Monday, 9 January 2012

Review: Diary Si Bocah Tengil: Kenyataan Pahit - Jeff Kinney


Sejak dulu, Greg Heffley selalu ingin cepat-cepat dewasa. Namun, apakah bertambah usia memang seenak yang dia bayangkan?

Greg mendadak harus berurusan dengan berbagai macam tekanan, yang disebabkan oleh pesta menginap di sekolah, bertambahnya tanggung jawab, dan bahkan oleh perubahan-perubahan canggung yang biasa timbul seiring dengan bertambahnya usia.

Dia terpaksa menghadapi semua itu tanpa kehadiran sang sahabat baik, Rowley, di sisinya.

Dapatkah Greg melewatinya seorang diri? Ataukah dia harus berhadapan dengan “kenyataan pahit”?

“Diary si Bocah Tengil kelihatannya akan mendominasi dunia.”
Majalah Time

Salah satu buku bacaan berseri untuk anak-anak tersukses yang pernah diterbitkan.”
Washington Post

“Kalau anak-anak Anda suka membaca … dan lebih-lebih jika mereka tidak suka membaca, maka ini adalah buku yang tepat untuk mereka.”
Whoopi Goldberg, The View
~~~

The Ugly Truth - Kenyataan Pahit, masih berkisah tentang kehidupan Greg Heffley, di rumah maupun sekolah. Banyak hal yang terjadi selepas musim panas usai. Sesuai judulnya, Greg kali ini harus mengalami banyak hal yang tidak menyenangkan. Dari hubungannya yang tidak juga membaik dengan Rowley, tidak lulus audisi iklan Peachy Breeze,  sampai ketika ia harus menghadiri pesta pernikahan Paman Gary yang menyebabkannya tidak dapat menghadiri pesta yang diadakan oleh Jordan, anak populer di sekolah. Tidak berhenti sampai di situ, Greg juga harus berhadapan dengan masalah-masalah baru yang muncul ketika ibunya memutuskan untuk kembali ke bangku sekolah. Hanya dalam beberapa hari tanpa kehadiran ibu  di rumah, keadaan menjadi kacau berantakan. Dari masalah sarapan sampai urusan membantu mengerjakan PR. Greg sungguh dibuat frustrasi karenanya. Malang bagi Greg karena deretan kenyataan pahit tidak berhenti sampai di situ.

Berbicara tentang orang-orang di sekitar Greg, gelar tokoh paling menyebalkan di buku ini tidak lagi saya berikan pada Rodrick. Kali ini Rowley lah yang pantas menerimanya. Senang banget pas tahu apa yang terjadi pada Rowley di pesta Jordan. Rasain!!! Setelah Rowley, Manny menempati urutan kedua. Walau tidak lagi menimbulkan banyak masalah bagi Greg, namun saya tetap tidak suka ketika ilustrasi adik bungsu Rodrick ini muncul. Isabella, asisten rumah tangga yang dipekerjakan oleh ibu Greg untuk membersihkan rumah, berada di urutan ketiga. Keberadaan wanita ini hanya menambah daftar kesialan Greg.

Seperti buku-buku sebelumnya tidak butuh lama untuk  melahap habis buku ini. Namun ketika sampai di halaman terakhir saya sadar bahwa kisah Greg di buku kelima ini tidak lagi mengundang banyak senyum ataupun tawa kecil. Bahkan ketika sang tokoh utama masih sama konyolnya. Kalau diingat lagi, hanya lembaran yang memuat tentang Rowley yang lucu. Itu pun hanya sebagian kecil. Mungkin "Kenyataan Pahit" memang tidak dimaksudkan itu. Di buku kelima ini, saya cenderung kasihan pada Greg.

Walau tidak begitu terkesan dengan kisah Greg di buku kelima, Saya tetap ingin membaca Diary of a Wimpy Kid: Cabin Fever. Semoga terjemahannya bisa terbit tahun ini.

Cover dan Ilustrasi
Dari buku pertama sampai buku kelima, Ilustrasi masih memegang peran penting. Lucu ngeliatnya. Mengenai cover, Dibanding empat buku yang telah terbit sebelumnya, warna Kenyataan Pahit yang paling menarik. Ekspresi Greg di sampul depan mewakili hampir semua kejadian yang dialaminya. Pas banget.

Penulis: Jeff Kinney
Judul Asli: Diary of a Wimpy Kid #5: The Ugly Truth
Penerjemah: Ferry Halim
Editor: Jia Effenfi, Ida Wajdi
Penerbit: Atria
Tebal: 218 hal
Cetakan: I, Agustus 2011


