Tuesday, October 9, 2007

Review: The Boys in the Striped Pyjamas - John Boyne



Sebuah buku biasanya disertai resensi singkat di sampul belakangnya. Cerita singkat tentang isi yang bisa memberi pentunjuk kepada para pembacanya. Namun lain halnya dengan buku ini. Yang bisa diketahui adalah bahwa buku ini menceritakan perjalanan seorang anak bernama Bruno. Tidak lebih.

Bukan bermaksud untuk merusak apa yang ingin disampaikan oleh sang pengarang. Namun tak ada salahnya berbagi menceritakan sedikit cerita tentang petualangan Bruno, seorang anak laki laki berumur 9 tahun. Petualangan Bruno berawal sejak ia dan keluarganya pindah ke Out-With. Tempat tinggalnya yang baru itu tak bisa diandingkan dengan rumahnya diberlin yang bertingkat lima. Tak ada jalan –jalan bagus, toko-toko, kedai buah dan sayuran juga dereatan kafe di Out With. Bahkan di hari sabtu, dia tak perlu berdesak-desakan dengan orang yang berlalu-lalang. Karena tempat ini benar-benar berbeda.

Bruno berusaha untuk mempertanyakan mengenai kepindahan mereka kepada Ayahnya, walau ia tahu tak dapat merubah keputusan yang telah dibuat sejak The Fury datang ke rumahnya untuk makan malam. Sehingga tak banyak yang dapat dilakukannya. Gretel, kakak perempuannya tak dapat banyak membantu. Walau tahu bahwa Gretel merasakan hal yang sama namun tak berarti bahwa pertengakaran kecil diantara mereka mereda.

Tak ada yang menarik di tempat tinggalnya yang baru ini. Begitu mengedarkan pandangan yang terlihatnya hanya serdadu yang mondar mandir ke sana ke mari. Tak ada anak anak yang bisa diajaknya bermain. Bahkan tak yakin bahwa ada anak anak seusianya yang tinggal di sekitar rumahnya, sampai suatu hari ia melihat keluar jendela. Tempat yang dilihatnya tak bisa dibilang indah tempat itu dikelilingi oleh pagar yang sangat tinggi yang dibagian atasnya terdapat kawat yang berbentuk spiral. Tak ada satupun tanaman yang menghiasi halamannya. Bangunan yang ada berdiri pun terlihat sangat aneh. Keanehan tak berhenti sampai di situ. Semua orang, anak anak sampai orang dewasa, yang berada di sekeliling pagar itu menggunakan pakaian yang sama: sepasang piama kelabu bergaris-garis, dengan topi garis garis di kepala mereka.

Bruno mengetahui bahwa dibalik pagar juga terdapat serdadu –serdadu, bahkn sekali ia melihat ayahnya berada di sana. Jika serdadu –serdadu itu sering diundang makan malam, anehnya tak satupun orang yang memakai piama abu-abu itu diundang ke rumahnya. Namun nasib akhirnya membawanya pada suatu kesempatan mendekati pagar yang tinggi itu. Walau ia tahu benar bahwa Ayah dan Ibunya memberi larangan keras. Di sanalah ia melihat seorang anak laki-laki yang berseragam dengan topi yang berwarna abu –abu itu. Tak ada sepatu ataupun kaus kaki yang melindungi kakinya. Di lengannya tedapat ban dengan tanda yang tak pernah dilihat sebelumnya. Dari percakapan singkat, Bruno mengetahui anak laki laki itu bernama Shmuel.

Pertemuan pertama mereka berlanjut dengan pertemuan – pertemuan berikutnya. Setiap kali Bruno datang, Shmuel pasti telah duduk menunggu.Bersama Shmuel, Bruno mulai menikmati kehidupannya di Out With. Walau hanya duduk dan berbagi cerita, itu sudah cukup. Tak terasa sudah berbulan –bulan berlalu sejak saat itu. Tak ada masalah. Sampai suatu hari Shmuel terlihat sangat sedih. Ternyata ia tak dapat menemukan ayahnya. Padahal sampai kemarin, shmuel masih menemuinya. Tak ingin melihat sahabatnya bersusah hati, Bruno berjanji akan membantu walau itu berarti ia meninggalkan banyak hal di luar sana. Bruno tak peduli.

**

Buku yang benar benar membuat saya kaget. Tak pernah menyangka jika akhir ceritanya seperti itu. Yang terbayang adalah suasana tempat Samuel tinggal. Walau mungkin tempat itu tak lagi ada, namun di suatu tempat diluar sana, pasti ada bahkan mungkin jumlahnya ratusan. Mereka mungkin tidak mengenakan pakaian yang sama dengan Samuel, namun penderitaan yang dialami mereka tak kalah perih.

Buku ini memang bukan buku untuk anak kecil, walaupun bercerita tentang seorang anak kecil yang benar benar lugu. Sampai gemes ngeliat semua pertanyaan – pertanyaan yang diajukannya. Bahkan sampai terakhir pun, sepertinya Bruno tak memahami apa yang sedang dilakukannya.

Buku yang aneh yang juga membuat saya kembali bertanya tentang hal hal yang terjadi beberapa puluh tahun yang lalu

The Boy in the Striped Pajamas
Judul Indonesia: Anak Lelaki Berpiama Garis – Garis
Penulis: John Boyne
Penerjemah : Rosemary Kesauli
Cetakan:  I, Juli 2007
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama