Delapan belas tahun berlalu sejak Darren meninggalkan rumah dengan identitas kematian palsunya dengan darah vampir yang dialirkan oleh Mr Crepsley. Selama itu pula, kejadian demi kejadian terjadi dan mengubah banyak hal. Tidak hanya Darren ataupun orang – orang disekitarnya, karena sejak kepergian Darren, perubahan drastis pun terjadi pada teman – temannya di masal lalu dan tentu saja keluarganya.
Rumahmasa kecil Darren masih ada. Namun orang tuanya telah lama pindah sejak ayahnya pensiun. Rumah yang terlihat lebih suram dibandingkan sejak Darren terakir kali melihatnya kini ditempati oleh adiknya Anhie. Satu kejutan baru adalah ketika mengetahui bahwa Anhie memiliki anak dan membesarkannya tanpa seorang suami. Begitu melihat sosok adik perempuan satu – satunya, Darren nyaris kehilangan kendali. Keinginan untuk muncul di hadapan Anhie, berbicara, memeluknya, tertawa dan menangis bersama ataupun membicarakan masa lalu begitu besar. Namun akhirnya Darren mengurungkan niatnya. Ia kembali ke kota tempat ia menghabiskan masa kecil bukan untuk membongkar masa lalunya. Masih ada misi yang lebih penting dari sekedar mengenang masa lalu.
Seperti yang diramalkan oleh Evanna sang penyihir, Steve atau Darren akan bangkit menjadi Penguasa Kegelapan yang akan meluluhlantahkan dunia. Rasanya sulit untuk menerima semua semua perkataan penyihir perempuan itu. namun ia tidak mungkin berdia diri dan membiarkan klan Vampaneze merajalela dan mengambil alih semuanya. karen atidak hanya klan vampir yang akan hancur, namun seluruh umat manusia di bumi ini juga dipastikan akan musnah.
Masalahnya sekarang adalah menemukan keberadaan Steve dan pengikutnya. Walau sebenarnya Darren tak perlu pusing, karena cepat atau lambat mereka akan muncul dengan sendirinya
Benar saja. Morgan James dan R.V muncul di hadapan Darren. Tanpa segan – segan melukai orang – orang di sekeliling Darren. Termasuk beberapa diantaranya teman-teman Darren di Cirque Du Freak.
Perasaan Darren benar- benar hancur dibuatnya. balas dendam dengan melakukan hal yang sama adalah satu – satunya yang ada di pikiran Darren yang saat itu telah mengalami fase lanjutan dari seorang vampir. Jalan menuju Penguasa Kegelapan kini terbuka sangat lebar.
Seperti buku buku serial Darren Shan sebelumnya, buku kai ini juga membuat saya menjadi gemas karenanya. Semuanya karena kejutan demi kejutan yang muncul begitu mendadak. Seharusnya saya tidak begitu naif sehingga rasa kesal itu tidak perlu muncul.
Semoga saja kisah yang akan berakhir di nomor 12 ini akan memberi ending yang menyenangkan. Walau sebenarnya tak banyak berharap. Apalagi jika berpatokan dengan buku – buku sebelumnya. Tapi siapa yang tahu kejutan apalagi yang akan di berikan oleh Darren Shan kepada pembacanya.
Setelah membiarkan buku ini di rak buku nyaris 2 tahun lamanya, akhirnya beberapa minggu yang lalu saya memutuskan untuk membuka halaman pertamanya. Saya punya alasan kuat mengapa tidak langsung melahapnya begitu buku ini resmi menjadi penguni rak buku. Pertama, masalah ketebalan yang tidak diragukan lagi, belum lagi ditambah buku ini dikemas dalam bentuk hardcover. Kedua, tentu saja masih banyak buku yang lebih tipis lainnya. Namun sampai di halaman terakhir, saya sedikit menyesal kenapa tidak membacanya sejak dulu. Karena buku ini ternyata menarik. hhhmmm...satu pelajaran lagi Don’t Judge the book by its thickness.
