Monday, 31 October 2011

Review: Sweet Misfortune - Kevin Alan Milne

Bagi Sophie Jones, kebahagiaan sama dengan sepotong cokelat: manis, tetapi cepat sekali meleleh dan hilang. Segala macam tragedi sepertinya telah dia alami: Kehilangan orangtua, dicampakkan tunangan, dan sebagainya. Masa lalunya itu membuatnya percaya bahwa di dunia ini tidak ada kebagiaan.
Dia pun menumpahkan kesedihannya dengan menjual Misfortune Cookies - kue-kue yang menyimpan secarik pesan ketidakberuntungan di dalamnya. Kue itu laku keras, dan dia merasa senang.
Di sela-sela itu, Garrett Black, mantan tunangannya yang punya andil dalam semua penderitaannya, tiba-tiba muncul dan memohon untuk kembali padanya. Awalnya, Sophie menolak mentah-mentah. Namun, ketika Garrett terus memohon, Sophie mengajukan tantangan: Garrett harus membuktikan bahwa kebahagiaan sejati memang ada. Bila dia berhasil, Sophie akan mempertimbangkan permintaannya. Akankah Garrett berhasil? Dan dapatkah mereka kembali bersama?  ~Goodreads~
Ketika memutuskan untuk membaca Sweet Misfortune, saya tidak mengharapkan apa-apa. Mengingat genre yang diusung oleh buku ini selalu saya tempatkan sebagai pilihan terakhir. Saya membacanya tidak lebih karena buku romance adalah pilihan BBI bulan Oktober. Di luar dugaan, Sweet Misfortune memberi banyak kejutan yang tidak pernah saya harapkan akan muncul dari sebuah buku romance

Gelas Setengah Kosong

Sulit rasanya untuk menyukai karakter utama yang pesimis seperti Sophie Jones. Tidak sekali dua kali muncul keinginan untuk menutup mulut perempuan yang skeptis ini. Saya heran ketika menemukan orang-orang yang masih saja betah berada satu ruangan bersama pemilik toko cokelat yang tidak pernah kehabisan kata untuk dituliskan di atas kertas untuk kue-kue ketidakberuntungan yang dibuatnya. Butuh ratusan lembar sampai akhirnya paham bagaimana insiden-insiden di masa lalu menutup mata Sophie untuk sebuah kata, kebahagiaan. Walau hal itu tidak juga membuat saya menyukainya

Friend; one who knows all about you and still loves you anyway

Dibanding Sophie, saya lebih menyukai Evalynn, sahabat yang juga saudara angkat Sophie ini nampaknya telah terbiasa dengan pikiran dan ucapan yang negatif. Walau sempat mengernyitkan dahi untuk semua yang dilakukannya untuk Sophie, namun pada akhirnya saya mengerti. Itulah yang disebut sahabat.

Dicari: Kebahagiaan.
Hanya kebahagiaan yang bertahan lama. Bukan yang  hanya bertahan sementara.
Penggalan iklan yang dipasang Garrett inilah yang membuat saya yakin bahwa pria seperti Garrett-lah yang dibutuhkan oleh setiap wanita. Tidak butuh waktu lama untuk menyukai pria yang kembali kehidupan Sophie ini. Bukan karena kata-kata romantis yang terucap dari mulutnya, namun untuk semua hal yang dilakukan untuk menyakinkan Sophie bahwa kebahagian dalam hidup benar adanya. Setidaknya pria seperti Garrett mampu membuat wanita seperti Sophie mampu berucap "...Lelaki sepertimu hanya datang satu kali saat bulan berwarna biru" (h.164)

Some people are lucky in love. You are not one of them
Saya tak dapat menahan tawa ketika membaca kalimat di atas, yang juga tertera di sampul depan. Kata-kata semacam itulah yang ditulis Sophie dan diselipkan dalam kue-kue ketidakberuntungannya. Saya membayangkan puluhan ramalan yang ia buat setiap harinya.Namun dengan cara memandang kehidupan yang demikian sempit,  saya pikir Sophie tidak menemukan kesulitan untuk menuliskan kalimat yang sama pahitnya dengan rasa kue berlapis cokelat yang dibuatnya. Anehnya, kata-kata semacam itulah yang menjadi bagian yang saya tunggu di setiap babnya.

Tidak ada yang istimewa dari hubungan yang terjalin antara Sophie dan Garrett. Seperti buku romance lainnya, akhir kisah mereka dengan mudah bisa ditebak. Namun bagaimana sampai akhirnya hal tersebut terjadi, yang membuatkan buku ini sangat menarik. Banyak bagian yang bisa diambil sebagai pelajaran. Tidak sedikit yang membuat saya terharu. Bagi saya, Buku yang ditulis oleh Kevin Alan Milne lebih dari sekedar cerita romance.

Untuk semua penggemar buku bergenre light romance, Sweet Misfortune seharusnya ada di deretan buku kalian, bahkan ketika buku bergenre romance adalah pilihan terakhir ketika memilih sebuah bacaaan seperti yang selalu saya lakukan. Just give it a try.

Cover
Saya suka warna sampulnya. Namun saya lebih suka cover aslinya. Selain kertas ramalan, saya juga ingin melihat kue ketidakberuntungan yang dibuat Sophie. 


4/5


Sweet Misfortune
Judul Indonesia: Cinta dalam Kue Ke(tidak)beruntungan 
Penulis: Kevin Alan Milne
Penerjemah: Harisa Permatasari
Penerbit: Qanita
Cetakan: I, Juli 2011
Tebal: 456 hal


Thursday, 27 October 2011

Review Blog : It's All About Books



Tidak terasa sudah empat tahun berlalu...


Awalnya ada keraguan untuk memulai blog yang isinya review buku. Pertama,karena saat itu saya sama sekali belum terbiasa menulis resensi. Takutnya malah tidak terurus karena saya sudah punya blog pribadi. Rasa bingung pun bermunculan. Dari pemilihan template, banner, nama sampai pemilihan alamat blog. 


Namun pada akhirnya, postingan perdana pun muncul juga. Tepatnya tanggal 19 Juni. Walaupun saat itu bukan berupa review. Semuanya tak lepas dari dukungan Kobo -  BukuBukuku,  salah satu teman online pertama yang punya kecepatan membaca yang luar biasa. Oh iya, dari Kobo, saya mendapat Banner yang sampai sekarang masih saya pakai. Alamat blog ini pun atas idenya. Terima kasih, Bo.


Artemis Fowl - Incident Artic terbitan Gramedia adalah buku pertama yang saya review di blog ini. Ketika membaca ulang, postingan itu membuat saya tergelak. Penuh spoiler dan typo. Bahkan keterangan buku tidak satu pun yang  tidak saya cantumkan. Hal yang sama juga terjadi di beberapa postingan awal. Jadi gemes sendiri ngelihatnya. Ada keinginan untuk mengedit postingan-postingan itu. Namun akhirnya saya tidak melakukan perubahan apapun. Untuk sementara, saya anggap sebagai reminder untuk menulis dengan lebih baik dan teliti. 


Kalau ada waktu luang, masalah typo di postingan lama bisa sedikit demi sedikit saya edit. Tapi kalau spoiler, biarlah apa adanya. Sungguh, saya tidak bermaksud. Semuanya terjadi karena saat itu saya belum paham benar, apa esensi sebuah review buku. Lagipula, saat itu yang terbersit di pikiran saya,  menulis review supaya saya tidak lupa.  


Sebelum menerbitkan tulisan ini, saya sempat melihat posting demi postingan. Ternyata buku - buku yang saya review cukup beragam. Walau sedikit, ternyata ada beberapa buku nonfiksi. Bahkan ada beberapa buku motivasi. Ketika membaca ulang kalimat demi kalimat, saya hampir tidak percaya saya bisa menulis kalimat demi kalimat seperti itu. Ha!


Dari situ juga, saya sempat memperhatikan kalau pengunjung blog buku ini juga jumlahnya sedikit banget. Terlihat dari jumlah page view untuk setiap postingan. Apalagi komentarnya. Sedih sih. Tapi kalau ingat apa tujuan awal saya membuat blog buku ini, hal semacam itu bukan masalah besar. 


Ah iya, gaya dan bentuk penulisan dari tahun ke tahun pun terus berubah. Namun untuk postingan - postingan berikutnya, saya memutuskan untuk menyeragamkan semuanya. Baik review dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. 


