Sunday, 25 May 2008

Review: Aku Hendak Pindah Rumah - M. Aan Mansyur




Terima kasih adalah dua kata yang spontan terucap ketika 101 puisi di buku ini selesai saya lahap. Mengapa hanya dua kata? Apakah saya pelit memberikan pujian ataukah stok kalimat saya habis untuk buku-buku lain. Tidak sama sekali. Kedua kata itu malah menjadi apresiasi terdalam saya terhadap semua kata kata yang terajut di dalamnya. Karena tidak seperti buku kumpulan puisi yang telah saya review sebelumnya, yang membuat saya pusing karena memaksakan diri untuk memahami makna yang tersirat. Puisi-puisi di dalam buku ini seakan mengerti masalah yang saya hadapi saat bertatapan dengan permainan kata tersebut. Pilihan kata yang sederhana membantu mata saya melihat keindahan yang dijanjikan oleh setiap puisi.

Aku Hendak Pindah Rumah, judul buku yang juga merupakan judul salah satu puisi yang tertulis di dalamnya, dikemas menjadi sebuah perjalanan singkat menelusuri setiap sudut di sebuah rumah. Di mulai dari taman depan sampai taman belakang, melalui beberapa pintu berlainan.

Engkau selalu sengaja memilih busana yang sederhana
agar kecantikanmu tidak karam ke dalam kemewahan
Aku selalu sengaja memilih bahasa yang bersahaja saja,
agar makna sajakku tidak lenyap diperangkap ungkapan

Kata-kata di atas menjadi jaminan, saya tidak akan tersesat didalamnya dan tanpa ragu saya pun mulai melangkah masuk melalui pintu pertama, pintu lama, pintu kenangan. Tetesan hujan dan pepohonan menyimpan banyak cerita tentang para penghuninya. Dengan mudah saya memahami setiap rasa yang tersimpan dalam setiap kisah yang penuh kenangan berarti. Terdapat cerita tentang kepergian beberapa orang terdekat yang menimbulkan rasa haru bahkan cerita yang sering kali membuat saya tersenyum simpul. 

Berpindah ke pintu berikutnya, pintu hati, pintu persembunyian. Pohon dan tetesan hujan masih ada di dalamnya. Cerita kini berkisah tentang seorang sosok wanita yang terlihat sangat tegar walau luka dan rasa sepi seperti tak berhenti merajam di setiap detik kehidupannya. Yang tak berhenti membuat saya kagum adalah kasih sayang yang tak pernah pupus pada orang-orang di sekelilingnya, seakan tak peduli dengan semua kepedihan. Membuat saya teringat lagu Iwan Fals yang bertajuk Ibu.

Pintu baru, pintu kegaduhan mempunyai beberapa cerita yang unik. Pengemasan kata-kata yang beragam membuat semua puisi seakan berbicara bahkan tak sedikit yang meneriakkan sesuatu yang selama ini telah lama dipendamnya.

Pintu berikutnya adalah pintu waktu, pintu perjalanan. Terdapat beberapa baik singkat yang ditulis di setiap kot ayang disinggahi Aan dalam beberapa kesempatan dan dirangkain menjadi satu puisi. Tak banyak yang dapat saya ceritakan mengenai mengenai tulisan tulisan di dalamnya. Mungkin karena terlalu lama bermain di ruangan sebelumnya. Sehingga saya menjadi benar-benar kesusahan untuk mengeja setiap kata di dalamnya.

Dan sampailah saya di taman belakang. Saya kembali tersenyum membaca kalimat yang memang tersusun dari kata-kata yang sederhana namun menjadi penutup yang manis. Tak salah jika dalam salah satu puisi dalam buku ini tertulis:
“Kalimat yang suka berdandan tidak pernah cantik, bukan?”

Aku Hendak Pindah Rumah
Penulis: M.Aan Mansyur
Editor: Hasan Hapsahani
Penerbit: Nala Cipta Litera
Cetakan: I, Februari 2008
Tebal: 180 hal

Tuesday, 6 May 2008

Review: Read Really Fast - Roy Townsend


Membaca bagi saya bukan lagi menjadi sebuah hobby. Kegiatan yang satu ini tarafnya sama dengan makan dan minum. Tak satu haripun saya biarkan berlalu tanpa membaca. Baik itu buku berbagai genre, koran, komik, potongan artikel ataukah postingan di blog seseorang sekalipun.

