Monday, 19 April 2010

Review: Dead Until Dark - Charlaine Harris



Satu lagi buku yang bercerita tentang vampir. Berbeda dengan buku yang juga mengangkat tema yang sama, keberadaan mahkluk malam penghisap darah ini tidak lagi menjadi momok yang menakutkan. Sebaliknya mereka dengan mudah masuk dan berbaur dalam kehidupan manusia. Semua itu dikarenakan satu penemuan muktahir di Jepang berupa darah sintetis. Yang memungkinkan para vampir bertahan hidup tanpa harus menjadikan manusia sebagai mangsa mereka.

4 tahun sudah sejak darah sintetis itu dijual bebas di pasaran. Para vampir bebas berkeliaran. Selama itu pula Sookie Stackhouse kedatangan seorang vampir di kotanya, Bon Temps.

Sookie, wanita muda cantik yang menjadi tokoh utama di buku ini. Ia memutuskan meninggalkan bangku sekolah dan kini bekerja sebagai pelayan di Bar Merlotte. Dari luar Sookie nampak seperti perempuan berambut pirang lainnya. Walau sebenarnya ia jauh lebih cerdas dari apa yang orang –orang pikirkan. Toh hampir semua orang telah menyisipkan kata “gila” menjadi nama tengahnya.

Semua itu hanya karena kelebihan yang lebih sering disebutnya kelainan yang ia miliki.Sookie dengan mudah mengetahui apa saja yang terlintas dibenak orang lain. Di luar sana mungkin banyak yang berpikir bahwa hal itu merupakan sesuatu yang hebat. Namun tidak demikian dengan Sookie. Ia bahkan berharap tak pernah memilikinya. Karena kelebihan ini lebih sering membuat merasa kelelahan. Bagaimana tidak, Sookie harus berusaha keras untuk menghalangi setiap suara dari pikiran orang lain yang biasanya datang seperti serangan bertubi-tubi.

Tak hanya itu, kemampuannya ini berdampak besar di kehidupan sosialnya. Cap “gila” yang dibubuhkan padanya,jangankan berkencan, teman dekat pun Sookie tak punya. Beruntung masih ada segelintir orang yang tidak berpikiran seperti kebanyakan orang di kota itu. Adalah Adele, neneknya dan Sam, bos pemilik Bar Merlotte’s.
Mimpi yang menjadi nyata

Tak ada pertanda khusus yang didapatkan Sookie, saat seorang pria melangkahkan kakinya di Merlotte’s malam itu. Tak butuh waktu lama bagi Sookie untuk mengetahui bahwa pria berwajah sangat pucat itu adalah vampir.
Keberuntungan nampaknya mengelilingi wanita bermata biru ini. Karena vampir itu memutuskan untuk duduk di meja yang menjadi tanggung jawabnya. Satu hal yang membuatnya nyaris memeking girang adalah ketika mengetahui pikiran pria itu tak dapat dibacanya. Hal itu menjadi daya tarik tersendiri sekaligus kenyataan yang membuat Sookie ingin mengenal lebih jauh pria yang mengenalkan dirinya sebagai Bill Compton.

Bersamaan dengan itu,peristiwa pembunuhan terjadi di Bon Temps. Tak hanya satu, dua, tiga, tapi empat pembunuhan terjadi. Tak banyak bukti yang membuat para warga Bon Temps menjadi tersangka. Namun Sherrif dan seorang detektif mulai membuat list orang –orang yang patut dicurigai. Yang membuat Sookie sangat terkejut adalah ketika mengetahui orang-orang terdekatnyalah yang masuk dalam list tersebut.

Tak tinggal diam, Sookie berusaha untuk mencari tahu siapa sebenarnya pelaku pembunuhan yang membuat teror berkepanjangan bagi setiap warga Bon Temps ini. Walau membuatnya harus melibatkan diri ke tempat-tempat yang cukup berbahaya. Tidak hanya harus berpacu dengan waktu, ia juga harus ekstra hati-hati, karena tidak menutup kemungkinan pelaku juga mengincar dirinya.