Thursday, 5 January 2012

Top 5 Best Book Characters 2011

Dibanding dua postingan sebelumnya, kategori ini jauh lebih mudah. Bahkan rasanya 5 nggak cukup. Soalnya banyak banget karakter yang menurutku keren. Tapi setelah menimbang ini dan itu , akhirnya aku milih :



Park So-Nyo
Wanita, Ibu, istri, kakak/adik ipar ini perhatian banget ma keluarganya. Nggak pengen ngerepotin siapapun. Kalau minjam istilah seseorang, hatinya tuh seluas samudra. Bisa nampung banyak. Jadi nggak hanya untuk anak-anak dan keluarganya. Tapi juga buat orang lain yang nyaris nggak dikenalnya. Wanita ini juga yang buat saya jadi kangen banget ma Mama. Nangis sesegukan tengah malam buta pengen pulang rumah. 


 Julia Jarmond
Entah berapa kucing yang mati karena rasa penasaran yang dimiliki wartawan ini. Namun saya ngerti banget mengapa Julia bisa terobsesi dengan sosok Sarah. Aku juga suka banget ketika dia akhirnya memilih janin dalam kandungannya, walau itu berarti ia harus kehilangan suami. 

 
Rose Hathaway
Nyaris lupa dengan karakter yang menurutku keren banget. Jarang nemu cewek seperti ini di buku. Rose seakan nggak punya rasa takut sama sekali dan nggak pernah peduli dengan perkataan orang lain. She rocks!!! Jadi ingat blom baca buku keduanya.

 
 Nobody Owen (Bod)
Anak yatim piatu dengan kehidupan yang istimewa. Dari kecil, Bod udah terbiasa dengan makhluk dari alam lain. Kuburan bukan sesuatu yang menyeramkan baginya. Yang paling saya suka ketika dia ngebela-belain ngelanggar aturan dari Silas, mentornya, hanya karena pengen ngasih batu nisan ke temannya. Sama seperti Julia, Bod juga punya rasa penasaran yang besar banget. I saw myself in them :D

Lina Vilkas
Karakter yang kuat banget. Walau hampir semua kisah di buku ini menyedihkan, namun saya suka cara dia bercerita. Semua paragraf tentang Ayahnya, sempat buat saya iri. Ah iya, dia tuh jago banget gambar.  Pengen belajar gambar ma dia. 



Wednesday, 4 January 2012

Top 5 Most Annoying Book Characters 2011

Seperti hari sebelumnya untuk postingan Top 5 hari ini hanya satu nama yang terlintas. Dengan yakinnya saya mengatakan kepada Ana akan menempatkannya di urutan teratas. Namun ketika melihat kembali list bacaan, ternyata dia tak sendiri. Masih banyak karakter yang nggak kalah ngeselin. Sampai rasanya pengen  nimpuk.


Khusus untuk buku ini saya memilih dua karakter sekaligus. Kalau hanya memilih satu, tidak adil buat yang lain. Bagaimana pun juga, Heathcliff dan Joseph punya sumbangsih sama besarnya untuk semua emosi yang saya rasakan saat membaca Wuthering Heights. 
  
Heathcliff
Pria penuh dendam, yang rela melakukan apa saja untuk menyakiti orang lain,  sampai ngga peduli lagi ma orang-orang sekitar bahkan darah dagingnya sendiri. 



Joseph
Pria tua dengan mulut penuh bisa. Sampai-sampai tiap kali dia ngomong, tangan jadi gatal banget pengen ngambil kain untuk membekap atau ngga spons cuci piring. Beneran nggak sekolah deh!!!! Bacaannya tiap minggu ternyata nggak berpengaruh apa-apa. :(



Paris
Laki-laki yang luar biasa sombong. Eh nggak cuman itu, Paris juga serakah tingkat dewa.  Gara-gara dia juga nih, perang jadi pecah. Kasihan ma penduduk Troya. Setiap kali liat cengirannya, jadi pengen cepet-cepet minta  Sparta dan sekutunya datang dan ngebawa kuda Troya.



Uncle Al  
Kalau tadi pengen ngasih spons buat Joseph, kalau Uncle Al pengen kukasih tiket gratis menginap di kadang yang penuh dengan singa kelaparan. Yah itu sebagai balasan untuk hobinya mendorong orang dari kereta.

Monsieur de Vildefort
Kesel banget ma laki-laki yang satu ini. Hanya demi reputasi, Dantes yang nggak salah apa-apa malah dijebloskan gitu aja ke penjara. Senang deh ketika tahu gimana nasib akhir penuntut umum ini


