Friday, May 2, 2008

Review: The Heart is A Lonely Hunter - Carson McCullers


Buku ini menjadi salah satu hadiah yang saya terima setahun yang lalu. Saat Qanita menggelar lomba menulis resensi melalu milisnya. Dari catatan singkat di belakang buku saya mengetahui bahwa novel yang disampul depannya terdapat cap dari Book Oprah’s Club : The Brand New Selection ini, berkisah tentang kehidupan orang – orang di Amerika, saat rasialis masih menjadi masalah yang mencuat dipermukaan.

Adalah John Singer, seorang pria bisu tuli menjadi toko sentral di buku ini. Pria bisu tuli ini dulunya tinggal bersama sahabatnya, Spiros Antonapoulos, yang juga bisu. Berbeda dengan sahabatnya yang urakan dan hanya memikirkan makanan, John Singer adalah seorang pria yang sangat rapi dengan paras yang selalu terlihat cerdas. Tak hanya dari penampilan, bahkan tingkah laku pun mereka sangat jauh berbeda. Entah berapa kali Antonapoulos melakukan keonaran. Dan setiap kali keonaran itu terjadi dengan segera Pak Singer melakukan sesuatu agar sahabatnya tak perlu mendekam di penjara. Sampai di halaman terakhir saya terus bertanya apa yang membuat Pak Singer terlihat begitu perhatian terhadap Antonapoulos yang selalu bertindak seenaknya. Bahkan tak sekalipun Antonapoulos menunjukkan hal yang sama terhadap Pak Singer.
Dan bukannya sadar, kelakuan Antonapoulos semakin menjadi-jadi. Sampai akhirnya diputuskan bahwa pria tambun ini harus mendapat perawatan khusus di rumah sakit jiwa.

Sejak ditinggal sabahatnya, Pak Singer pun memutuskan untuk meninggalkan rumah yang mereka tinggali bersama selama sepuluh tahun terakhir. Setiap sudut dirumah itu membawa mempunyai kenangan yang hanya membuatnya kembali teringat pada Antonapoulos. Ia menyewa salah satu kamar di sebuah gedung kumuh, tak jauh dari pusat kota dan Kedai yang diberi nama New York Cafe menjadi pilihannya untuk sarapan pagi, makan siang dan makan malam.

Bermula dari Cafe inilah, ia mulai mengenal dekat beberapa orang selain Antonapoulos. Mick Kelly, seorang gadis yang sangat menyukai musik, Jake Blount yang tak pernah berhenti berbicara mengenai ideologi dan membuat orang-orang disekitarnya yakin akan pemahamannya itu. Ada pula Biff Brannon sang pemilik New York Cafe dan terakhir Benedict Copeland, seorang dokter kulit hitam yang tak menentang adanya diskriminasi rasial.

Mereka secara rutin mengunjungi Pak Singer. Seakan dengan menceritakan segala hal pada pria ini membuat mereka lega. Lihat saja Mick, anak perempuan ini tak pernah bosan menceritakan obsesinya pada piano ataupun hal –hal yang terjadi di keluarganya. Cerita tentang Mick ini menjadi salah satu bab yang paling saya sukai.
Lain cerita dengan Jake Blount yang mengutarakan hal – hal yang tak pernah saya mengerti. Belum lagi kisah yang keluar dari mulut sang dokter. Hanya Biff Brannon yang tidak begitu banyak mengeluarkan kata-kata saat ia bertandang ke rumah. Walaupun tak dapat berbicara dan mendengar layaknya manusia normal, namun mereka sangat yakin Pak Singer mengerti setiap kata yang mereka sampaikan. Tak heran jika pertengahan musim panas, kamar Pak Singer hampir selalu terdengar suara-suara

Yang anehnya, tak sekalipun Pak Singer mencoba terbuka kepada empat orang ini tak pernah sekalipun. Tak sedikitpun cerita tentang Antonapoulos yang diceritakan kepada mereka. Bahkan ketika tiba waktu untuk mengunjungi sahabatnya itu, Pak Singer tak sekalipun mengucapkan sesuatu kepada para tamunya itu. Mereka pun mengira bahwa Pak Singer sedang melakukan perjalanan bisnis.

Tak kalah anehnya, ke empat orang ini juga tak pernah dekat satu sama lain. Padahal mereka tahu bahwa mereka kerap kali mengunjungi pria yang sama untuk menceritakan hal yang sama. Memang ada di antara mereka yang memasang dinding tebal seakan tak membiarkan yang lain untuk mendekat. Padahal sadar atau tidak, mereka terkait satu sama lain oleh dua hal. Kesendirian dan Kesepian.

Walau terasa agak berat, terutama bab yang bercerita tentang Jake dan Copeland, namun banyak hal menarik yang saya dapatkan dalam buku ini. Setidaknya Carson McCullers, sang penulis, membantu saya memahami kalimat “ Hidup adalah Pilihan”. Menjadi bahagia atau menderita semua ada di tangan kita.

The Heart is A Lonely Hunter
Penulis: Carson McCullers
Penerjemah: A. Raharti Bambang Haryo
Penerbit: Qanita
Cetakan: I, Februari 2007
Tebal: 494 hlm