Dari judul danCatatan Untuk Pembaca yang ditulis dibagian awal oleh narator, yang sampai akhir buku ini tak juga disebutkan namanya, buku ini bercerita tentang penelusuran, pencarian sesuatu di masa lalu yang terjadi beratus tahun yang lalu, jauh sebelum ia lahir. Pencarian yang membuatnya berpindah dari satu negara ke negara lain. Membaca dokumen demi dokumen. Selama bertahun – tahun tak terhitung lagi berapa banyak riset dan pengumpulan fakta yang ia lakukan. Semua itu membuat saya semakin penasaran dan bertanya-tanya sejarah dan fakta apa yang dibicarakan oleh sang narator. Karena semua riset ini juga berkaitan dengan pencarian ayahnya dan masa lalunya, bagaimana ayahnya pergi mencari gurunya dan sejarah yang melatar belakangi kehidupannya.
Nampaknya sang narator tidak ingin berlama-lama membuat saya penasaran. Hanya dalam beberapa menit pertanyaan itu terjawab dan hanya dengan tiga kata. Bram Stoker, Dracula.
Karena tiga kata itu juga yang akhirnya membuat saya kembali meninggalkan buku ini. Sebelum tenggelam di buku dengan ketebalan 768 halaman ini saya pikir sebaiknya mengenal sosok Dracula ciptaan Bram Stoker terlebih dahulu. Dari buku itu, yang saya dapatkan adalah sesosok pria penghisap darah dengan kekuatan magis dari Transylvania yang sangat keji dan hanya mengejar para wanita sebagai korbannya.
Ketika akhirnya kembali ke buku ini, sosok Dracula yang saya temui di buku ini jauh berbeda. Yang mengejutkan pria ini ternyata benar- benar ada. Vlad Dracula yang juga dikenal sebagai Vlad si Penyula. Tidak perlu heran mengapa diberikan julukan seperti itu. Karena semasa hidupnya pria ini memang sangat kejam. Tidak tanggung – tanggung ia memerintahkan semua bawahannya untuk mengakhiri hidup setiap orang yang dianggapnya musuh dengan disula. Tak peduli bayi, anak-anak pria ataupun wanita. Hal itu membuat saya bergindik ngeri.
Semua itu ada di catatan- catan sang narator yang juga didapatkannya dari semua cerita, catatan, surat milik ayahnya ataupun buku – buku dari perpustakaan yang dikunjunginya. Yang mengejutkan, semua catatan-catatan itu mengantarnya pada satu hal. Vlad si Penyula masih hidup dan berkeliaran. Kesimpulan itulah yang membuat mereka, para sejarawan, berpacu bersama waktu untuk mencari kebenaran di balik semua misteri ini.
Sehingga tidak mengherankan jika penulusuran yang dilakukan menjadi sangat panjang. Sangat melelahkan memang. Namun saya menikmati setiap perjalanan dari satu negara ke negara lain di benua Eropa. Keindahan setiap kota setidaknya memberi sedikit warna pada pencarian, yang menghabiskan waktubertahun – tahun, yang sangat gelap dan penuh dengan hal – hal berbahaya.
Terlepas apakah fakta ataupun fiksi, banyak dari catatan-catatan itu yang membingungkan. Bahkan begitu sampai di halaman terakhir, saya masih dibuat pusing dengan hubungan antara Vlad Dracula, Ottoman dan Mehmen II. Mungkin karena saya lebih menyukai cerita tentang masa lalu keluarga sang narator, Paul, ayahnya ataupun kisah sang professor Rossi, guru sekaligus pembimbing ayahnya. Sehingga tidak ada cara lain menulusuri kembali beberapa halaman dan mencari fakta lainnya di Wikipedia. Karena pertanyaan – pertanyaan baru juga muncul ketika semua halaman itu selesai saya lahap.
Terlepas dari beberapa catatan – catanan yang membingungkan, untuk sebuah buku yang menggabungkan fakta, fiksi dan sejarah, buku ini benar-benar menarik.
Jika di buku Kami Anak – Anak Bullerbyn, Lisa bercerita tentang Lasse, Bosse, Anna, Britta dan Olle di buku apa saja yang mereka lakukan selama liburan sekolah. Di buku ini, Lisa bercerita tentang kisah anak – anak Bullerbyn di hari – hari istimewa mereka setiap tahunnya. Istimewa karena membuat semua orang yang tinggal di Bullerbyn merasa sangat bahagia.
Hari istimewa pertama adalah saat mereka merayakan natal. Bukan hanya karena di hari itu penuh dengan kuejahe, tumpukan roti hitam, ham, sosis, kembang gula dan makanan – makanan lezat lainnya, ataupun hadiah – hadiah yang akan diantarkan oleh Sinterklas, tapi juga karena kebersamaan yang mereka lewati.