Sayangnya kegiatan membaca ini terkadang masih terpengaruh dengan mood. Dalam keadaaan normal, sepekan saya mampu menyelesaikan beberapa buku. Namun kalau kondisi saya tidak fit, beruntung jika dalam satu pekan ada buku yang berhasil saya lahap. Padahal tumpukan buku-buku saya setiap bulannya pasti bertambah. Saya pun segera mengiyakan sebuah kalimat yang dikutip dari lagu milik Arkarna , So little time, so much books to read

Awalnya saya tidak menganggap hal ini sebagai suatu masalah. Namun ketika mengetahui bahwa seseorang ternyata mampu menyelesaikan 200 buku dalam setahun membuat saya terkejut. Dari kuesioner singkat yang saya buat di salah satu forum, ternyata ada yang pernah membaca 40 buku dalam sebulan. Hal ini membuat saya berpikir, pasti ada yang salah dengan cara saya membaca. Walaupun tidak lagi terbata-bata, setelah saya amati, ternyata masalah terletak pada kecepatan saya membaca.
Read Really Fast, akhirnya menjadi pilihan saya. Buku ini relatif lebih tipis dibandingkan dengan buku-buku yang memberikan tips yang sama dan telah terbit sebelumnya.

Seperti biasa, untuk mengubah kebiasaan, tentunya kita perlu meluruskan niat. ^_^V
Membaca cepat di sini tentu saja bukan hanya sekedar menelusuri kata-kata tanpa mengerti apa yang hendak disampaikan sang penulis.

Bacalah Dalam Hati-Jangan Bersuara

Karena membaca dengan bersuara ternyata memperlambat kecepatan baca. Membaca dengan mengeluarkan suara hanya akan menimbulkan rasa lelah. Bahkan membuat proses untuk menyampaikan pesan yag terdapat dalam sebuah kalimat/paragraf menjadi lebih lama diproses oleh otak. Fokus kita tidak hanya pada apa yang kita baca, namun juga pada suara yang kita hasilkan.

Kedua, Jangan Pernah Mengulang
Yah, terkadang karena tidak yakin benar terhadap apa yang kita baca, mengulang kerap kali dilakukan. Hal ini hanyalah membuang-buang waktu. Teruslah baca sampai kalimat terakhir. Jangan pernah berhenti di pertengahan kalimat. Kalau perlu gunakanlah jari untuk membantu menelusuri kalimat-kalimat tersebut.

Ambilah Penggalan Yang Lebih Besar
Berlatihlah dengan mengelompokkan beberapa kata yang terdapat dalam satu baris. Cara ini adalah cara yang menurut saya paling efektif dibanding ketiga tips diatas. Untuk meningkatkan kecepatan membaca.

Cukup Baca Sebagian Kata Saja
Tips ini bisa diterapkan saat membaca koran. Tak jarang berita utama di letakkan pada kalimat awal. Karena kalimat kalimat selanjutnya kebanyakan hanya merupakan “bumbu” Bacalah hanya kata-kata yang bermaksa saja. Hal ini bisa diterapkan saat membaca koran.

Masih ada beberap tips yang tidak saya tuliskan di sini. karena alangkah baiknya kalau buku how to sepert langsung Anda baca sendiri

Buku ini sendiri dapat saya selesaikan dalam waktu beberapa jam. Seperti yang saya inginkan, buku ini memang memberikan jalan keluar yang saya cari bagaimana dengan mudah membaca cepat. Tak ada masalah dalam penerjemahan. Walau kadang keterkaitan antara satu paragraf dengan paragraf lain terasa janggal

Yah, secara keseluruhan dapat saya mengerti. Sekarang yang diperlukan saya lakukan adalah melakukan latihan terus menerus. Sehingga tak hanya menghemat waktu namun yang paling penting adalah dapat mengurangi tumpukan buku-buku yang belum tersentuh sama sekali itu. Target untuk menyelesaikan 3 buku setiap pekannya tentu bukan hal mustahil. 

Read Really Fast
Penulis: Roy Townsend
Penerjemah: Woro Vidya Ayuningtyas
Penerbit: Andi
Cetakan: I, 2007
Tebal: 112 hal

Saturday, 3 May 2008

Review: The Penderwicks - Jeanne Birdsall


Tak banyak buku yang menerima penghargaan. Sehingga setiap kali melihat di sampul depan sebuah buku terdapat kata-kata Award Winner saya pasti akan berusaha untuk membawanya pulang dan menjadikannya salah penghuni rak buku di rumah. Tak heran jika akhirnya buku yang di depannya tertuliskan kata-kata National Book Award Winner for Young People’s Literature menjadi pilihan saya bulan ini.