~~~

Seru! Satu kata untuk buku ini. Tak terasa buku dengan jumlah 402 halaman itu selesai begitu saja. Walau cover buku ini sedikit membuat saya kecewa begitu melihatnya pertama kali, tapi tidak mengurangi asyiknya kisah buku tentang vampire yang satu ini. Tak heran jika HBO akhirnya mengadaptasinya menjadi serial tv dengan judul True Blood.

Rasanya tak sabar menunggu buku kedua. Walau tidak lagi diterbitkan oleh penerbit Kantera, saya berharap hasil terjemahan buku berikutnya tidak kalah dengan buku pertama.

3/5

Dead Until Dark
Penulis: Charlaine Harris
Penerjemah: Pujia Pernami
Editor: Alika Chandra & Ary Nilandari
Penerbit: Kantera
Cetakan: I, 2010
Tebal: 402 hlm

Wednesday, 14 April 2010

Review: Sebastian Darke: Prince of Fools - Philip Caveney


Alexander adalah seorang pelawak kawakan di kerajaan Cletus. Semua lelucon, sindiran dan ceritanya mampu membuat ruangan istana penuh dengan ledakan tawa. Tak heran dengan kemampuannya itu, ia sanggup member kemewahan kepada istri dan Sebastian,anak laki-lakinya.

Sayangnya keadaan itu hanya terjadi beberapa tahun. Raja Cletus mangka dan diganti dengan putranya Daniel yang ternyata tak mewarisi sedikitpun selera humor ayahnya. Sehingga tak perlu heran jika Alexander kehilangan pekerjaan dan semua kemewahan yang didapatkannya selama ini. Kehidupan keluarga kecil itu pun berubah drastis. Walau telah mencoba untuk memulai peruntungan di kedai-kedai minuman ataupun di gedung teater music, ternyata pendapatannya tak cukup untuk menghidupi keluarganya.

Sampai suatu hari, ia mendengar kabar tentang kebaikan Raja Septimus, pemimpin tertinggi kota Keladon. Alexander tak ingin melewatkan kesempatan ini. Ia berniat untuk menawarkan jasanya. Tak peduli jarak yang akan ditempuhnya. Segala sesuatu pun dipersiapkan. Termasuk berlatih berhari-hari tanpa henti, siang dan malam. Saking seriusnya, Alexander lupa akan kesehatannya sendiri. Suatu pagi, ia ditemukan oleh istrinya tergeletak pingsan.Pria yang menikahi seoran peri itu teresang demam tinggi. Malang bagi ketiganya, demam itu tak kunjung sembuh dan parahnya membawa Alexander pada kematian.

Sepeninggalan sang ayahnya, Sebastian merasa tanggung jawab akan keberlangsungan keluarga berasa di tangannya. Tak ada profesi yang terpikir selain mengikuti jejak ayahnya, menjadi seorang pelawak. Sayang, tak sedikitpun bakat sang ayang yang mengalir dalam daram Sebastian. Bukannya lucu, lelucon yang dilontarkannya cenderung membosankan. Tak peduli kemampuannya menghafalkan semua lelucon-lelucon dengan sangat baik. Dan Sebastian sadar betul akan hal itu.

Namun keadaanlah yang membuat Sebastian nekat untuk melanjutkan rencana ayahnya untuk mengadu nasib di kota Keladon. Walau tahu bahwa perjalanan ini sangat berbahaya. Bersama Max, Buffalope miliknya, ia pun memulai perjalanan.

Perjalanan yang mereka tempuh terasa sangat melelahkan. Bekal persediaan yang dibawanya semakin menipis. Dan sialnya mereka diserang kawanan Luper liar yang nyaris membuat nyawa mereka melayang. Beruntung, mereka di tolong oleh Golmra Corlnelius , kesatria ahli tempur, yang ternyata juga hendak mengadu nasib di kota yang sama.

Setelah saling mengenal, akhirnya mereka sepakat untuk menempuh perjalanan dan menjemput mimpi. Dengan harapan akan terjadi perubahan nasib. Sayangnya, mereka tak tahu bahwa bahaya yang tak sesungguhnya sedang menunggu di sana.