Dari perayaan natal, hari istimewa berikutnya adalah saat merayakan tahun baru. Semua anak – anak Bullerbyn diijinkan untuk tetap terjaga. Bahkan untuk membantu kemeriahan pesta malam tahun baru itu, ibu Lissa menyediakan apel, kacang dan sirop.
Dari pesta natal dan perayaan malam tahun baru yang sederhana, cerita Lisa berpindah pada pesta di rumah Bibi Jenny, perayaan paskah di mana mereka bermain – main dengan telur –telur hias, hari kelahiran adik Olle, sampai pada perayaan ulang tahun kakek Britta dan Anna yang ke 80.
Secara garis besar, hari – hari bahagia itu memang identik dengan perayaan, namun kebahagiaan yang dirasakan oleh anak – anak Bullerbyn nampaknya terjadi setiap hari. Termasuk semua kisah kekonyolan Lasse dan Bosse, ataupun saat mereka menelusuri jejak sang hantu air dan tidak ketinggalan saat mereka mencari harta terpedam bersama – sama. Melihat semua yang dilakukan anak – anak Bullerbyn membuat saya berpikir bahwa untuk menjadi bahagia bukanlah hal yang rumit.
Bullerbyn, yang berarti Desa Ribut adalah sebuah desa yang sangat kecil. Karena di atasnya hanyaterdiri dari tiga rumah. Pondok Utara, Pondok Tengah, dan Pondok Selatan.
Di pondok Utara adalah milik dua orang anak perempuan, Anna dan Britta. Tentu saja mereka tidak tinggal sendirian. Karena ada di pondok itu juga ada ibu dan ayah Anna dan Britta termasuk seorang kakek yang kini menghabiskan waktunya di kursi goyang.Di pondok tengah sendiri dihuni oleh sebuah keluarga dengan dua anak laki laki, Lasse dan Bosse serta adiknya Lisa. Sedangkan di pondok utara, anak laki – laki bernama Olle tinggal bersama ayah dan ibunya.
Karena hanya ada tiga rumah, makanya semua anak laki-laki dan perempuan itu menjadi teman sepermainan yang sangat akrab satu sama lain. Walau hanya berenam namun mereka semua bisa membuat desa itu menjadi sangat ribut. Bahkan sering kali mereka membuat para orang tua sedikit pusing karenanya. Terlebih jika Lasse dan Bosse yang terkenal sangat iseng mulai beraksi. Bahkan Lisa pun tidak jarang dibuat menjadi sangat kesal. Beruntung sejak ulang tahunnya yang ke tujuh, Lisa memiliki kamar sendiri sehingga tidak perlu lagi menghabiskan malam dengan cerita-cerita seram yang selalu diceritakan oleh keduanya. Lisa kadang berharap kedua kakaknya bisa sopan seperti Olle.
Karena keisengan itu jugalah yang membuat Lisa lebih suka menghabiskan waktunya bersama Britta dan Anna. Bermain boneka ataupun rumah – rumahan.
Kisah sederhana namun dikemas menjadi rangkaian kisah yang cukup menarik. Hanya mengandalkan semua yang mereka miliki ternyata bisa membuat anak – anak itu menjadi bahagia karenanya. Lihat saja semua anak – anak itu membuat markas di tumpukan jerami ataupun sekedar merahasiakan tempat tumbuhnya arbei liar. Belum lagi rencana konyol mereka untuk melarikan diri dari rumah.
Semua cerita mereka membuat saya teringat dengan masa kecil yang juga tidak kalah konyolnya. Rasanya tidak ada yang lebih menyenangkan selain menghabiskan waktu untuk bermain dan bermain.
Judul Indonesia: Siang – Siang Magis, Malam – Malam Perang
Penulis: Clive Barket
Penerjemah: Tanti Lesmana
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, Juni 2007
Tebal: 508 hlm
Di dunia fantasy semua hal bisa terjadi, bahkan sesuatu yang tidak mungkin sekalipun. Tidak perlu heran jika banyak hal – hal aneh di Kepulauan Abarat yang terdiri atas pulau – pulau yang masing – masing memiliki keajaiban tersendiri.