Layaknya blog pribadi yang lebih dulu muncul, blog buku juga mengalami pasang surut. Semua terlihat dari jumlah postingan. Tahun 2007, saya bisa menulis sebanyak 49 review. Jumlah tersebut terus meningkat di tahun 2008. Sayangnya, tahun 2009 dan 2010, blog buku ini nyaris mati. Dalam 2 tahun itu, jumlah review yang saya tulis tidak begitu banyak. Semua itu karena saya tidak dapat membagi waktu dengan baik. Saya kebanyakan main game online. Akhirnya menulis review terasa amat berat. Yang menyedihkan, kecepatan membaca saya yang lambat menjadi makin lambat.


Untungnya di tahun 2011, terjadi sedikit perubahan. Terima kasih untuk Dela - Books of Dela. Walau nggak kenal secara pribadi, kalau bukan karena blog bukunya, saya mungkin tidak akan pernah tahu blog-blog buku milik  blogger dari Amerika, Australia, dan Jerman. Yang mengejutkan, mereka blogger buku yang aktif banget. Selain review,  mereka punya banyak jenis postingan yang membantu para penulis mempromosikan buku. Sebut saja, It's Monday, What Are You Reading?, Teaser Tuesday,Waiting on Wednesday, Trailer Tuesday, dll. Bahkan setiap minggunya ada satu postingan khusus untuk mempromosikan sebuah blog buku. Yang kulihat,  tiada hari tanpa postingan. Salut!


Perkenalan dengan blogger luar ini lah yang akhirnya membuat saya kembali melirik blog yang nyaris saya tinggalkan. Sedikit demi sedikit saya kembali menulis review. Dan untuk pertama kalinya saya membuat review dalam bahasa Inggris. 


Saya banyak belajar dari mereka. Tapi tidak akan saya bahas sekarang. Mungkin di postingan akhir tahun nanti. Satu yang pasti, mereka banyak menginspirasi saya. Karena mereka jugalah hingga terbersitlah ide yang mempertemukan saya dengan blogger- blogger buku Indonesia, yang ternyata makin banyak dan tetap konsisten mengupdate blog mereka dengan review buku yang genre sangat beragam.


Entah kapan tepatnya, yang jelas sekarang saya punya komunitas baru. Blogger Buku Indonesia namanya. Senang rasanya menemukan teman-teman baru yang punya hobi yang sama. Kalau pake hastag yang beberapa hari ini muncul di timeline, saya akan menulis #BerkatNgeblog saya ketemu banyak teman dan sahabat  baru. 




Tulisan ini untuk memperingati Hari Blogger Nasional dan sekali lagi untuk membuktikan bahwa blog bukan trend sesaat. :D