Kalau dilihat lagi, ternyata hampir semua karakter punya satu kesamaan deh.

Tuesday, 3 January 2012

Top 5 of Book Boyfriends 2011

Postingan ini muncul dari hasil chit-chat bersama Ana dan Mia di Gtalk. Tidak banyak pilihan dari 175 buku dan komik yang saya baca 2011 kemarin. Karena dari semua tokoh pria yang ada, hanya sedikit yang meninggalkan kesan.  Bahkan ketika kategori ini muncul, saya hanya bisa memikirkan satu nama. Saya harus mengecek satu demi satu buku untuk memilih siapa saja yang pantas untuk masuk di kategori ini. Dan akhirnya saya memilih:




Lester McKinley

Setelah Atticus Finch, Lester adalah karakter pria di buku yang mampu membuat saya mengucapkan kalimat "I loved this man". Abang Alice yang memang kadang jahil namun dia sayang banget ma keluarganya. Lester juga sosok abang yang protektif banget ma adiknya. Pengen deh minta pengarangnya nulis buku khusus tentang Lester. hehe. Walau sempat dibuat galau oleh beberapa wanita, tapi Lester tetap keren di mataku .



 Adam Wilde

Bagi yang telah melahap Where She Went, pasti tahu benar mengapa Adam berada di kategori ini. Dari awal pertemuannya, sebelum dan setelah kecelakaan, bahkan beberapa tahun setelah itu, semua bisa tahu betapa dalamnya perasaan  Adam untuk Mia. Jadi iri banget ma Mia. Pada saat yang sama jadi pengen nampol. Kenapa sih ninggalin Adam???!!!  Banyak yang ngantri tahu!!!


Patrick

Cara Patrick memperlakukan sahabat baik sekaligus wanita yang dicintainya membuat saya memutuskan untuk menuliskan namanya di kategori ini. Semua tahu betapa Patrick mencintai Nina, walau Nina sendiri memilih untuk menikahi orang lain. Patrick ngga ngotot untuk membuatnya berpaling. Walau tahu kesempatan itu tak pernah ada, namun Patrick memilih untuk tinggal dan memastikan bahwa dirinya selalu ada untuk Nina. I want this Man!!!



 Garett Black

Awalnya sempat kesal ma Garrett. Tapi akhirnya meleleh ketika akhirnya tahu bagaimana usaha tanpa henti Pria yang sempat menjadi tunangan Sophie. Garret nggak pernah menyerah sama sekali. Nggak peduli berapa kali Sophie bilang tidak, Garret tetap saja datang ke toko cokelat dan menawarkan hal yang sama. Hatinya.




Silas

Tidak ada yang tahu makhluk jenis apa ayah angkat Bod , yang jelas saat membaca buku ini saya suka banget ma karakternya. Dia bukan hanya mentor yang bijaksana, Silas juga bisa jadi  Ayah yang baik untuk anak-anak (angkatnya).Haha. 

Semoga 2012 nanti bakal nemu lagi pria macam mereka. :D


Review: Clockwork Angel - Cassandra Clare


SIHIR MEMANG BERBAHAYA—TAPI CINTA TETAP LEBIH BERBAHAYA

Pada zaman Victoria, Tessa Gray yang berusia enam belas tahun menyeberangi samudera untuk menemui kakak laki-lakinya di Inggris. Sesuatu yang mengerikan sedang menantinya di Dunia Bawah London, di mana vampir, warlock, dan makhluk gaib lainnya berjalan diam-diam di jalanan yang diterangi lampu gas. Hanya para Pemburu Bayangan, ksatria yang mengabdi untuk menyingkirkan iblis dari dunia, yang menjaga keteraturan di tengah kekacauan.

Tanpa teman dan diburu, Tessa berlindung kepada para Pemburu Bayangan di Institut London. Tessa segera tertarik dengan—dan terkoyak di antara—dua sahabat. Ada James, yang ketampanan rapuhnya menyembunyikan rahasia mematikan. Lalu ada Will, yang bermata biru, dengan kejenakaan tajamnya dan suasana hatinya yang cepat berubah-ubah membuat semua orang menjaga jarak... semua orang, benar, kecuali Tessa.
Dapatkah Tessa menemukan kakaknya? Kenapa Tessa diincar oleh Magister yang misterius? Akankah Will membiarkan Tessa memahaminya sebelum gadis itu luluh oleh kehangatan sahabatnya? (Goodreads)