Setidaknya itulah yang terjadi pada etualangan Candy. Walau kata yang lebih tepat untuk menggambarkan semuanya mengerikan. Siapapun yang telah membaca buku pertama, tahu betul bagaimana perjalanan – perjalanan Candy dari satu pulau ke pulau yang lain. Di kejar – kejar oleh mahkluk – makhluk mengerikan yang ternyata suruhan Christoper Carrion, sang Penguasa Tengah Malam dan disekap oleh penyihir jahat yang tidak segan menganyunkan tongkat untuk memukul.
Beruntung nasib baik masih berpihak padanya. Bersama Malingo, Candy bisa lepas dari tangan – tangan para pengejar. Walau tahu itu tidak akan lama, pengejarnya akan terus mengejar. Sehingga satu – satunya cara adala dengan berpindah dari satupulau ke pulau lainnya. Dari pulau Qualm Hah, Jam sembilan Pagi, tak lama kemudian mereka berpindah ke Pulau Orlando’s Cap, pulau yang didalamnya terdapat rumah saki jiwa. Di pulau inilah, Otto Houlihan, sang pengejar, kembali mendapati jejak mereka.
Mengetahui sang pengejar telah kembali, tidak ada hal lain yang dilakukan Candy dan Malingo selain mengambil langkah seribu. Beruntung ada kapal nelayan yang mau memberikan tumpangan. Walau sempat diganggu oleh Burung – Burung Pemakan Bangkai, toh akhirnya mereka sampai ke Babilonium yang dikenal sebagi Pulau Karnaval. Tempat yang pas untuk beristirahat sekaligus bersembunyi. Ya, pulau ini penuh sesak. Di jalan – jalan dipenuhi dengan mahkluk Abarat, baik dari dalam maupun luar Babilonium, yang berlalu – lalang yang hendak menikmati puluhan pertunjukan fantastis yang tidak pernah ada habisnya.
Namun mereka ternyata kalah cepat dengan kejelian Houlihan, si Criss – Cross Man, kini berada di belakang mereka. Candy memutusan mereka harus berpencar untuk mengecoh sang pemburu yang semakin mendekat. Sayangnya, ke sudut mana pun Candy lari dengam mudah Houlihan menemukannya. Satu – satunya cara adalah meninggalkan pulau karnaval.
Di lain pihak, Christoper Carrion bersama kaki tangannya yang lain telah sampai di Piramida – Piramida XUXUX. Tempay yang penuh misteri dan tragedi. Dengan kunci piramida yang telah diperolehnya kembali, dengan mudah ia bersama pasukannya memasuki tempat tersebut. Rahasia yang ia sembunyikan selama ini adalah sekawanan lebah berbahaya yang akan menjadi bagian dalam rencana – rencana mereka menguasai Abarat.
Dibandingkan di buku sebelumnya, perjalanan Candy kali ini jauh lebih mengerikan. Rasanya nyaris putus asa menunggu kapan pengejaran itu berakhir. Korban demi korban berjatuhan di mana – mana. Untungnya semua itu terbayar dengan banyaknya rahasia yang terungkap. Walau masalah tidak sepenuhnya selesai ketika sampai pada halaman terakhir. Setidaknya bisa bernafas lega barang sejenak.
Ilustrasi – ilustrasi yang menakjubkan masih ada dalam buku ini. sayangnya ada beberapa di antara gambar itu yang membuat saja merasa jijik. Terutama ilustrasi salah satu kaki tangan Christopher Carrian. Ihhh...
Seperti buku sebelumnya, makhluk – makhluk baru terus bermunculan. Sedikit pusing dibuatnya.
Sekarang tinggal menunggu buku ketiga, Absolute Midnight dan Buku ke empat, Dynasty of Dreamers. Abarat: The Eternal diberitakan sebagai judul buku kelima yang direncanakan oleh penulis. Semoga saja buku-buku selanjutnya akan kembali diterbitkan. Entah sekelam apa petualangan Candy selanjutnya.
Setahun berlalu sejak kejadian “Grace Aja” yang menyebalkan. Tahun ini semuanya masih sama. Karena nama itu tetap melekat pada dirinya. Apa lagi ia masih sekelas dengan ke tiga Grace lainnya. Jadi wajar saja kalau tahun ajaran baru di kelas empat ini ia masih kesal. Terlebih lagi ada guru praktik baru, yang ternyata memanggil Grace F hanya dengan Grace.