**Big Hugs to all BBI-ers | you know who you are ;)


Tuesday, 25 October 2011

Review: Girls Under Pressure - Jacqueline Wilson



Aku pusing dengan berat badanku. Tubuhku bulat berisi dan pipiku tembam. Kata orang-orang aku tidak gemuk, tetapi cermin kan tidak pernah bohong!
 Jadi kuputuskan untuk berdiet gila-gilaan. Aku keranjingan berenang dan aerobik. Coba bayangkan! Ellie-Elephant berolahraga! Namun, aku merasa diet dan olahraga saja tidak cukup. Aku butuh cara lain untuk bisa kurus dengan cepat.
 ~~~
Kalau saja mereka tidak mencantumkan nama sang penulis di sampul depan, saya tidak akan pernah tahu kalau Girls Under Pressure adalah salah satu karya Jacqueline Wilson. Karena mata saya sudah akrab dengan Ilustrasi yang dibuat Nick Sharrat. Begitu pula bentuk font yang dipilih sebagai judul buku. Buku ini sama sekali tidak menyisakan sedikit pun sentuhan yang biasanya saya temukan di semua buku Jacqueline Wilson yang telah saya baca. Di beberapa halaman awal saya merasa ada yang hilang.

Girls Under Pressure adalah buku kedua dari serial Girls. Isu yang diangkat oleh Jacqueline Wilson di buku ini adalah Anoreksia dan Bulimia, dua kelainan pola makan yang tidak jarang terjadi pada perempuan, remaja maupun dewasa.  Mereka merasa dirinya sangat gemuk sehingga memutusakan untuk diet berlebihan bahkan tidak menyentuh  makanan sama sekali. Kalaupun akhirnya mereka makan, pada akhirnya semua yang telah ditelan akan mereka paksa untuk keluar lagi. Seperti masalah-masalah serius lainnya,  masalah berat badan dan diet berlebihan ini berhasil dikemas oleh Jacqueline Wilson dalam cerita sederhana. Sehingga para pembaca terutama target pembaca  tidak akan mengalami kesulitan untuk memahami pesan yang disampaikan. Itu juga yang menjadi alasan mengapa saya tidak pernah bosan dengan buku-buku yang ditulisnya

Buku ini ditulis dari sudut pandang Ellie, seorang siswa SMP. Awalnya tidak mudah untuk membedakan Ellie dan kedua sahabatnya, Nadien dan Magda. Saya seharusnya lebih dulu membaca seri yang pertama. Sehingga tidak perlu menghabiskan lebih banyak waktu untuk masalah yang satu ini. Tidak hanya ketiga gadis remaja itu,  di bab awal saya sempat menyangka kalau Eggs, adik Ellie, sebagai binatang peliharaan keluarga mereka.Untung saja hal ini tidak berlangsung lama. Karena pada akhirnya semua karakter dipaparkan dengan jelas. Kecuali Eggs. Kalau bukan karena Wikipedia, saya akan tetap menganggap Eggs sebagai anak perempuan

Sekalipun menjadi karakter utama, Ellie tidak lantas menjadi karakter yang saya sukai. Anak perempuan yang memiliki bakat di bidang seni ini justru membuat saya kesal sejak awal. Salah satunya karena sifatnya yang keras kepala. Tak seorang pun yang dapat membuatnya yakin bahwa tak ada yang salah dari dirinya sampai satu insiden besar terjadi. Namun sifatnya itu juga yang membuat saya penasaran sampai kapan ia akan bertahan. Karena ketika saya berpikir ia telah sadar akan kekeliruannya, ternyata ia masih saja melakukan diet gila-gilaan. Terlepas dari semua itu, saya menikmati saat Ellie menghabiskan waktu bersama Nadine dan Magda ataupun saat ia  berada di kelas seni.

Mengenai karakter lain,  saya tertarik pada sosok Eggs. Sayangnya hubungan Ellie dan Eggs tidak begitu menyenangkan. Ellie kerap menganggap Eggs sebagai pengganggu kecil. Sering kali komentar-komentar adik kecilnya itu membuat Ellie merasa kesal. Namun kalimat-kalimat itulah yang membuat saya jadi ingin membaca buku ini  dalam bahasa aslinya. Oh iya, Kalau bukan dari Wikipedia, saya akan tetap berpikir kalau Eggs itu anak perempuan.

Dari Wikipedia, tahun 2003 buku-buku yang bercerita tentang kisah Ellie ini ternyata diangkat menjadi drama seri dan telah tayang dalam dua musim. Satu hal yang sangat disayangkan, sosok Ellie tidak dibuat seperti halnya di buku. Walau begitu saya tetap ingin nonton satu episode. Penasaran ingin lihat celoteh Eggs.

Cover
Tidak ada masalah dengan pilihan warna, font ataupun ilustrasi yang dipilih Atria. Ilustrasi yang ada di dalam buku pun digambarkan dengan baik. Saya tidak bisa menahan untuk tidak tertawa kecil setiap kalu melihat gambar yang dibuat oleh Ony Marga, sang ilustator,  untuk mengilustrasikan Ellie. Namun kalau boleh memilih, saya lebih suka tidak ada satu pun ciri khas yang hilang dari buku-buku karya Jacqueline Wilson.

4/5


Girls Under Pressure
Judul Indonesia: Tekanan Batin
Penulis: Jacqueline Wilson
Penerbit: Atria
Tebal: 271 hal
Cetakan: I, Oktober 2009



Friday, 30 September 2011

Review: Blue Bloods (Darah Biru) - Melissa de la Cruz


Spoiler Alert!!!

Blue Bloods, buku ini diceritakan dari sudut pandang Madelaine “Mimi Force, Bliss Llewellyn, dan Schuyler Van Alen. Mereka membawa saya menulusuri beberapa tempat penting di Manhattan, New York. Dari The Bank, sebuah gedung tua yang disulap menjadi klab malam sampa Duchesne, sebuah sekolah swasta tempat mereka belajar. Sejarah keluarga pun tak lupa mereka ungkapkan. Sehingga tidak butuh waktu lama untuk mengenal tiganya.