~~~

Clockwork Angel, buku pertama dari seri The Internal Devices, yang juga menjadi prekuel dari seri The Mortal Instrument, membawa saya ke kota London pada zaman Victoria. Tepatnya tahun 1878. Saya tidak tahu banyak seperti apa kehidupan saat itu. Yang jelas dalam bukunya yang setebal 644 halaman,  Cassandra Clare, sang penulis,menyuguhkan kota London yang saat itu bukan tempat yang aman bagi manusia biasa. Karena Penghuni Dunia Bawah seperti vampir, warlock dan makhluk gaib lainnya dengan bebas berkeliaran. Sekalipun ada Hukum dan Pemburu Bayangan, bahaya bisa mengancam kapan saja.

Dunia Bawah, Hukum, Pemburu Bayangan hanyalah sebagian kecil dari istilah-istilah yang digunakan di buku ini. Jangan berharap akan mendapat penjelasan eksplisit untuk setiap kata. Karena sang penulis merasa tidak perlu repot untuk melakukan hal tersebut.  Awalnya membuat saya mengerutkan dahi, namun saya gaya penulisan seperti inilah membuat saya penasaran dan mau tidak mau harus membaca lembar demi lembar untuk mendapat jawaban. Bahkan ketika karakter-karakter yang ada tidak meninggalkan kesan mendalam.

Berbicara mengenai karakter, masing-masing mempunyai peran yang unik. Terkecuali Theresa "Tessa" Gray. Sangat disayangkan, mengingat di sekitarnyalah semua hal penting terjadi. Kalau bukan karena kemampuan yang dimilikinya, remaja enam belas tahun yang meninggalkan New York untuk menemukan kakaknya yang hilang, hanyalah gadis biasa. Jauh berbeda dengan William "Will" Herondale, James "Jem" Carstairs, dan Jessamine "Jessie" Lovelace bahkan Henry Branwell sekalipun. Walau tidak satu diantara mereka yang membuat saya benar-benar menyukai mereka, setidaknya ada hal yang membuat mereka berbeda. Lihat saja bagaimana tingkah Will yang serampangan ataupun canggungnya Henry di setiap kesempatan

Selain misteri yang menyelubungi Penghuni Dunia Bawah dan makhluk-makhluk clockwork, keberadaan serta asal usul Pemburu Bayangan, bagian lain yang saya suka adalah dialog antar tokoh. Bab yang berisi percakapan antara Will dan Jem adalah yang paling saya suka. Dari sana terlihat bagaimana dekatnya hubungan mereka, layaknya saudara ataupun sahabat dekat. Tidak pernah ada rasa sungkan. Perhatikan bagaimana semua yang diucapkan Will dapat di"tanggapi" dengan baik oleh Jem.

Beberapa bab awal termasuk prolog dari buku ini ditulis dengan sangat menarik. Terutama dengan munculnya Rumah Kegelapan beserta seluruh penghuninya. Sekalipun alurnya lambat, yang membuat saya sempat meletakkan buku ini untuk beralih ke bacaan lain, cerita Clockwork Angel tetap seru. Semua terungkap pada akhirnya terungkap. Bahkan ketika saya berpikir semuanya telah usai, ternyata Cassandra Clare masih menyimpan satu bagian yang mengejutkan. Sungguh tak dinyana. Begitu berada di lembar terakhir, yang terlintas adalah  bagaimana cara untuk membaca Clockwork Prince secepatnya.

