Wednesday, February 4, 2009

Review: Abarat - Clive Barker



Candy Quackenbush dibuat pusing oleh tugas yang diberikan Miss Schwartz, guru sejarahnya. Ia punya waktu seminggu untuk mengumpulkan sepuluh fakta menarik tentang Chickentown. Kalau ingin menuliskan sesuatu yang biasa – biasa saja, Candy sebenarnya bisa menuliskan hal – hal yang pastinya akan ditulis juga oleh anak lain, yaitu tentang peternakan ayam. Namun Candy ingin sesuatu yang lain.

Pencarian fakta tentang Chickentown pun dimulai. Perpustakaan demi perpustakaan dijelajahinya. Namun tak satupun buku yang menuliskan fakta mengenai Chickentown kecuali mengenai ayam, ayam dan ayam. Sehingga yang terpikir di kepala Candy adalah menuliskan “ Aku tinggal di kota yang tidak memiliki keistimewaan lain” sebagai fakta pertama.

Mengeluh pada ibunya adalah hal yang dilakukan Candy selanjutnya. Untungnya, Mellisa, ibu Candy menawarkan satu solusi menarik. Disurunya Candy menemui teman lamanya, Norma Lipnik yang bekerja di Hotel Comfort Tree. Melalui wanita, Candy mengetahui beberapa fakta baru mengentai Chickentown. Tanpa sedikitpun keraguan semua hal yang didapatkannya dari Norma ditulisnya.

Mala petaka bagi Candy ketika mengetahui jika semua yang ditulisnya itu dianggap sampah oleh Miss Schwartz. Bahkan ketika Candy hendak melakukan pembelaan diri, ternyata hanya membuat Miss Schwartz semakin marah. Bahkan Candy dikirimnya ke kantor Kepala Sekolah untuk melaporkan semua hal yang dianggap oleh Miss Schwartz adala pelanggaran berat.

Entah apa yang menguasainya saat itu, bukannya mengikuti perintah Miss Scwartz, Candy malah berlari meninggalkan sekolah. Sempat terbersit di benak Candy bahwa perbuatannya ini akan membuatnya dikeluarkan dari sekolah. Namun rasa lega yang dirasakannya jauh lebih besar.

Candy membiarkan kaki dan pikirannya membawanya terus menyusuri Lincoln Street. Menuju sebuah padang rumput luas, dan terus berjalan. Hingga ketika menoleh ke belakang, ia tak lagi dapat melihat Chickentown.
Setelah beberapa lama menulusuri padang rumput, Candy sedikit terkejut dengan benda – benda yang ditemukannya. Lusinan kerang, pecahan karya tanah liat, dan tulang belulang ikan. Itu belum apa – apa ketika akhirnya ia mendadak melihat satu mahkluk dengan telinga besar berbulu halus, dengan dua buah tanduk yang sangat besar , mirip tanduk kijang jantan dengan tujuh buah kepala kecil yang menempel padanya. Keterkejutan candy sekamin bertambah ketika mahkluk itu mengenalkan diri sebagai John Misciehf yang tidak lupa mengenalkan 7 saudaranya yang lain.

Belum benar-benar yakin dengan apa yang dilihatnya, mata Candy kembali harus melihat makhluk yang tidak hanya aneh namun juga menyeramkan. Dari penjelasan John Mischief, mahkluk aneh yang bernama Mendelson Shape, sangat kejam dan berbahaya. Di tangannya ada dua bilang pedang tajam yang siap menebas keduanya. Dalam waktu singkat, Candy tahu John Mischieflah yang di kejar Shape. Namun dalam hitungan detik, dirinya pun menjadi incaran sang algojo.

Untung saja di saat- saat terakhir ia dapat melaksanakan apa yang diminta oleh John Mischief dan keanehan berikutnya pun datang. Tiba – tiba saja ia mencium aroma asin air laut yang terbawa angin. Penciumannya tak bohong. Karena tak lama kemudian ombak – ombak laut datang mendekat, berbuih dan bergulung memecah. Laut Azalea, begitu Mischief menyebutnya, akan membawanya ke sebuah kepulauan bernama Abarat.
Keraguan sempat terbersit di pikiran Candy. Namun akhirnya ia memutuskan untuk mengikuti Mischief ke Abarat, meninggalkan semua hal – hal yang membosankan di Chickentown menuju kepulauan yang benar – benar asing baginya. Bersama Mischief, Candy melompat ke dalam debur ombak dan menyerakhkan hidup mereka pada air Laut Izabella yang bergolak.

Seperti apa Abarat, akhirnya terjawab ketika mereka sampai. Dengan mata kepalanya sendiri Candy melihat para penghuni Abarat, berbicara bahkan berkawan dengan beberapa dari mereka. Mengalami berbagai macam petualangan dari satu pulau ke pulau lain dengan nyawa sebagai taruhannya.

Petualangan Candy benar – benar seru sekaligus mengerikan. Tidak hanya harus berhadapan dengan beberapa penguni Abarat yang aneh, sering kali ia harus melarikan diri dari mahkluk – makhluk jahat dan kejam yang mengincar dirinya. Misteri demi misteri perlahan – lahan terungkap. Seperti di buku – buku fantasi lainnya, semua itu tidak lengkap tanpa kehadiran ilmu sihir.

Cerita ini pun semakin seru karena dilengkapi dengan ilustrasi berwarna yang benar-benar keren. Bagaimana tidak, Ilustrasi – ilustrasi yang kebanyakan menggambarkan para penghuni kepulauan Abarat ini disajikan dalam warna – warni yang menarik mata. Dari keterangan di sampul buku, ternyata semua gambar- gambar itu dikerjakan sendiri oleh Clive Barker sang Penulis. Rasanya tidak ada puas –puasnya memandangi ilustrasi – ilustrasi tersebut. Kecuali untuk gambar – gambar yang mengerikan.

Sayangnya tokoh di dalamnya terlalu banyak. Sehingga hanya tokoh-tokoh penting saja yang sanggup saya hapalkan di luar kepala.

Petualangan Candy di buku pertama ini ternyata masih berlanjut pada buku selanjutnya, Days of Magic, Night of War yang semoga tidak kalah seru. 

Abarat
Penulis: Clive Barker
Penerjemah: Sutanty Lesmana
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, Juni 2003
Tebal: 440 hlm