Mimi Force, seorang gadis enam belas tahun yang sangat populer.. Ketenarannya tidak hanya di sekolah. Bagi para wartawan New York, wajahnya yang cantik dan menarik tidak lagi asing. Ayah dan ibunya,  Charles Force dan Trinity Burden,  dua tokoh penting dalam dunia media dan masyarakat kelas atas di New York, membuat hal itu menjadi mungkin. Kepopuleran itu juga membuat hampir semua siswa perempuan di Duchesne ingin menjadi dayang-dayangnya. Seakan tak pernah ada masalah dengan sikapnya yang angkuh.

Bliss sendiri adalah murid pindahan. Seperti halnya Mimi, ayah Bliss juga memiliki pengaruh penting. Keadaan ini pula yang membuat ia mengenal Mimi  dan menjadi bagian dari kehidupannya yang glamor. Sayangnya itu tidak membuatnya betah.  Bahkan setelah berbulan-bulan sejak kepindahannya ke Duchesne, ia masih tetap saja tidak menyukai kehidupannya yang baru.

Berbeda dengan Mimi dan Bliss, Schuyler terlahir dari keluarga yang lebih sederhana. Walaupun memiliki sejarah keluarga yang panjang dan penting di masa lalu, ternyata itu tak cukup. Ia tetap saja menjadi kalangan yang tersisih di Duchesne. Tapi itu tak membuatnya kecil hati. Schuyler tidak kesulitan menjalani kehidupannya. Lagipula ia masih memiliki Oliver, sahabatnya sejak kecil. Dan itu sudah lebih dari cukup.

Walau terlahir dari latar belakang yang berbeda, Darah Biru menjadi benang merah yang menghubungkan ketiganya. Darah Biru adalah istilah yang digunakan para vampir untuk menyebut diri mereka. Sebuah pertemuan Komite mengungkapkan semua hal tersebut. Dari pertemuan untuk kalangan terbatas itu semua terungkap. Tidak seperti Schuyler dan Bliss yang baru mengetahui fakta tersebut, Mimi telah mengetahuinya setahun lalu. Namun ia tak pernah menyangka ketika mengetahui bahwa Schuyler, anak perempuan yang selama ini dipandangnya sebelah mata adalah bagian dari kalangan elite yang selama berabad-abad menetap di New York. Bagi Bliss, apa yang terungkap di pertemuan Komite adalah jawaban dari semua pertanyaan yang membuatnya bingung selama beberapa minggu belakangan. Walau terkejut, ia tak dapat menutupi kelegaan yang luar biasa.

Tak berbeda jauh dengan Bliss, Schuyler nyaris tidak dapat mempercayai apa yang didengarnya. Namun dari penjelasan Mrs. Duppont sang pemimpin Komite, ia akhirnya mengerti akan kejanggalan yang ia rasakan. Rasa Munculnya Beauty, anjing peliharaanya, secara tiba-tiba bukanlah suatu kebetulan. Kemampuannya melihat dalam gelap atau bagaimana badannya tetap kurus kini tak lagi membuatnya heran.

Lebih banyak rahasia terungkap sejak pertemuan Komite berakhir. Tidak hanya dari Neneknya, Oliver, pun ternyata menyimpan rahasia penting. Yang mengejutkan adalah ketika mengetahui banyak hal di balik kematian seorang anak perempuan di sekolahnya.  Insiden yang beberapa minggu lalu membuat gempar  itu bukan hal yang pertama kali menimpa kalangan Darah Biru. Kemungkinan terjadi hal yang sama dan lebih parah sangat besar. Keberadaan mereka terancam.  Walau oleh anggota dewan tertinggi dari kalangan membantah keberadaan berita ini, namun mereka tak dapat menutupi,  bahwa di luar sanaada sekelompok besar yang menamai diri mereka Darah Perak yang siap membunuh mereka kapan saja.



~~


Senang rasanya ketika mengetahui buku ini selesai diterjemahkan. Rating yang tinggi dari beberapa blogger luar membuat saya penasaran dengan cerita di dalamnya. Bintang-bintang yang mereka berikan untuk buku ini pun ternyata tidak bohong. Ide yang dituangkan Melissa dalam setiap babnya sangat menarik. Ia tidak ragu untuk melahirkan tokoh vampir yang berbeda. Di  dunia baru yang ia ciptakan, matahari, bawang putih, ataupun salib hanyalah mitos belaka. Sosok kejam Count Dracula pun hanyalah rekaan semata. Walau pada bagian awal siklus hidup para vampir pun dituliskan Melissa sedikit membingungkan, namun semua semakin jelas ketika saya masuk ke bab-bab berikutnya. Bagian yang paling saya sukai adalah ketika membaca bab yang bercerita tentang Darah Biru, Darah Perak dan Darah Merah

Melissa juga berhasil menghidupkan beberapa karakter dalam buku ini. Salah satunya adalah Mimi. Dari awal sampai akhir, saya dibuat kesal dan jengah dengan semua tingkahnya. Namun peran yang ia mainkan menjadi salah satu bagian yang penting dalam buku ini. Saya juga menyukai persahabatan yang terjalin Oliver dan Schuyler. Sikap misterius para Dewan Darah Biru ataupun Cordelia, nenek Schuyler juga yang membuat saya tetap penasaran.

Yang tidak kalah penting, hasil terjemahan Blue Bloods tidak sekalipun membuat dahi saya berkerut. Melahap Blue Bloods yang diterjemahkan oleh pihak Gagasmedia, membuat saya tidak ragu untuk membaca Masquerade. Buku kedua dari seri ini yang juga telah diterbitkan Gagasmedia. Semoga empat buku berikutnya akan secepatnya menyusul. 

Namun, beberapa catatan kaki yang terdapat di beberapa bab awal membuat saya sedikit terganggu saat membaca buku ini. Ada beberapa hal yang menurut saya tidak membutuhkan penjelasan tambahan. Entah apakah catatan kaki ini memang tertera dalam buku asli ataukah hanya sekedar tambahan yang dibubuhkan sang editor.

Bagi yang menyukai dan tidak pernah bosan dengan buku yang menyajikan sosok vampir, saya merekomendasikan Blue Bloods untuk menjadi bacaan berikutnya.

Cover
Dibanding cover aslinya yang memperlihatkan sebuah leher yang jenjang dengan bekas gigitan vampir, saya jauh lebih suka design dan warna yang dipilih oleh Gagasmedia. Walau saya masih tidak mengerti mengapa ada gambar kunci di sana.


4/5