Secara keseluruhan, tidak ada masalah dengan terjemahan, walau ada satu bagian yang sempat membuat saya seketika berhenti membaca. Yaitu ketika menemukan istilah "uang mudah" di halaman 242. Mungkin penerjemah ataupun editor luput untuk mencari padanan kata yang lebih baik dibanding menerjemahkannya begitu saja dari kata "easy money".

Walaupun disebut sebagai prekuel dari seri The Mortal Instrument, Clockwork Prince bisa tetap dinikmati bahkan tanpa membaca empat buku dari seri tersebut yang juga telah diterbitkan oleh Ufuk. Membaca Clockwork Angel, membuat saya penasaran dan ingin segera melahap City of Bones.

Cover
Salut untuk Penerbit Ufuk yang menerbitkan buku ini dengan sampul aslinya. Kesan gelap yang ada di dalam buku tergambarkan dengan baik di sampul ini.

4/5

Clockwork Angel
Penulis: Cassandra Clare
Penerjemah: Melody Violine
Penerbit: Ufuk Press
Cetakan: I, Maret 2011
Tebal: 644 hlm

Wednesday, 28 December 2011

Review: Sweetly - Jackson Pearce


Dua belas tahun lalu, Gretchen, saudari kembarnya, dan Ansel, abangnya berjalan-jalan ke hutan. Mereka bertemu dengan makhluk mengerikan. Entah penyihir atau monster mereka tidak tahu. Mereka tunggang langgang melarikan diri dari kejaran si makhluk. Gretchen dan Ansel selamat, tetapi saudari kembarnya lenyap.

Beberapa tahun kemudian, mereka pindah ke Live Oak, sebuah kota yang nyaris ditinggalkan penduduknya. Keduanya tinggal di rumah Sophia Kelly, pemilik toko cokelat yang jelita. Gretchen dan Ansel mulai melupakan masa lalu mereka yang kelam, hingga Gretchen bertemu Samuel. Dia berkata kalau penyihir masih bersembunyi, mengintai dari hutan, memangsa para gadis setiap kali Sophia menggelar festival cokelat.

