Wednesday, August 15, 2007

Review: Minoes - Annie M.G. Schmidt





Meneer Tibbe adalah seorang pria yang bekerja sebagai wartawan di sebuah surat kabar Killendoornse Courant. Meneer Tibbe sebenarnya sangat berbakat dalam dunia tulis menulis, hanya saja akhir akhir ini berita yang ditulisannya dianggap tidak layak cetak oleh pemimpin redaksi. Bahkan percakapan siang itu diakhir dengan ancaman pemecatan jika meneer Tibbe tidak menuliskan berita menarik.


Ditengah kegalauannya, tiba tiba saja seorang wanita muda muncul di ruang makan.Wanita itu tidak lain wanita yang ketakutan setengah mati hanya karena Mars, seekor anjing, sehingga harus memanjat sebuh pohon yang cukup tinggi untuk menghindarinya. Wanita yang memperkenalkan dirinya sebagai Minoes Juffrouw, bertingkah laku seperti kucing. Bahkan mengaku bahwa dia dapat berbicara dengan semua kucing di kota itu karena dirinya dulunya seekor kucing. Walau tak satupun yang dipercayai oleh Meneer Tibbe. Ia menganggap semua itu hanya khayalan Minoes semata.


Minoes tak memiliki tempat tinggal, karenanya ia memohon pada Meneer Tibbe agar dijinkan untuk tinggal dilotengnya walau hanya beralaskan kardus kosong. Awalnya Meneer Tibbe keberatan namun akhirnya setuju bahkan mengangkatnya menjadi sekretarisnya.. Bahkan Minoes berhasil menyelamatkan Meneer Tibbe dengan memberikannya bahan yang bisa ditulisnya menjadi berita yang menarik. Meneer Smit menjadi berita pertama yang menyelamatkan Meneer Tibbe dari ancaman pemencatan dari kantor.


Dengan cepat reputasi Meneer Tibbe berubah menjadi wartawan dengan berita yang gemilang hanya dalam waktu seminggu bahkan dijanjikan kenaikan gaji oleh pimpinan . Semua tak lain karena kerja keras Minoes. Dengan kemampuannya berbicara dengan Burik, kucing yang memiliki banyak anak yang telah tersebar diseluruh penjuru kota, ia dapat segera mengetahui segala macam rahasia dan peristiwa yang akan terjadi. Dari kolam renang baru sampai temuan guci yang penuh dengan uang logam di taman gereja.semua berita itu didapatnya dari Kucing Balai Kota dan Oikumenor, anak perempuan Burik yang tinggal disekitar gereja.


Berita-berita baru terus datang silih berganti walaupun tidak sedikit yang tidak layak untuk ditulis menjadi berita. Sampai suatu hari ada berita yang mengagetkan. Tukang ikan menjadi korban tabrak lari.Tak disangka pelakunya adalah Meneer Ellemeet. Sayangnya para saksi hanyalah tiga ekor kucing. Tentu saja hal itu membuat Meneer Tibbe kesulitan untuk menulisnya menjadi berita. Terlebih lagi karena reputasi Meneer Ellemeet di mata masyarakat.


Berita tentang keburukan Meneer Ellemeet terus berdatangan. Dari Burik, Minoes mengetahui bahwa ia pernah terkena botol anggur yang dilempar ole Meneer Ellemeet. Bahkan anak anak yang baru saja dilahirkan oleh Burik dibuang ke tempat sampah dan hampi saja diangkut oleh petugas kebersihan. Sangat ironis, padahal oleh Meneer Smit, ia diangkat menjadi ketua Perkumpulan Penyayang Binatang. Namun sekali lagi tak ada manusia yang dapat dijadikan saksi. Bahkan keda saksi kunci telah disuap terlebih dahulu oleh Meneer Ellemeet. Bahkan ketika Meneer Tibbe nekat menuliskannya menjadi berita, yang didapatkannya hanyalah cemooohan dari seluruh warga kota. Karena tak satupun yang mempercayai berita tentang keburukan Meneer Ellemeet. Mereka mempercayai Meneer Ellemeet sepenuhnya.


Di tengah kekacauan itu, Minoes dan semua kucing di kota pun menyusun rencana untuk mengungkap semua kebenaran. Untuk menyelamatkan kota dan tentu saja untuk menyelamatkan Meneer Tibbe.


Membaca Minoes membuat saya senang. Soalnya jarang sekali buku-buku yang bercerita tentang kehebatan kucing. Biasanya di buku anak –anak, kucing diidentikkan sebagai tokoh antagonis yang hanya memikirkan diri sendiri. Kucing selalu digambarkan sebagai kucing manja yang akan melakukan segala cara untuk membuat perutnya kenyang. Bahkan julukan Men’s Best Friends hanya diperuntukkan bagi anjing, tidak untuk binatang dengan berbulu dan manja ini. Tak perlu jauh jauh, lihat saja semua film-film yang bercerita tentang Kucing, Anjing ataupun Tikus. Biang keroknya pasti kucing. Hiks…


Setidaknya dengan adanya buku ini, diskriminasi terhadap kucing bisa sedikit terhapuskan. 



Minoes
Annie M.G. Schmidt
Alih Bahasa : R. Indira Ismail
Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, Juli,2007
Tebal: 200 hal