Wednesday, August 1, 2007

Review: After - L Francis Chalifour



Tahun 1992 adalah tahun yang buruk bagi Francis, bukan karena Istana Windsor milik Ratu Elizabeth terbakar, bukan pula karena pangeran Charles berpisah dengan Diana, ataupun karena George Bush yang jatuh sakit dalam kunjungannya ke Jepang dan memuntahi Perdana Menteri Jepang ataupun orang orang Serbian di Bosnia- Hezegovina memproklamirkan republik mereka sendiri.Bukan, bukan karena semua hal itu. Bulan juni, 1992, ayah Francis gantung diri di loteng


Firasat buruk itu telah membayangi Francis ketika Ibunya menelpon dan memintanya untuk kembali ke rumhnya di Montreal. Padahal saat itu dia sedang mengikuti karya wisata di New York.


Ayahmu sudah meninggal. Tiga kata yang diucapkan ibu serasa telah mengubah segalanya. Tiba tiba semua terlihat begitu aneh di mata Francis. Kesedihan yang dirasakannya sangat menyakitkan, Jantungnya seakan berhenti berdetak, Tenggorokannya menegang, bahkan perutnya nyeri seakan akan semua isi perutnya dimakan binatang buas.


.
Dan kesedihan semakin memuncak, ketika Luc, adik Francis, di hari pemakaman berkata “Papa, aku sudah bosan kau meninggal. Bangunlah! Ayo main denganku, please, papa. Sebentar saja. Aku akan membantumu turun dari tempat tidur. Aku janji akan jadi anak baik”. Kalimat yang membuat Francis terguncang. Luc masih terlalu kecil untuk mengerti tentang kematian, pikir Francis. Tak terbanyang satu pun cara untuk menjelaskan kepada luc bahwa tak akan ada lagi ayah yang bergulat bersamanya di permadani ruang duduk, makan Smarties dan Jellybean, bermain poker ataupun menonton hoki di TV pada sabtu malam . Yang tersisa hanyalah tumpukan kenangan yang hanya membuat Francis sesak dan menangis.


Satu yang diketahuinya, sebesar apapun kesedihan yang dirasakan tak membuat dunia berhenti berputar. Ia masih harus ke sekolah, bertemu guru dan teman temannya. Francis berusaha untuk tegar namun kenyataan berbicara lain, usaha untuk menghibur yang dilakukan oleh sahabatnya ditepis dengan kasar. Hanya satu yang membuatnya bertahan, Luc, yang masih percaya bahwa ayah mereka akan kembali.


Masalah baru datang silih berganti. Kedatangan Julia, anak perempuan yang membuat hati Francis berdegup kencang, namun akhirnya harus berakhir ketika tahu bahwa Julia hanya menganggapnya seperti kakaknya sendiri. Yang terparah adalah ketika mengetahui bahwa ibunya mulai berkencan dengan seorang pria. Kenyataan yang membuat Francis berang. Padahal kematian ayahnya belum begitu lama. Pertengakaran pun tak dapat terelakkan.


Semuanya masalah itu membuat Francis kehilangan akal sehatnya. Tak pelak, Ia nekat ke Toronto, tepatnya di The sailor 14, Chester Street. Tempat perjanjian ayah dan teman teman yang tergabung di Loyal Order Of the Companions of Poker. Yang ditemuinya di sana ternyata Mr. Deli. Pria pemilik toko tempat ia bekerja sambilan. Sebelum pulang, Mr Deli menyerahkan buku bersampul kulit hitam, yang berisi banyak hal. Salah staunya adalah ungkapan perasaan ayahnya tentang betapa bahagiaanya ia saat Francis dilahirkan.


Entah apa yang membuat Francis dapat bertahan lebih lama. Namun setelah lima tahun berlalu, ia menyadari bahwa hidup adalah permainan, dan menikmatinya boleh boleh saja. Bahwa tertawa itu sama pentingnya seperti bersikap serius. Seperti permakinan kartu, Hidup tak akan pernah berlangsung lama. Tak satupun yang abadi.


***


Salah satu teenlit yang berhasil masuk di rak bukuku. Itu juga karena referensi Kobo. Cerita sederhana yang membuat saya sempat menitikkan air mata. Membuat saya tiba tiba teringat D. Pria yang dulu penuh dengan seribu aturan yang menimbulkan begitu banyak pertanyaan untuk semua hal yang tidak dapat saya mengerti. Bahkan tak jarang begitu banyak tumpukan keluhan yang tak pernah tersampaikan. 


I am so sorry for all those prejudgement, D. 
I am glad that you’re still there.
Love you. 
Always.


After

Penulis:  L Francis ChalifourL
Alih bahasa : Alexandra Karina
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 184 hal