~~
Untuk buku yang mengkategorikan dirinya dalam genre fantasi, buku ini kekurangan banyak bumbu. Terlepas dari mahkluk-makhluk ajaib sang Bufaloppe, buku ini sangat miskin akan unsur magis. Jadi pembaca yang benar-benar menyukai buku fantasi tak bisa berharap banyak

Namun satu kelebihan buku yang telah diterjemahkan ke dalam 10 bahasa asing dan mendapat beberapa penghargaan seperti Waterstone Children’s Book, Stockholm Prize dan Coventry Inspiration Book award adalah sisi humor yang sangat tebal. Saya benar-benar terhibur setiap kali membaca semua percakapan yang melibatkan Max di dalamnya. Binatang peliharaan Sebastian ini sungguh kocak. Bahkan sempat terpikir seharusnya Max lah yang berdiri di atas panggung.

Sebastian Darke: Prince of Fools
Penulis: Philip Caveney
Penerjemah: Aan
Editor: Fransisca Goenarso
Penerbit: Mizan Fantasi
Cetakan: I, Agustus 2009
Tebal: 356 hlm

Thursday, 18 March 2010

Review: Captain Underpants And The Attack of The Talking Toilets - Dav Pilkey


Setiap ada kejadian aneh di sekolah, tak perlu berpikir keras untuk mengetahui siapa biang keladinya. Karena dapat dipastikan George dan Harold-lah yang bertanggung jawab. Begitulah anggapan Miss Ribble, Mr Meaner, Miss Anthrope, para guru mereka di SD Jerome Horwitz dan tak ketinggalan Mr. Krupp sang kepala sekolah. Mereka bahkan punya julukan untuk kedua anak laki-laki itu. Biang kerok , licik, bandit kriminal, dan beberapa kata yang tidak rasanya tidak pantas untuk ditulis dan diucapkan. Mereka memang benar-benar dibuat gemas oleh kelakuan George dan Harold.

Lihat saja tingkah mereka tahun lalu di Konvensi Invensi Tahun Pertama. Lomba karya ilmiah yang seharusnya jadi ajang unjuk kebolehan setiap siswa itu menjadi berantakan dengan insiden kursi lengket. Setiap kursi mereka olesi dengan lem jenis baru yang mereka ciptakan dari campuran semen karet dan jus jeruk murni tanpa air. Tidak hanya kepala sekolah namun semua orang di ruangan olah raga mendidih oleh amarah karenanya. Semua menjadi sangat kacau saat itu.

Sehingga tak heran kalau Konvensi Invensi Tahun Kedua kali ini George dan Harold tidak ijinkan untuk mengikuti perlombaan. Tak tanggung-tanggung, Mr Krupp menuliskan catatan kecil di poster pengumuman “ Perlombaan ini terbuka bagi semua murid kelas tiga dan empat, Kecuali George Beard dan Harold Hutchins”. Padahal hadiah untuk juara pertama kali ini adalah menjadi kepsek sehari. Hadiah yang sangat menggiurkan. Setidaknya bagi kedua anak laki-laki itu. Sayang, kesempatan tertutup bahkan sebelum mereka mencoba. Tidak hanya tak diijinkan untuk ikut perlombaan, saat perlombaan pun mereka dilarang keras untuk mendekati ruang olahraga. Oleh Mr Krupp mereka diharuskan berada di ruang belajar seharian penuh.

Mr Krupp berpikir tindakannya kali ini bisa membuat Konvensi kali ini berjalan lancar. Namun nampaknya kepala sekolah ini belum benar-benar mengenal George dan Harold. Karena mereka yang disebutnya bandit criminal ini tentu tidak pernah akan diam saja karena kehilangan kesempatan untuk bersenang-senang. Rencana demi rencana telah tersusun rapi dalam benak mereka. Sayang George dan Harold sendiri tak pernah berpikir bahwa kekacauan yang mereka timbulkan kali ini sungguh berbahaya. Bukan hanya pasukan toilet cerewet yang siap menelan siapapun dihadapan mereka namun juga kemunculan sang Kapten Kolor.

