Friday, December 26, 2008

Review: Chicken With Plums - Marjane Satrapi


Nasser Ali Khan dan Tar adalah dua hal yang benar – benar asing bagi saya. Setidaknya sebelum menyelesaikan novel grafis ini. Nama Nasser Ali Khan tak pernah saya dengar sama sekali. Begitu pula dengan tar, yang ternyata adalah salah satu alat musik.


Namun tidak demikian dengan orang – orang Iran saat itu. Semua pasti langsung tahu begitu nama pria itu disebut. Tidak perlu heran, karena Nasser Ali Khan adalah salah satu musisi yang sangat piawai memainkan tar. Namun buku ini tidak banyak bercerita tentang kesuksesaannya. Sebaliknya, bercerita tentang hari – hari terakhir sebelum ia menghembuskan nafas terakhir. Walau begitu lembaran demi lembaran buku ini lebih dari cukup untuk mengetahui bahwa Nasser Ali Khan dan tar adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan.


Mengejutkan, ketika suatu hari, tar itu bisa patah dan rusak. Tidak ada kemungkinan untuk memperbaikinya. Perjalanan mencari tar baru pun di mulai.


Bukan hal yang sulit untuk menemukan tar baru. Namun begitu memcoba memainkannya, nada yang dihasilkan ternyata tak seindah tar miliknya terdahulu. Sehingga pencarian berikutnya pun dimulai. Tak peduli jauhnya jarak yang harus ditempuh ataupun berapa banyak uang yang harus ia keluarkan. Semua rela dilakukan demi mendapatkan musiknya kembali. Sayangnya, nada-nada indah itu tetap tak didapatkannya. Ternyata tak ada tar lain yang bisa memberikan kebahagian bermain musik. Semangatnya pun menguap dalam sekejap. Putus asa segera menyelubunginya. Parahnya, ia pun memutuskan untuk mati.


Hari – hari terakhir, dihabiskannya dengan berbaring. Berbagai hal terlintas di benaknya. Termasuk semua cara untuk mengakhiri hidup. Dari hal – hal tersebutlah terungkap mengapa musik indah dari tar yang dipetiknya tak pernah kembali


Setelah membaca Embroideries (Bordir) yang mengungkapkan kehidupan pribadi beberapa wanita Iran, rasa penasaran kembali menggelitik untuk mengikuti kisah yang dituturkan Marjane Satrapi di buku ini. Namun dibandingkan dengan Bordir, Chicken With Plums dikemas dalam goresan – goresan yang lebih rapi. Tak terlihat lagi pria – pria mengerikan. Tentu saja tidak ketinggalan selipan humor kecil ada di dalamnya.


Saya memang tak mengenal Nasser Ali Khan. Bahkan tak sekalipun mendengar musik yang dimengalun melalui tar yang dimainkannya. Namun begitu menyelesaikan buku ini, saya bisa mengerti mengapa nada – nada indah itu tak pernah lagi didapatkannya, mengapa tak satupun tar bisa mengantikan tar miliknya, tak peduli semahal apapun harga yang harus dibayarnya. Saya mengerti. Saya sungguh mengerti.


Chicken With Plums

Judul Indonesia: Ayam Dengan Plum

Karya: Marjane Satrapi

Penerjemah: Tanti Lesmana

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan: I, Agustus 2008

Tebal: 88 hlm

Sumber: Koleksi Pribadi