~~~~

Judul: Blue Bloods 
Judul Indonesia: Darah Biru 
Penulis: Melissa de la Cruz 
Penerjemah: Christine Lianita Tumangkeng 
Editor: Ayuning 
Penerbit: Gagas Media 
Tebal: 351 hal 
Cetakan: I, 30 April 2011

Thursday, 11 August 2011

Book Excerpt: Illicit Magic by Camilla Chafer



“Magic isn’t just,” I grappled for a word and settled, dully, on, “magic?”
Evan shook his head. “Magic comes in many different shapes and forms. For many, it’s illusion. The make a boat disappear, pull a rabbit out of a hat kind of magic. That’s not really even magic, it just looks like it. Humans like to call it magic anyway.” He held up a finger. “Then there’s learned magic. That’s people with an inclination towards the magical but who have to learn it to use it. They learn spells and incantations. They can mix up potions to cure ailments and influence people. Sometimes they have a core magic too, it runs a bit in their blood and that’s why they have a strong calling to magic. Then there’s us.” Evan raised another finger, paused, and raised another.
“What are we?” I whispered.
“We’re absolute magic. It’s in our blood and our bones. It’s in every fibre of our being. It is what we are. You and I are different but the magic affects our bodies and our brains in a similar way so we can manipulate the universe to do our bidding.”
“Can everyone do the same things?”
“No, of course not. Like regular humans aren’t all great at sports or can ride horses, or sail a boat.” Evan rested back in his chair and swung one long leg across the other. “Some can teleport, some have telekinesis, some are psychic, some can influence people or the weather or the air. Magic is different for all of us.”
“Is anyone both?”
“Yes, but usually the strengths go one way or the other.”
“Usually?”
“If someone has a weaker magic, say the core magic within them, then they could use learned magic to even up the score for themselves, make themselves stronger.”
“Is that why David will be teaching me too?”
“We thought it would be a good idea that you understood some of the learned magic while you practised controlling your own magic. David will be able to teach you the basics of things that can heal and protect you. Even if it comes to no use, you’ll at least have some understanding of that aspect of magic.”
“Okay.”
“Plus David has a great potion for a cold remedy, not that we get sick a lot.”
“A cold remedy?” It seemed a little absurd.
“He uses lemon and honey.”
“I hate to burst David’s bubble but Lemsip has already been invented.”
“Bet it doesn’t come with a spell to ward off infections though.”
“Will it turn me into a frog?” I asked facetiously.
“He’ll teach you that another time. I don’t recommend it.”
“What are you?” I asked, recalling that he had just said that we were different. I couldn’t see any difference, but maybe I didn’t know what I was looking for.
He looked me in the eyes and I felt my stomach do little flips as the silence hung in the air between us. I was about to prompt him when a knock at the door and a male voice announced David’s arrival.
I went to answer it but when I turned back to say goodbye to Evan, he had gone and I didn’t have a clue how he could have left the room without me seeing.
Show off.