~~

Masih dengan ilustrasi yang keren, George dan Harold kembali dengan cerita kenakalan mereka yang tidak kalah dengan buku sebelumnya. Bahkan dibanding buku mereka yang pertama, menurut saya buku kali ini jauh lebih seru dan lucu. Rasanya tidak sabar untuk melihat aksi mereka di buku berikutnya. Yang pastinya tidak kalah aneh.

Satu hal yang menarik dari buku ini adalah hasil penemuan-penemuan para siswa SD Jerome Horwitz yang membuat saya sungguh ingin memilikinya. Patsy 2000, nama yang diberikan sang penemu untuk alat yang ia buat. Tentu saja tidak akan saya tuliskan lebih jauh, alat seperti apa itu. Semua detail dalam buku akan lebih seru jika dibaca sendiri. 

Captain Underpants And The Attack od The Talking Toilets
Judul Indonesia: Kapten Kolor dan Serangan Toilet Cerewet
Penulis: Dav Pilkey
Penerjemah: Rosi L. Simamora
Cetakan: II, Januari 2010
Tebal: 144 hlm


Monday, 22 February 2010

Review: Glubbslyme - Jacqueline Wilson



Musim liburan kali ini tiba-tiba menjadi tidak seru. Jauh dari yang direncanakan Rebecca. Sarah, teman dekatnya ternyata lebih memilih untuk menghabiskan masa liburan bersama Mandy, anak perempuan yang tinggal tepat disamping rumah Sarah. Awalnya Rebecca berpikir mereka bertiga akan menjadi teman bermain yang mengasyikkan. Sayangnya, Mandy hanya ingin bermain bersama Sarah, tidak dengan anak perempuan yang dianggapnya hanya mengganggu mereka dengan ocehannya yang tidak penting.

Lihat saja ketika mereka bertiga mencoba berpiknik bersama sambil makan sandwich stroberi di taman yang berada dekat dengan sebuah kolam. Mandy dan Sarah sedang asyik mencoba lipstik pink. Rebecca yang tidak diijinkan untuk ikut mencoba menjadi bosan dibuatnya. Ia akhirnya berusaha untuk mengalihkan perhatian sarah dengan mulai bercerita bahwa kolam yang airnya keruh itu dulunya adalah kolam penyihir. Saat itu banyak orang-orang yang membenci para penyihir. Penyihir yang berhasil mereka tangkap dibenamkan di kolam tersebut. Alih-alih membuat Sarah percaya pada ceritanya, Rebecca malah mendapat cemooh dari Mandy bahkan dianggap konyol oleh Sarah. Oleh keduanya, Rebecca ditinggal sendirian, di saat ia mencoba untuk membuktikan kebenaran ceritanya dengan masuk ke dalam kolam.

Rebecca yang malang. Tidak hanya kehilangan Sarah, ia juga akhirnya terjebak di keruhnya air kolam. Air kolam yang awalnya hanya berada dibawah lutut, ternyata bertambah menjadi sepinggang ketika ia mulai melangkah lebih jauh. Mungkin kolam itu benar-benar dalam seperti yang diceritakan ayahnya. Dengan langkah tergesa, Rebecca berusaha mencapai pinggiran kolam. Ketika mencoba melangkah, tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang berlendir dan mencakar-cakar mencengkram kakinya.

Dengan susah payah akhirnya ia berhasil mencapai tepian kola dan akhirnya sadar sesuatu yang melekat dengan kuat dipergelangan kakinya tidak lain adalah seekor kodok bangkong. Sekali lihat setiap orang pasti akan bergindik. Kulitnya yang berbintil terlihat sangat menjijikan belum lagi dua mata yang melotot, ditambah dengan kemampuannya berbicara layaknya manusia. Glubbslyme, begitu ia menyebut namanya. Tak lupa ia menjelaskan kepada Rebecca bahwa ia dulunya adalah familiar seorang penyihir sungguhan yang hidupnya berakhir dengan menggenaskan di kolam tersebut.

