Saturday, August 4, 2007

Review: Laskar Pelangi - Andrea Hirata

Di Pulau Belitong berdiri SD sekaligus SMP Muhammadiyah. Jangan sekali kali berniat membandingkannya dengan sekolah sekolah PN Timah yang dibangun arsitektur yang pantas disandingkan dengan rumah bergaya Victoria.. Bangunan yang seakan hendak roboh, dengan papan tulis lusuh, lantai kelas yang hampir menjadi tanah. Tak ada gambar presiden ataupun wakil presiden yang menghiasi dinding kelas. Kalaupun ada satu gambar seorang pria berjenggot lebat, memakai jubah sambil memegang gitar, yang selanjutnya dikenal sebagai Rhoma Irama, hanyalah untuk menutupi lubang besar di dinding.

Sekolah kampung ini yang hanya memiliki dua guru untuk semua mata pelajaran. Berbeda dengan Sekolah- Sekolah PN timah yang memiliki guru yang berbeda untuk setiap mata pelajaran. Namun itu tak menyurutkan semangat 10 anak kecil untuk menuntut ilmu. Tak peduli jarak, hujan dan panas, mereka akan berusaha untuk hadir dikelas setiap harinya untuk meredakan rasa haus mereka akan ilmu. Bagi mereka, Pak Harfan dan Bu Mus sudah lebih dari cukup. Mereka tak hanya berperan sebagai guru yang mentransfer ilmu, namun juga sebagai penjaga, sahabat dan pembimbing spiritual bagi murid-muridnya. Bagi laskar pelangi, mereka adalag Ksatria tanpa pamrih, sumur jernih ilmu pengetahuan dan pahlawan tanpa tanda jasa yang sesungguhnya.

Boleh saja memandang sebelah mata terhadap bangunan yang lebih mirip gudang kopra ini. Namun lihatlah anak anak yang ada di dalamnya. Kucai, sang ketua kelas yang dengan berat hati menjalankan jabatannya untuk menertibkan diri teman sekelas padahal diri sendiri tak bisa diam. Trapani, anak laki laki berparas tampan yang sangat berbakti kepada ibunya. Sahara, satu satunya perempuan dikelas, yang benar benar menghargai arti kebenaran. Akiong, musuh bebuyutan Sahara yang tak pernah bisa memenangkan perdebatan jika Sahara mulai berkidau. Harun, anak laki laki santun , pendiamdan murah senyum, yang selalu menanyakan hal yang sama disetiap pelajaran. Borek, dengan obsesi menjadi pria terkuat dan sempat membuat Ikal termakan hasutannya. Lintang, yang menjadi bintang di hampir semua mata pelajaran karena kecerdasaan yang sangat mencolok. Tak ketinggalan Mahar, anak laki laki memiliki beribu ide jenius untuk hal hal yang berhubungan dengan seni. Di tangan kedua anak inilah, sekolah muhammadiyah dapat menyaingi sekolah PN TIMAH di perlombaan cerdas cermat ataupun karnaval 17 Agustus.

Ke sepuluh anak, yang menyebut diri mereka sebagai laskar pelangi tak hanya berbagi kesenangan di dalam kelas. Bermain karet di musim kemarau ataupun hanya dengan pelapah di musim penhujan. Petir tak pernah menyurutkan mereka menikmati derasnya hujan yang turun.pohon filicium menjadi tempat bermain favorit mereka. Menikmati pelangi menjadi aktivitas yang paling mereka sukai. Semua dilakukan bersama sama. Bahkan untuk tugas menyiram tanaman di sekitar bangunan sekolah. Ataupun untuk kegiatan yang paling mereka benci, membeli kapur di toko kelontong milik A Miau.

Tak pernah disangka ketika giliran Ikal membeli kapur menghantarkannya, Ia bertemu seorang gadis yang memiliki jari jari yang indah yang membuat ikal mabuk kepayang dan dapat menghayati lirik lagu Have I Told You Lately That I Love You. Bahkan menciptakan beribu puisi untuk anak perempuan ternyata masih sepupu A Kiong sebagai A Ling. Sejak pertemuan pertama dengan A ling, Setiap kali mereka kehabisan kapur, Ikal dengan ikhlas menawarkan diri untuk membelinya. Semua demi A Ling.

Jika Ikal tergila gila dengan A ling, lain halnya dengan Mahar. Ia mengorbankan seluruh waktu belajarnya dengan mendalami klenik, ilmu gaib, takhyul, dan dunia paranormal. Kegilaannya semakin menjadi ketika Flo, murid sekolah PN TIMAH yang berhasil diselamatkannya, berkeras untuk pindah ke sekolah Muhammadiyah. Flo mengagumi Mahar, bukan sebagai pribadi tapi sebagai professional muda perdukunan. Persekutuan antara keduanya melahirkan sebuah perkumpulan yang dinamakan Societeit de Limpai. Perkumpulan yang melakukan pertemuan rutin dan aktivitas perklenikan secara diam-diam. Semakin lama anggota mereka bertambah banyak. Namun akhirnya perkumpulan ini dibubarkan oleh Mahar setelah membaca pesan yang ditulis oleh Tuk Bayan Tula, orang yang dulu dianggap suci oleh semua anggota Societeit de Limpai.

Setelah kehebohan yang ditimbulkan oleh Mahar dan Flo mereda, suasana berubah menjadi sendu ketika Lintang memutuskan berhenti sekolah, empat bulan sebelum ia menyelesiakan SMP. Ayahnya meninggal dunia dan membuatnya harus mengambil alih tanggung jawab untuk membiayai keluarga. Semua orang menyayangkan hal ini. Laskar pelangi kehilangan laki laki cerdas yang telah menorehkan prestasi paling istimewa dan mengangkat derajat sekolah miskin itu.

***

HEBAT. Itu kata untuk menggambarkan isi buku ini. Buku yang membuat saya sempat tertawa sejadi-jadinya akibat tingkah laku aneh anak anak laskar pelangi bahkan terharu sampai menitikan air mata. Walau awalnya sempat pesimis dengan isi ceritanya. Namun begitu masuk ke dalamnya, buku ini tak bisa lepas sebelum membaca kalimat terakhir.

Pengalaman hidup yang ditulis Andrea Hirata membuka mata setiap orang yang membacanya lebih lebar dan menorehkan semangat untuk terus berusaha mendapatkan apa yang mereka cita citakan.

Walaupun ada beberapa hal yang sempat membuat saya bingung. Setting kejadian antara SD dan SMP tidak dibedakan secara jelas. Sehingga terkadang saya harus menebak, kapan kejadian ini terjadi. Namun hal ini tak mengurangi keinginan saya untuk melahap setiap kalimat didalamnya.

Buku yang layak untuk dijejerkan ke dalam rak buku setiap orang.

Laskar Pelangi
Penulis: Andrea Hirata
Tebal: 534 hal
Penerbit: Bentang