About The Author

Hi, I'm Camilla and I'm the author of Illicit Magic and Unruly Magic, the first two books in the Stella Mayweather Paranormal Series. The series starts with a lonely young woman, Stella, who has been caught up in a terrifying witch hunt and is whisked thousands of miles away to what she thinks is safety to learn her craft. The series is a blend of magic, mystery and romance with a splash of humour - and while the girls really do go all out to save themselves, there's always a hunky guy or two on hand to help them out.

I live in London, UK but I try to travel as often as I can - lately I've been to Paris, all over Denmark, Luxembourg, and several US states. In my day job I'm a journalist and editor so I write for magazines, newspapers and websites throughout the world (my favourite assignment was spending a week riding rollercoasters - if you listen carefully you can probably still hear me screaming).



Giveaway



Don't miss the next stop on August 12 – Everyone Loves A SiNner 


Wednesday, 10 August 2011

Review: Senyum - Raina Telgemeier



Senyum, novel grafis yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama bulan Juni lalu, bercerita tentang Raina selama beberapa tahun. Dimulai dari kelas 6 sampai pertengahan kelas 9. Cerita Raina berawal dari kunjungannya ke dokter gigi dan orthodontis bersama ibunya. Setelah diperiksa, akhirnya diputuskan Raina harus menggunakan kawat gigi dikarenakan struktur giginya yang overbite. Keputusan orthodontis membuatnya menjadi sedikit gelisah dan bingung. Menurut Raina tak ada yang salah dengan gigi-geliginya. Kawat gigi akan sangat merepotkan. Menurut teman pramuka yang telah lebih dulu menggunakan kawat gigi, ia harus menghindari beberapa jenis makanan. 


Belum juga siap dengan kawat yang akan digunakannya, Raina ternyata harus mengalami kecelakaan yang cukup parah. Di hari yang sama, di perjalanan pulang menuju rumah setelah selesai dengan kegiatan pramuka bersama teman-temannya, Raina jatuh tersandung. Insiden ini menyebabkan dua gigi depannya rusak. Yang mengerikan, salah satu gigi depannya tanggal dan gigi lainnya terdorong masuk ke gusi. Malam itu juga, ia dibawa ke ruang praktek dr Golden. Oleh pria yang telah menjadi dokter gigi keluarga, gigi Raina yang copot dipasang kembali dan menarik keluar gigi yang masuk ke gusi. Intinya kedua gigi Raina digips. Sayangnya usaha itu tidak mengembalikan kedua gigi depannya seperti semula. Menurut dr. Golden, terdapat kerusakan saraf pada empat gigi depan. Meraka harus melakukan perbaikan lain. Dibantu oleh dr. Dragoni, dokter orthodentis, perawatan dua gigi depan Raina pun di mulai. 


Selain kawat gigi, Raina juga harus menggunakan headgear. Untung saja benda yang terakhir itu bisa digunakannya pada malam hari. Sayangnya, kunjungan demi kunjungan ke kantor dr. Dragoni juga tidak membuahkan kemajuan berarti. Akhirnya para dokter gigi dan orthodontis sampai pada satu keputusan. Kedua gigi Raina yang bermasalah itu harus dicabut. Tak ada pilihan lain.


Tak butuh waktu lama untuk menuntaskan kisah Raina dan gigi-geliginya. Cerita yang dituangkan gambar ini sangat ringan. Walau demikian, tidak membuat saya membacanya sepintas lalu. Karena berbagai emosi tetap mengalir di setiap lembarnya. Terutama ketika membaca insiden demi insiden yang dilalui Raina. Selain kisah yang ringan, Artwork yang keren dan halaman penuh warna menjadi bagian yang menarik dari novel grafis ini. Saya bahkan berkali-kali membuka kembali halaman demi halaman untuk melihat gambar-gambar tersebut. 