Tak dinyana, Rebecca tak memiliki ketakutan sedikitpun terhadap Glubbslyme. Ia bahkan membawanya pulang. Bukan karena ketertarikan pada kemampuan sihir Glub.Kodok itulah yang meminta Rebecca untuk membawanya pulang. Awalnya sempat terbersit keraguan, namun mengingat ia telah melihat dengan mata kepala sendiri, kodok itu pasti bisa melakukan sesuatu yang lebih dari sekedar mengeringkan pakaiannya yang basah saat nyaris terbenam tadi. Setidaknya ia mendapatkan teman bicara dan tak akan merasa sepi. Selain itu ia juga bisa sedikit bermain-main dengan sihir yang dimiliki Glub. Sayangnya ia tak pernah tahu, Glub tak pernah main – main dengan sihir yang dimilikinya.
Seperti buku-buku Jacqueline Wilson yang bergenre fantasi, kisah ini juga terkesan ringan. Tidak perlu mengernyitkan kening untuk mengikuti alur dan setting yang rumit seperti banyak buku fantasi kebanyakan. Itu memang menjadi ciri khas Jacqueline. Tapi tetap asyik untuk dibaca. Tokoh Glubbslyme sang kodok adalah salah satu alasannya. Ia bisa sombong, angkuh dan lucu bahkan terkesan konyol dalam waktu yang bersamaan.

Keistimewaan lain dari buku ini adalah ilustrasi yang dipakai Jacqueline Wilson berbeda. Setelah mengecek di datanya tentang bukunya, illustratornya ternyata memang beda. Kalau buku-buku yang lain menggunakan gambar yang dibuat oleh Nick Sharratt, kali ini goresan tangan Jane Cope yang dipilih. Nick sendiri hanya kebagian menggambar sampul.

Glubbslyme
Judul Indonesia: Kodok Ajaib
Penulis: Jacqueline Wilson
Ilustrasi: Jane Cope
Ilustrasi Sampul: Nick Sharratt
Penerjemah: Poppy Damayanti Chusfani
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, Agustus 2009
Tebal: 152 hlm

Friday, 19 February 2010

Review: The Highest Tide - Jim Lynch



Seperti malam-malam sebelumnya, Miles O’Malley melakukan ritualnya menyusuri paya asin. Kegiatan yang kerap ia lakukan tanpa sepengetahuan ayah dan ibunya. Miles menyelinap keluar setelah memastikan keduanya terlelap. Sekop kecil, ransel dan kantong plastik tak pernah lupa dibawanya. Benda-benda itulah yang membantu Miles mengumpulkan dan menampung binatang –binatang laut yang ia temukan. Dengan kayak miliknya, dengan leluasa Miles menjelajahi perairan Puget Sound.

Kegiatan mengumpulkan binatang laut yang membuat insomnianya semakin parah bukan tanpa tujuan. Beberapa lembar dollar adalah bayaran yang akan ia terima begitu bintang laut, siput laut, kepiting dan makhluk-makhluk lain berpindah tangan. Makelar aquarium dan salah satu restoran di Olympia adalah pelanggan tetap yang siap menadah semua tangkapan Miles. Jadi tak perlu heran jika Miles berhasil mengalahkan ketakutan akan gelapnya malam ataupun bahaya lain yang mungkin mengincarnya. Apalagi saat itu bulan sedang bersinar dengan terang, tangkapannya akan lebih banyak dari biasanya.

Siapa sangka, malam itu yang ditemukannya lebih dari sekedar remis ataupun tiram. Tak tanggung-tanggung, yang dilihat Miles adalah sebuah cumi raksasa yang terdampar. Tak butuh waktu lama sehingga berita itu menyebar ke seluruh warga sekitar. Dari para ilmuan, warga sekitar dan tentu tak ketinggalan para wartawan,dari media cetak sampai televisi, yang selalu haus akan berita-berita semacam ini. Sebagai orang yang menemukannya pertama kali, Miles tak luput dari serbuan pertanyaan – pertanyaan mereka.

Pertanyaan demi pertanyaan dijawabnya seadanya. Ia tak ingin para pemburu berita ataupun seluruh penduduk sekitar bahkan kedua orang tuanya tahu bahwa ia mengetahui dengan sangat baik hampir seluruh mahkluk –makhluk laut yang berkeliaran di teluk kecil itu.Ia tak pernah tahu bahwa begitu kalimat “ Mungkin bumi ingin mengatakan sesuatu pada kita” terucap dari mulutnya, kehidupan anak laki laki berusiua 13 tahun, Miles O’ Malley, berubah. Bahkan beberapa minggu setelah kejadian penemuan cumi-cumi raksasa itu berlangsung.