Gretchen memutuskan untuk melawan. Dia ingin tahu kenapa saudari kembarnya yang lenyap sementara dia selamat. Dan dia meyakini satu hal: monster itu akan datang lagi, dan ia takkan pergi sebelum kenyang. (Goodreads)
~~~

Tak Semua Hal Semanis Kelihatannya

Setelah menulis Sisters Red yang bercerita tentang kakak beradik Scarlett dan Rosie berburu serigala jadi-jadian, Jackson Pearce kembali dengan Sweetly. Kalau di buku sebelumnya ia memilih Red Riding Hood, di Sweetly Jackson Pearce menulis cerita berdasarkan kisah Hansel, Gretel dan penyihir lengkap dengan rumah kue jahenya.

Awalnya saya berpikir akan kembali menemukan  sosok Scarlet, Rosie dan Silas. Namun petualangan berburu Fenris kali ini membawa saya ke karakter-karakter baru. Jadi bagi yang belum membaca Sisters Red, tidak perlu khawatir. Cerita Sisters Red dan Sweetly berdiri sendiri. Walau keduanya masih terhubung dengan makhluk mengerikan, Fenris.

Ansel, Gretchen, Sophia dan Sam adalah empat karakter penting di buku ini. Semua cerita dilihat dari sudut pandang Gretchen. Rasanya tidak ada yang istimewa dengan karakter yang kerap bercerita bagaimana kesedihan yang ia alami.  Rasa takut dan trauma terhadap hutan juga tidak tampak. Sosok Gretcehn menjadi lebih hidup ketika ia bertemu Sam dan terlibat dalam perburuan Fenris. Terlebih ketika ia berusaha untuk mengungkap rahasia yang disembunyikan Sophia. Sosok Ansel, kakak laki-laki Gretchen, karakter yang diciptakan nyaris tanpa emosi sama sekali. Karena itu juga, kakak beradik rasanya menjadi kata yang tidak pantas diberikan pada Ansel dan Gretchen. Karena sejak halaman pertama mereka tidak nampak seperti kakak beradik. Walau Gretchen berkali-kali menyebut Ansel sebagai kakaknya di setiap kesempatan.  Kesan yang saya tangkap, mereka lebih mirip teman seperjalanan. Tidak lebih.

Dibanding ikatan kakak beradik itu ataupun jalinan kasih antara Sophia dan Ansel, setiap bab yang menceritakan bagaimana hubungan Gretchen dan Sam jauh lebih menarik. Senang rasanya membaca  semua hal yang terjadi pada keduanya. Sam jugalah yang membuat keberadaan Gretchen lebih terasa.

Sophia, perempuan cantik pemilik toko cokelat yang punya segudang rahasia. Satu-satunya yang membuat saya sangat penasaran. Dari cokelat-cokelat yang ia buat sampai semua hal yang ia tutup-tutupi. Dugaan demi dugaan bermunculan. Semua kebaikan dan sikap ramahnya menimbulkan sedikit ketakutan. Kalau-kalau semua hanya topeng. Saya sempat bertanya-tanya kapan ia akan membuka kedok dan mulai melakukan hal-hal jahat pada Ansel dan Gretchen. Sikap Sophia yang misterius nyaris membuat saya percaya dengan semua tuduhan yang terlontar dari Sam ataupun beberapa warga Live Oak yang tersisa. Hal itu juga yang membuat saya tidak sabar untuk sampai ke halaman akhir

Fenris tidak mendapat banyak peran di sini. Hanya terdapat beberapa bab yang menceritakan pertarungan yang melibatkan makhluk jadi-jadian ini. Kesan seram, buas, licik dan kejam masih terasa. Sayangnya mereka terlihat jauh lebih lemah dan sangat mudah dilumpuhkan. Walau tidak sering muncul, namun kehadiran mereka di bab-bab terakhir cukup seru.


Cover
Walau ada perbedaan warna dengan cover aslinya, tetap suka ngeliatnya. Desain sampul aslinya emang keren.

4/5

Judul: Sweetly
Penulis: Jackson Pearce
Penerjemah: Melody Violine
Penerbit: Atria
Cetakan: I, November 2011
Tebal: 408 halaman

Monday, 26 December 2011

Review: Sisters Red - Jackson Pearce

SERIGALA ITU MEMBUKA RAHANGNYA YANG PANJANG.
DERETAN GIGI TAJAM MENDEKAT KE ARAHNYA.
SEBUAH PIKIRAN BERKECAMUK DI DALAM BENAK SCARLETT:
CUMA TINGGAL AKU SENDIRI YANG TERSISA UNTUK BERTEMPUR.
JADI, SEKARANG AKU HARUS MEMBUNUHMU.

Scarlett March hidup untuk berburu Fenris, manusia serigala yang telah mengambil matanya ketika gadis itu berusaha melindungi adiknya, Rosie, dari sebuah serangan brutal. Dengan bersenjatakan sebilah kapak dan tudung merah darah, Scarlett merupakan ahli dalam hal memancing dan membasmi para serigala jadi-jadian. Dia bertekad untuk melindungi para gadis muda lainnya dari kematian yang mengerikan. Jantungnya yang berdegup kencang tidak akan pernah berhenti berpacu sebelum seluruh manusia serigala tewas.

Rosie March dulu mengira hubungan dirinya dengan sang kakak tidak akan pernah retak. Karena merasa berutang nyawa pada Scarlett, Rosie pun ikut berburu dengan ganas di samping kakaknya itu. Namun, bahkan ketika jumlah gadis muda yang menjadi korban semakin meningkat dan ketika kekuatan para Fenris terasa semakin bertambah, Rosie memimpikan sebuah kehidupan yang tidak melibatkan para manusia serigala. Dia mendapati dirinya tertarik pada satu-satunya sahabat Scarlett, Silas, seorang pandai kayu yang sangat mematikan dalam menggunakan kapak. Namun, apakah mencintai pria itu berarti mengkhianati kakaknya serta segala hal yang selama ini mereka perjuangkan? (Goodreads)
~~~

Kalau bukan karena Sweetly, buku kedua dari seri Fairytale Retelling, mungkin Sisters Red akan tetap berada di tumpukan.

Kata-kata "Dua Saudari Bertudung Merah" yang tertera di sampul depan ternyata tidak serta merta membuat saya teringat akan salah satu dongeng legendaris yang ditulis ulang oleh Grimm Bersaudara. Bahkan ketika akhirnya memutuskan untuk membaca sinopsis di belakang buku. Yang ada malah dugaan tentang cerita perburuan serigala jadi-jadian biasa. Semua lebih dikarenakan Jackson Pearce, sang penulis, membuat cerita baru yang seru dan tidak kalah menarik dengan dongeng aslinya. Saya baru dapat menarik garis merah setelah memulai petualangan Scarlett dan Rosie dan bertemu dengan Oma March, tukang kayu, pemburu dan Fenris, sang serigala jadi-jadian.