Ekspresi-eskpresi di wajah Raina digambarkan dengan sangat baik. Sehingga tidak sulit untuk merasakan apa yang ia rasakan. Ketika jatuh ataupun saat menjalani perawatan. Rasa sakitnya bisa saya bayangkan. Bahkan sempat membuat saya berpikir kembali tentang niat untuk memasang kawat gigi. Tak hanya itu anak perempuan berambut cokelat ini membuat saya tersenyum ataupun terpingkal untuk beberapa hal konyol yang ia lakukan. Raina memang karakter yang menarik. Saya menyukai semua perubahan yang terjadi pada diri anak perempuan yang akhirnya mengerti apa yang harus ia lakukan. Saya sempat dibuatnya berdecak kagum ketika akhirnya ia berani memutuskan untuk meninggalkan teman-teman yang selalu menjadikannya bahan lelucon. 


Bisa dibilang saya menikmati cerita ini. Walau ada satu hal yang sedikit mengganjal. Ada beberapa istilah yang tidak diterjemahkan. Entah apakah memang tidak terdapat padanan kata dalam bahasa Indonesia. Salah satunya Overbite. Saya harus menggunakan mesin pencari untuk tahu dan mengerti apa maksud dari kata tersebut. 


Cover 
Cover yang diterbitkan oleh Gramedia ternyata tidak ada perubahan dari cover aslinya. Kecuali beberapa perubahan font. Covernya menurutku terlalu simple untuk sebuah novel grafis yang setiap halamannya penuh warna-warni menarik. Jika tidak membaca review Senyum di blog Mia dan hanya melihat sampul depan, saya mungkin tidak akan pernah tahu kalau buku ini adalah novel grafis. Terlepas dari desain yang sederhana, saya suka warna yang dipilih sebagai background.


4/5


Senyum 
Judul Asli: Smile
Penulis: Raina Telgemeier |Website | Twitter| Facebook 1 - 2
Penerjemah: Indah S. Pratidina 
Editor: Dini Pandia 
Cetakan: Juni 2011 
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama 
Tebal: 224 Hlm


Tuesday, 26 July 2011

Book Excerpt: Brightwing by Sullivan Lee



Edgar should have known it was too good to be true.

“Did you think you could get away with lying to us?” he asked. “That we were stupid?”

“What are you talking about?” Lucy asked impatiently, thinking if she had to kill them both now, at least no one would ever find the bodies. Still, it would be tough, two on one, and those two so big, with guns and a razor.

“Far from civilization? A safe haven? No one around for miles? What are you cooking up, Lu? Trying to get us caught, or just plain turning us in? Do you really think I’d believe that all this was built miles from nowhere?”
He pulled his Glock from the duffel and stalked toward her with the weapon held at arm’s length. Mallory just watched.

On the other hand, Lucy thought, there’s something to be said for close quarters.

Quick as a heron's strike she attacked the gun directly, pushing the slide out of battery so it couldn’t fire. They stood that way for an instant, Edgar armed with his useless weapon, knowing, suddenly, Lucy had all the power. The next moment she twisted and pulled his arm and had him on the ground, the gun in her own hand. She tapped and racked it, clearing the chamber in case a round got jammed in the manhandling, and pointed it at Mallory while she knelt on his brother.

Shoot Mallory now, every fiber of her instinct urged. No, her heart said, because Edgar will never forgive me. I don’t want that.

She locked eyes with Mallory.

“This is my home, my territory. I can live out here naked, kill what I want to eat, destroy whatever threatens me. I have fangs and claws you can’t imagine.” She bared her gleaming teeth.

Mallory couldn’t look away. He ran his thumb along the dull edge of his razor and stared into eyes like the rippling black of midnight water, animal eyes.

She let Edgar up and handed him the Glock.

“I don’t need a gun to take you on,” Lucy whispered.

~~~
Format: Kindle Edition
File Size: 542 KB
Simultaneous Device Usage: Unlimited
Publisher: Laura L. Sullivan (July 6, 2011)
Sold by: Amazon Digital Services
Language: English
ASIN: B005BHR61

 

#SS2014: The Riddle

Here we go again~ Setelah dua tahun berturut-turut dapat buku terjemahan, tahun ini aku dapat buku dari penulis Indonesia. Ud...