Monday, March 24, 2008

Review: Gelang Giok Naga by Leny Helena

Gelang Giok Naga
Penulis: Leny Helena
Penerbit: Qanita
Cetakan : I, November 2006
Tebal: 316 hlm

Buku ini sebenarnya sudah lama berada dalam rak buku saya. Setelah sekian lama menunggu akhirnya sabtu kemarin saya pun mulai melahapnya. Padahal saya pernah berjanji pada diri sendiri setelah membaca Snow Flower, buku ini akan menjadi buku berikutnya. Setidaknya kedua buku itu punya latar belakang yang sama, kehidupan perempuan China. Di luar dugaan, buku ini hampir sama menariknya dengan Snow Flower. Tak perlu waktu lama untuk menghabiskan setiap lembaran di dalamnya.

Giok dan naga menjadi dua kata yang menarik perhatian saya saat melihat sampul depan buku ini.

Selama ini saya selalu menginterpretasikan Giok dengan sebuah batu berharga berwarna hijau. Semua hal itu terlihat di film silat berseri seperti 8 dewa dkk yang ngetop ketika saya masih SD. Dari buku ini, saya akhirnya tahu giok tak hanya didominasi oleh warna hijau, lebih jauh lagi ternyata giok dijadikan sebagai lambang kemewahan.

Berpindah ke Naga,walau hanya hidup dalam sebuah legenda, naga tetap dianggap penting. Setidaknya di China, Naga telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari budaya mereka. Naga yang dimaksud jauh dari kesan mengerian yang kapan saja mampu mengeluarkan api, dari mulut mereka. Sebaliknya, Naga yang ada dalam legenda China dikenal sebagai sosok yang memastikan bahwa tak satupun roh jahat yang akan membuat kekacauan di tahun baru. dijadikan sebagai simbol kekuatan Bahkan dipercaya bahwa para naga sangat berjasa karena merekalah yang membantu menurunkan hujan disaat manusia mengalami kekeringan. Yang terakir adalah cerita yang tertulis dalam prolog di buku ini yang telah diceritakan secara turun temurun.

Seperti legenda, gelang giok naga ini pun diturunkan dari saat Negeri China diperintah oleh kekaisaran sampai ketika akhirnya setiap jengkal daerah tersebut dikuasai oleh pemerintahan komunis.

Yang Kuei Fei, seorang selir kaisar China, mendapatkannya langsung dari tangan sang putra langit sebagai hadiah. Sebagai selir, Yang Kuei Fei termasuk salah satu yang beruntung karena diantara ratusan selir yang ada, ia mampu menarik perhatian kaisar. Keadaan yang berubah dalam waktu sekejap, membuatnya harus meninggalkan istana

Beratus tahun berlalu, A Sui, seorang wanita memutuskan untuk menyusul suaminya yang bekerja di indonesia. Di tangannyalah gelang giok naga tersebut kini berada. Tahun - tahun pertama di negara yang masing masing ini dilaluinya tanpa hambatan yang berarti. Kendala bahasa dapat hanya masalah waktu.

Gejolak politik di indonesia dengan cepat membuat kehidupan A Sui dan keluarganya berubah. Usaha suaminya akirnya bangkrut. Harta yang tadinya lebih dari cukup sedikit demi sedikit habis bahkan dengan terpaksa gelang warisan ibunya digadaikan pada seorang wanita rentenir, A Lin.

Pertemuan singkat yang diharapkan A Lin menjadi yang terakhir itu berlanjut menjadi pertalian keluarga. kedua anak bungsu mereka secara diam –diam menjalin hubungan. Padahal dengan keras A Lin telah mewanti-wanti anak-anaknya untuk menjauhi keluarga A Sui yang miskin. Nasib berkata lain.

Dari kedua anak mereka, lahirlah Swanlin. Cucu perempuan yang lahir di tahun naga dengan cepat menyadari bahwa kedua neneknya, popo Sui dan popo Lin,tak pernah berhenti bersaing dalam berbagai hal. Ia tumbuh menjadi perempuan yang percaya bahwa sosok wanita yang kuat,yang tak pernah letih berusaha untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia mampu bertahan hidup diantara orang –orang yang tak henti-hentinya mengecam kelompok hanya karena mereka warga keturunan.

Seakan menjadi saksi biksu, gelang giok naga hadir ditengah kehidupan perempuan-perempuan yang berusaha bertahan hidup di jalan terjal yang telah digariskan oleh takdir.

Tokoh-tokoh yang ada di dalam buku ini sungguh membuat saya kagum. Sosok mereka terlihat begitu kuat padahal kehidupan yang mereka hadapi tidaklah ramah.

Tak diperlukan badan seperti Xena untuk bertahan hidup.