Masalah berikutnya datang ketika seorang anak laki – laki bernama Max pindah ke sebelah rumah Mimi. Awalnya Grace memang sempat khawatir kalau – kalau Mimi, sahabat terbaiknya ituakan menjadi lebih akrab dengan Max.Namun semua kekhawatiran itu tak sempat lagi dipikirkannya saat ia menghabiskan liburan bersama neneknya di Chicago. Sehingga ketika kembali dari liburan, Grace menjadi sangat kaget ketika tahu bahwa kini Mimi menjadi lebih akrab dengan Max. Bahkan sekarang Sammy Stringer, anak laki – laki yang dulu sangat dibenci Grace telah bergabung bersama mereka.
Namun semua itu tak diungkapkan kepada Mimi. Karena secara mendadak Mim menjadi bersin – bersin begitu Grace mendekat. Selidik punya selikid, ternyata semua itu diakibatkan bulu – bulu kucing yang menempel pada baju Grace.
Hubungan Mimi dan Grace pun semakin renggang. Terlebih saat proyek kelas, mereka tidak berada berada dalam kelompok yang sama. Grace akan mengerjakan tugas itu bersama ketiga grace lainnya. Mimi sendiri ternyata memilih Max dan Sammy. Grace semakin sedih dibuatnya.
Beruntung, ada satu hal besar yang menarik perhatian Grace. Yaitu ketika tahu bahwa ada seseorang yang membutuhkan bantuannya. Orang itu tidak lain adalah Mr Frank, guru praktik, yang ide-idenya selalu ditolak oleh Miss Lois, sang wali kelas. Dengan kekuatan empatinya, Grace yakin kali ini misinya akan berhasil. Apalagi mengetahui bahwa ke tiga Grace lainnya, terutama Grace F, ternyata tidak seburuk apa yang dipikirnya selama ini.
Dibanding buku yang pertama, saya lebih menyukai buku ini. cerita kali ini benar – benar menyentuh. Rasa empati Grace membuat saya sangat tersentuh. Grace menjadi sangat keren karenanya. Tidak banyak anak – anak seperti itu.
Rasanya tidak sabar untuk membaca kisah Grace lainnya.Dari official websitenya, serial Grace setelah ini ada Is Grace Ready For A Real Dog of Her Own? dan Just Grace Goes Green. Semoga akan diterbitkan lagi
Candy Quackenbush dibuat pusing oleh tugas yang diberikan Miss Schwartz, guru sejarahnya. Ia punya waktu seminggu untuk mengumpulkan sepuluh fakta menarik tentang Chickentown. Kalau ingin menuliskan sesuatu yang biasa – biasa saja, Candy sebenarnya bisa menuliskan hal – hal yang pastinya akan ditulis juga oleh anak lain, yaitu tentang peternakan ayam. Namun Candy ingin sesuatu yang lain.
Pencarian fakta tentang Chickentown pun dimulai. Perpustakaan demi perpustakaan dijelajahinya. Namun tak satupun buku yang menuliskan fakta mengenai Chickentown kecuali mengenai ayam, ayam dan ayam. Sehingga yang terpikir di kepala Candy adalah menuliskan “ Aku tinggal di kota yang tidak memiliki keistimewaan lain” sebagai fakta pertama.
Mengeluh pada ibunya adalah hal yang dilakukan Candy selanjutnya. Untungnya, Mellisa, ibu Candy menawarkan satu solusi menarik. Disurunya Candy menemui teman lamanya, Norma Lipnik yang bekerja di Hotel Comfort Tree. Melalui wanita, Candy mengetahui beberapa fakta baru mengentai Chickentown. Tanpa sedikitpun keraguan semua hal yang didapatkannya dari Norma ditulisnya.
Mala petaka bagi Candy ketika mengetahui jika semua yang ditulisnya itu dianggap sampah oleh Miss Schwartz. Bahkan ketika Candy hendak melakukan pembelaan diri, ternyata hanya membuat Miss Schwartz semakin marah. Bahkan Candy dikirimnya ke kantor Kepala Sekolah untuk melaporkan semua hal yang dianggap oleh Miss Schwartz adala pelanggaran berat.
