akan berkisah tentang kehidupan seorang wanita yang bermasalah dengan berat badan. Sempat terbersit pertanyaan segemuk apa wanita yang berukuran 12, sebelum akhirnya mendapatkan jawabannya melalui mesin pencari.

Heather Wells, wanita yang menjadi karakter utama di buku ini. Butuh waktu untuk mengumpulkan keping demi keping yang berkaitan dengan dirinya dan menyusunnya menjadi sosok yang utuh. Dari perubahan postur tubuh karena kebiasaan makan yang tidak teratur dan rambutnya yang pirang. Sampai  akhirnya pilihan jatuh pada sosok Britney Spears. Sehingga tidak ada kesulitan untuk membayangkan masa lalu Heathers sebagai penyanyi pop yang menjadi idola banyak gadis remaja.

Banyak hal yang membuat saya menyukai Heather. Bukan hanya caranya menuturkan cerita yang kadang membuat saya tergelak, tetapi juga karena Heather adalah sosok wanita yang kuat. Ia tak pernah benar-benar peduli akan perkataan orang lain akan masa lalunya. Bahkan ketika mereka menjadikannya lelucon. Ia memang tak menyangkal, banyak bagian dari masa lalunya yang tidak menyenangkan, namun hal tersebut tidak serta merta membuatnya dendam. Bahkan di luar dugaan, ia memaafkan ibu kandung yang kabur meninggalkannya begitu saja dengan semua uang tabungan yang dihasilkannnya sebagai penyanyi. Meg Cabot memang tidak pernah gagal menciptakan dan membuat karakter utama yang menarik dan menjadinya benar-benar hidup. Selain Heather, saya juga menyukai Sarah dan Magda, yang menjadi rekan kerja Heather di New York College. Sangat disayangkan, tidak ada yang istimewa dari karakter Cooper ataupun Jordan.

Berbicara mengenai dua insiden yang terjadi di asrama, saya tak dapat menahan untuk tidak mengeryitkan alis. Sebagai penggemar serial CSI dan cerita detektif, saya merasa banyak hal aneh. Pertama, tidak ditutupnya lift yang menjadi tempat kejadian perkara. Semua penghuni asrama bisa kembali menggunakan lift begitu mayat disingkirkan. Padahal dua kecelakaan yang sama terjadi dalam waktu yang berdekatan. Kedua kasus yang membuat Heather khawatir ini juga sepertinya tidak mendapat porsi penyelidikan yang lebih dari pihak kepolisian. Kemungkinan besar wawancara mendalam juga tidak dilakukan terhadap orang-orang tertentu. Bahkan ketika tidak ditemukannya alasan kuat bagi kedua mahasiswi tersebut untuk melakukan bunuh diri, sama sekali tidak ada penetapan tersangka. Lebih anehnya lagi, tim investigasi sama sekali tidak memeriksa kamar dan barang-barang korban. Saya menjadi sangar gusar karenanya. Sepertinya hal-hal demikian luput dari riset Meg Cabot. Bahkan ketika ia bermaksud untuk menulis sebuah cerita misteri yang ringan dan sederhana sekalipun.

Terlepas dari semua hal ganjil di atas, saya tetap dibuat penasaran siapa yang menjadi dalang atas dua kejadian tragis tersebut. Ini juga yang menjadi alasan mengapa saya mampu melahap buku ini hingga halaman terakhir. Menjadi sangat menyenangkan ketika menemukan sang pelaku kejahatan tidak terdapat dalam daftar tersangka beserta motif yang saya buat.

Walau tidak begitu terkesan dengan buku ini, saya akan tetap membaca Size 14 is Not Fat Either. Saya ingin tahu apakah Heather berhasil menyanyikan lagu ciptaannya sendiri.

Cover
Sampul depan menjadi salah satu alasan mengapa saya membeli buku ini.


Size 12 is not Fat
Judul Indonesia: Ukuran 12 Tidak Gemuk
Penulis: Meg Cabot
Penerjemah: Barokah Ruziati
Editor: Widi Lugina
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, Agustus 2011
Tebal: 416 hlm

#SS2014: The Riddle

Here we go again~ Setelah dua tahun berturut-turut dapat buku terjemahan, tahun ini aku dapat buku dari penulis Indonesia. Ud...