Tuesday, August 28, 2007

Review: Alice: All but Alice - Phyllis Reynolds Naylor


Keresahan dialami Alice ketika kehidupannya di kelas tujuh dimulai. Bahkan ia menjadi begitu gundah ketika mengetahui Elizabeth Price dan Pamela Jones, sahabatnya, telah memiliki papan bulletin dengan berbagai hal penting dalam hidup mereka yang melekat diatasnya.

Tidak berhenti sampai disitu . Hampir semua teman-temannya telah memutuskan untuk ikut suatu perkumpulan. Sedangkan dirinya masih saja sama seperti semester lalu. Karena tak ingin ketinggalan, akhirnya ia memutuskan untuk ikut klub anting –anting. Awalnya alice sangat menikmatinya. Terutama ketika Ayahnya memberi ijin untuk menindik telinganya.

Setelah perkumpulan anting – anting, Alice memutuskan untuk bergabung dengan All-Stars Fan Club, klub yang berkumpul setiap rabu dan menulis surat ke orang-orang keren. Bahkan ia langsung popular, begitu ia mendapatkan balasan dari salah satu bintang rock. Bahkan ketika balasannya itu hanya berupa kaus kaki kotor. Karena hanya dialah satu satunya anggota klub yang menerima benda milik pribadi seorang selebriti.
Alice menikmati keberadaannya di kedua klub tersebut Teman temanya semakin banyak. Di kelas ia pun termasuk dalam jajaran murid- murid keren dan populer.

Namun masalah baru muncul. Karena dengan tergabung dalam klub ini berarti ia harus mengikuti ritual yang dilakukan oleh setiap anggota, yaitu membeli anting-anting baru setiap pekannya. Padahal uang jajannya setiap pekan tidak banyak. 

Bahkan semua masalah itu semakin membesar ketika mengetahui bahwa ayahnya berkencan dengan Miss Summers, Guru bahasanya yang ditemuinya hampir setiap hari di sekolah. Belum lagi masalah Lester, abangnya, dengan semua mantan pacarnya, yang memaksa Alice harus berbohong.

Di perkumpulan All-Stars Fan Club, setiap anggota di perkumpulan itu terlibat dalam pertunjukan adu bakat. Dan teman temannya menganjurkan untuk kostum wonder woman dan menyanyikan lagu Gus and Dolls. Sayangnya bukannya ketenaran yang didapatkannya, namun malam itu yang ada hanyalah gelak tawa dari seluruh penonton.

Dan tak kalah parah, ketika ia bermasalah Brian, yang ternyata tak pernah berpikiran bahwa Alice adalah seorang anak perempuan. Padahal Alice berpikir Brian akan bisa mengganti kedudukan Patrick .Semua itu membuat Alice merasa ada yang salah dengan semua hal yang dilakukannya. Ia harus mengambil keputusan penting untuk membuat masalah masalah ini menjadi reda dan berhenti membuatnya gundah.

***

Another Teenlit di rak bukuku. Belinya karena ngeliat resensi di blog kobo. Waktu itu juga ada diskon dari Gramedia. 

Melihat kehidupan Alice, jadi ingat jaman SD dulu. Tepatnya pas kelas 6. Waktu itu saya juga benar benar bingung. Bahkan sempat tuh ikut-ikutan ma beberapa teman yang saat itu memang populer dikalangan anak sd. Hehehehe… dari stationery sampai ikut beli snack yang mereka sukai. Padahal begitu nyoba, walah, rasanya ga karuan.Akhirnya sebelum terjerumus lebih jauh, akhirnya sadar. Menjadi populer ga perlu sampai ikut-ikutan seperti itu. Tentu saja itu setelah lepas dari bayang bayang mereka. Akhirnya malah mereka yang ikut-ikutan. 

Serial Alice ternyata dah ada yang baru lagi. Jadi penasaran. Semoga bisa cepat masuk di rak bukuku deh.



All but Alice
Judul Indonesia: ngapain ikut-ikutan
Penulis: Phyllis Reynolds Naylor
Alih bahasa: Vina Damajanti

Penerbit: Pt Gramedia Pustaka Utama

Cetakan: I, January 2006

Tebal: 160 hl