Entah apa yang menguasainya saat itu, bukannya mengikuti perintah Miss Scwartz, Candy malah berlari meninggalkan sekolah. Sempat terbersit di benak Candy bahwa perbuatannya ini akan membuatnya dikeluarkan dari sekolah. Namun rasa lega yang dirasakannya jauh lebih besar.
Candy membiarkan kaki dan pikirannya membawanya terus menyusuri Lincoln Street. Menuju sebuah padang rumput luas, dan terus berjalan. Hingga ketika menoleh ke belakang, ia tak lagi dapat melihat Chickentown.
Setelah beberapa lama menulusuri padang rumput, Candy sedikit terkejut dengan benda – benda yang ditemukannya. Lusinan kerang, pecahan karya tanah liat, dan tulang belulang ikan. Itu belum apa – apa ketika akhirnya ia mendadak melihat satu mahkluk dengan telinga besar berbulu halus, dengan dua buah tanduk yang sangat besar , mirip tanduk kijang jantan dengan tujuh buah kepala kecil yang menempel padanya. Keterkejutan candy sekamin bertambah ketika mahkluk itu mengenalkan diri sebagai John Misciehf yang tidak lupa mengenalkan 7 saudaranya yang lain.
Belum benar-benar yakin dengan apa yang dilihatnya, mata Candy kembali harus melihat makhluk yang tidak hanya aneh namun juga menyeramkan. Dari penjelasan John Mischief, mahkluk aneh yang bernama Mendelson Shape, sangat kejam dan berbahaya. Di tangannya ada dua bilang pedang tajam yang siap menebas keduanya. Dalam waktu singkat, Candy tahu John Mischieflah yang di kejar Shape. Namun dalam hitungan detik, dirinya pun menjadi incaran sang algojo.
Untung saja di saat- saat terakhir ia dapat melaksanakan apa yang diminta oleh John Mischief dan keanehan berikutnya pun datang. Tiba – tiba sajaia mencium aroma asin air laut yang terbawa angin. Penciumannya tak bohong. Karena tak lama kemudian ombak – ombak laut datang mendekat, berbuih dan bergulung memecah. Laut Azalea, begitu Mischief menyebutnya, akan membawanya ke sebuah kepulauan bernama Abarat.
Keraguan sempat terbersit di pikiran Candy. Namun akhirnya ia memutuskan untuk mengikuti Mischief ke Abarat, meninggalkan semua hal – hal yang membosankan di Chickentown menuju kepulauan yang benar – benar asing baginya. Bersama Mischief, Candy melompat ke dalam debur ombak dan menyerakhkan hidup mereka pada air Laut Izabella yang bergolak.
Seperti apa Abarat, akhirnya terjawab ketika mereka sampai. Dengan mata kepalanya sendiri Candy melihat para penghuni Abarat, berbicara bahkan berkawan dengan beberapa dari mereka. Mengalami berbagai macam petualangan dari satu pulau ke pulau lain dengan nyawa sebagai taruhannya.
Petualangan Candy benar – benar seru sekaligus mengerikan. Tidak hanya harus berhadapan dengan beberapa penguni Abarat yang aneh, sering kali ia harus melarikan diri dari mahkluk – makhluk jahat dan kejam yang mengincar dirinya. Misteri demi misteri perlahan – lahan terungkap. Seperti di buku – buku fantasi lainnya, semua itu tidak lengkap tanpa kehadiran ilmu sihir.
Cerita ini pun semakin seru karena dilengkapi dengan ilustrasi berwarna yang benar-benar keren. Bagaimana tidak, Ilustrasi – ilustrasi yang kebanyakan menggambarkan para penghuni kepulauan Abarat ini disajikan dalam warna – warni yang menarik mata. Dari keterangan di sampul buku, ternyata semua gambar- gambar itu dikerjakan sendiri oleh Clive Barker sang Penulis. Rasanya tidak ada puas –puasnya memandangi ilustrasi – ilustrasi tersebut. Kecuali untuk gambar – gambar yang mengerikan.
Sayangnya tokoh di dalamnya terlalu banyak. Sehingga hanya tokoh-tokoh penting saja yang sanggup saya hapalkan di luar kepala.
Petualangan Candy di buku pertama ini ternyata masih berlanjut pada buku selanjutnya, Days of Magic, Night of War yang semoga tidak kalah seru.