Scarlett dan Rosie, dari sudut pandang merekalah cerita Sisters Red yang berplot lambat, bergulir. Jackson Pearce menghidupkan keduanya dengan sangat baik. Tidak ada kesulitan untuk membedakan keduanya. Sifat,karakter, emosi keduanya dengan mudah dapat dipahami. Bagaimana protektifnya Scarlett ataupun kesalnya Rosie saat mengetahui dirinya tidak diikutsertakan dalam perburuan Fenris, semua dipaparkan dengan jelas. Bahkan obsesi Scarlett terhadap makhluk yang berbahaya ini pun sekali waktu membuat saya sedikit kesal.

Hubungan Scarlet dan Rosie sebagai dua kakak beradik adalah bagian yang paling saya suka. Keduanya seakan terikat satu sama lain. Terlihat bagaimana mereka seakan bisa "membaca" perasaan dan pikiran satu sama lain. Walau semakin lama, kedekatan mereka itu membuat saya cemas. Setiap babnya menyisipkan kekhwatiran akan adanya bagian dari cerita perjalanan berburu Fenris yang nantinya memporak-porandakan hubungan mereka berdua. Salah satunya saat Silas, seorang pemburu yang juga teman masa kecil mereka, muncul. Untungnya hal yang paling saya takutkan tidak terjadi. Mengenai Silas sendiri, saya tidak begitu terkesan dengan karakter pria yang satu ini.

Fenris, serigala jadi-jadian, mendapat porsi perhatian saya setelah kakak beradik bertudung merah. Deskripsi yang diberikan untuk Fenris oleh Jackson Pearce lebih dari cukup untuk mengetahui bahwa mereka adalah makhluk kejam, penuh tipu daya, buas dengan rasa lapar yan tak pernah terpuaskan. Walaupun mereka tetaplah sosok yang misterius. Kawanan serigala jadi-jadian yang membuat saya penasaran. Gemas rasanya ketika hasil pencarian Scarlet, Silas dan Rosie ternyata tidak mampu mengungkap seluruh cerita dibalik sosok yang tak mengenal belas kasihan ini. Saya berharap ada penjelasan lebih lanjut mengenai mereka,termasuk pembagian kelompok mereka berdasarkan tato yang terdapat pada pergelangan tangan mereka. Sayangnya, hingga kisah Scarlett dan Rosie berakhir, hal-hal mengenai Fenris tidak terungkap dengan detail.

Satu hal yang paling seru dari buku ini adalah bab-bab yang menuliskan pertarungan antara Scarlett, Silas ataupun Rosie dengan para serigala. Jackson Pearce nampaknya tidak kesulitan untuk menuliskan setiap adegannya dengan detail. Begitu pula dengan sang penerjemah. Saat membaca semua kalimat yang menceritakan perkelahian, rasanya seperti melihatnya dengan mata kepala sendiri. Seru!

Namun dari semua hal yang saya ungkapkan di atas, ada sedikit menganjal. Yaitu tidak terdapatnya bagian yang menceritakan adanya keterlibatan serius dari pihak berwajib. Mengingat banyaknya korban yang berjatuhan karena Fenris yang lapar dan tersebar di seluruh penjuru kota. Seakan semua korban yang hilang dan tewas karena mahkluk jadi-jadian bukan masalah besar.

Cover
Penerbit Atria menggunakan cover yang sama dengan cover buku aslinya. Keren. Saya suka dengan perpaduan warna hitam dan merahnya. Baru sadar kalau di cover juga ada penampakan si rakus Fenris.

Judul Indonesia: Dua Saudari Bertudung Merah
Penulis: Jackson Pearce
Penerjemah: Ferry Halim
Editor: Ida Wadji
Penerbit: Atria
Cetakan: I, Februari 2011
Tebal: 324 hlm

#SS2014: The Riddle

Here we go again~ Setelah dua tahun berturut-turut dapat buku terjemahan, tahun ini aku dapat buku dari penulis Indonesia. Ud...