Buku ini telah lama saya incar. Namun ketika pertama kali terbit, hati saya tak tergerak untuk segera membawanya pulang. Tiga tahun setelah buku ini diterbitkan, saya kembali menemukannya di deretan buku yang diberi diskon 30%. Bahkan begitu menjadi milik saya, tidak serta merta membuka plastik pembungkus dan membacanya. Karena ia harus masuk dalam antrian. Selama itu pula, saya tak pernah tahu bahwa buku ini sangat menarik.

Ceritanya juga menghibur. Terlepas dari banyak makhluk laut dengan sangat detail dan cukup membuat saya bingung seakan membaca satu bab di pelajaran biologi. Ada beberapa hal yang membuat saya tidak juga tergerak untuk meletakkan buku ini. Adalah pembawaan, ucapan, tingkah Miles sebagai tokoh utama, yang lucu dan cerdas dalam waktu yang bersamaan. Siapa sangka dengan usia semuda itu, Miles mengetahui banyak hal yang belum tentu diketahui oleh anak-anak yang sebaya dengannya. Bukan hal yang mustahil, ketika kegemarannya melahap buku menjadi kunci dibalik semuanya.

Selain tingkah laku Miles, percakapan antar tokoh juga menjadi daya tarik tersendiri di buku ini. Banyak obrolan mereka yang membuat saya tersenyum bahkan nyaris terpingkal-pingkal. Kisah kehidupan pribadi Miles pun jadi satu hal yang layak mendapat perhatian. Diluar dari pengetahuannya yang mendalam tentang laut beserta isinya, ia tetaplah anak-anak.

Andai saja buku ini dilengkapi dengan ilustrasi tentang semua makhluk yang disebut dengan detail oleh Miles, tentu akan menjadikannya menjadi sangat sempurna. Namun bagi para juri, ternyata tanpa ilustrasi sekalipun, buku ini pantas untuk memenangkan Pasific Northwest Bookselless Book Award 2006.

The Highest Tide
Judul Indonesia: Pasang Laut
Penulis: Jim Lynch
Penerjemah: Arif Subiyanto 
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama 
Cetakan: I, Desember 2006

Tebal: 328 hlm

Thursday, 11 February 2010

Review: The Adventure of Captain Underpants - Dav Pilkey



Kalau menyebut nama George Beard dan Harold Hutchins, setiap murid dan guru di SD Jerome Horwitz pasti langsung teringat dengan dua anak laki laki paling iseng dan konyol. Tak satu pun yang lilos dari pandangan mata mereka. Teman sekelas, pemandu sorak, anggota marching band, para pemain football bahkan guru sekalipin menjadi sasaran keusilan mereka. Sehingga jika terjadi sesuatu dapat dipastikan dua anak laki-laki yang bersahabat sejak kecil itu yang bertanggung jawab. Setidaknya seperti itulah anggapan Mr Krupp, kepala sekolah mereka yang galak.

Tidak ada keinginan terbesar dari Mr Krupp selain menangkap basah kedua anak bandel itu. Apalagi ketika tahu bahwa George dan Harold mulai memperdagangkan komik-komik buatan mereka yang diberi judul Kapten Kolor. Sebenarnya Mr Krupp tidak hanya membenci George dan Harold karena pada dasarnya pria ini memang tak menyukai anak – anak. Teriakan mereka membuatnya gerah.

Setelah sekian lama menunggu, akhirnya kesempatan itu datang. Mr Krupp berhasil memergoki mereka saat keduanya tengah beraksi. George dan Harold tak dapat mengelak, karena semuanya terekan dengan rapi dalam sebuah kaset video. Ternyata Mr Krupp telah menyiapkan beberapa kamera tersembunyi di beberapa tempat.

Tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada, Mr Krupp pun mulai melancarkan aturan demi aturan. Dengan ancaman akan menyebarkan rekaman itu bila keduanya mangkir. Tidak ada pilihan lain bagi kedua anak itu selain memulai rutinitas baru dengan membersihkan apapu di rumah Mr Krupp, ruang kerjanya di sekolah sampai menghabiskan setumpuk buku yang harus mereka baca setelah pulang sekolah.

Namun bukan George dan Harold jika kehabisan ide. Dengan sebuah cincin hipnotis 3-D yang dipesannya di toko Perhiasan Si Cebol Sok Tahu. Segera setelah benda itu berada di tangan, mereka berhasil membalikan keadaan. Tak hanya berhasil merebut rekaman, namun mereka tak menyia-nyiakan ketika Mr Krupp berada dalam keadaan terhipnotis. Tak ayal, mereka menyuruh Mr Krupp meniru Kapten Kolor, tokoh utama komik buatan mereka. Sayangnya mereka membuat kecerobohan, Mr Krupp yang masih berkostum sang Kapten ternyata kabur keluar sekolah saat mereka lengah. Kenakalan mereka kali ini sungguh mendatangkan masalah yang jauh lebih besar

Buku yang dilengkapi dengan ilustrasi memang punya daya tarik tersendiri. Itu yang membuat saya menyukai buku ini. Kenakalan George dan Harold jadi lebih nyata.

The Adventure of Captain Underpants
Judul Indonesia : Petualangan Kapten Kolor
Penulis: Dav Pilkey
Penerjemah: Rosi L Simamora
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: II, Januari 2010
Tebal: 128 hal

Monday, 1 February 2010

Review: Nod’s Limbs - Charles Ogden




Pet sekarat!. Gigitan Morella ternyata berdampak sangat buruk. Rambut-rambut Pet mulai berjatuhan. Pergerakannya semakin lemah. Sayangnya, balsam sebagai satu-satunya obat penawar tertimbun jauh di dalam tanah berlapis tebal akibat ledakan yang terjadi akibat ketidaksengajaan Edgar.

Tak ada balsam berarti selamat tinggal bagi Pet. Menggali timbunan menjadi satu-satunya cara untuk mencapai sumber balsam. Sayang usaha Edgar dan Ellen tak membuahkan hasil. Timbunan tanah terlalu tebal. Tenaga mereka berdua tak cukup besar untuk menembusnya. Padahal waktu yang tersisa semakin sedikit. Mereka nyaris dibuat putus asa karenanya sampai ketika terdengar kabar ditemukannya surat wasiat August Nod.

Di carikan kertas itu, pendiri kota akan memberikan potongan tubuh patung emas kepada siapa pun yang bisa menemukannya. Potongan tubuh itu terletak di suatu tempat yang hanya diketahui oleh Augustus Nod. Warga kota Nod’s Limbs petunjuk yang yang sangat minim. Tapi itu tak menyurutkan semangat mereka memulai pemburuan. Kesempatan yang bisa membuat semua orang menjadi kaya mendadak ini tak dilewatkan oleh siapa pun termasuk si kembar beracun. Patung emas yang mereka temukan tidak hanya untuk menyelamatkan Pet namun juga rumah mereka.

Edgar dan Ellen harus bergegas karena Pet tak dapat menunggu lebih lama. 

Bukunya lumayan seru. Di buku ini terungkap beberapa rahasia kelam kota Nod’s Limbs, karena beberapa kejutan besar. Belum lagi akhirnya yang menyenangkan. Walau tetap saja masih banyak pertanyaan – pertanyaan yang tidak terjawab. Buku-buku baru yang berisi petualangan Edgar dan Ellen sebenarnya masih ada beberapa, seperti Hot Air, Frost Bite, Splint Ends bahkan ada Mischief Manual, buku yang menjadikan Edgar dan Ellen sebagai narator. Sayangnya tidak ada kabar dari penerbit Matahati. 

Penulis :Charles Ogden
Penerjemah: Gunawan Wijaya
Penerbit: Matahati
Cetakan: I, April 2009
Tebal : 262 hlm

#SS2014: The Riddle

Here we go again~ Setelah dua tahun berturut-turut dapat buku terjemahan, tahun ini aku dapat buku dari penulis Indonesia. Ud...