Apa yang istimewa dari buku ini? Menjadi pertanyaan saya berikutnya ketika buku ini telah berada di tangan saya.

Dari judulnya, dapat diketahui bahwa buku ini mengambil liburan musim panas sebagai settingnya. Saya langsung teringat buku lima sekawan milik Enyd Bliton. Terbayang semua petualangan yang mereka lakukan dan tentu saja makanan yang disediakan untuk sarapan pagi hingga makan malam. Yang tak kalah penting adalah waktu minum teh di sore hari.

Rosalind, Skye, Jane dan Batty, keempat kakak beradik di keluarga Penderwick yang sangat resah memikirkan liburan musim panas mereka. Jika liburan sebelumnya selalu mereka habiskan di Cape Cod, namun kali ini nampaknya mereka tak lagi dapat lagi menghabiskan hari – hari bermain di rumah pantai yang biasanya mereka sewa. Beruntung mereka tak harus menghabiskan masa liburan di rumah mereka, karena tiba-tiba saja ada kabar baik dari teman Mr Penderwick. Ada sebuah vila yang dapat ditempati oleh mereka di Berkshire Mountain bernama Arundel. Merasa tak perlu membuang waktu untuk melihat kondisi vila, Mr Pendewick lantas mengajak ke empat putrinya dan Anjing mereka, Hound untuk segera berangkat.

Terkejutlah mereka ketika melihat Arundel Cottage yang akan mereka tempati bukanlah vila biasa. Tempat ini sangat luas di kelilingi oleh pepohonan. Tamannya pun sangat luas. Ada sebuah mansion yang sangat besar. Vila yang mereka tempati berada di belakang mansion. Walau tak sebesar mansion di depan, namun vila yang dulunya digunakan vila tamu rumah utama memiliki banyak kamar. Setiap anak perempuan Penderwick sangat menyukai kamar pilihan mereka.

Petualangan pertama dilakukan oleh Skye. Dialah yang pertama kali melihat sang pemilik mansion, Mrs Tifton. Seperti yang diceritakan sebelumnya oleh Cagney, sang tukang kebun, wanita ini memang sedikit menakutkan. Skye jugalah yang pertama kali bertemu dengan anak laki-laki yang bernama Jeffrey. Merasa sangat lega menemukan teman sebaya, Skye pun segera memberikan peringatan pada Jeffrey tentang Mrs. Tifton. Satu kesalahan besar telah dibuatnya. Karena anak laki-laki itu adalah anak Mrs Tifton.

Untung saja perkataan Skye tentang ibunya tak membuat Jeffrey menjauhi ke empat bersaudara pendewick. Sebaliknya Jeffrey menjadi teman yang sangat menyenangkan. Bahkan bagi Batty yang sangat pemalu sekalipun. Semua itu berawal dengan sebuah insiden yang hampir saja merenggut nyawa.

Petualangan demi petualangan pun mereka lalui.kebanyakan skye dan Jane menghabiskan waktu bersama Jeffrey. Sedangkan Rosalind dan Batty asyik bersama Cageny dan kelincinya. Namun tak jarang mereka semua berkumpul bersama. sepeti saat perayaan ulang tahun Jeffrey. Banyak hal yang terungkap dari kejadian hari itu. salah satunya berkaitan dengan masa depan Jeffrey. Tak hanya itu, dari pesta ini juga, mereka semakin tidak menyukai Mrs Tifton.

Cerita tentang liburan musim panas memang punya daya tarik tersendiri. Hampir di semua novel anak-anak yang menceritakan al ini pasti menyajikan petualang yang seru. Dari sana saya melihat bahwa liburan bagi anak-anak di dunia buku harus dihabiskan dengan berpergian ke suatu tempat yang jauh dari rumah. mungkin saja itu juga yang menjadi gambaran bagi liburan musim panas.

Novel yang menarik untuk anak anak. Tidak hanya dari segi cerita tapi juga karena didukung oleh tokoh-tokoh yang ada didalamnya. Dari kakak beradik Pernderwick, Jeffrey bahkan Mr Penderwick sendiri pun punya andil dalam hal ini. sekali lagi petualang didalamnya membuat saya sedikit iri.

The Penderwicks
(A summer Tale of Four Sister, Two Rabbits, and a Very Interesting Boy)
Judul Indonesia : Keluarga Penderwicks: Kisah Musim Panas Empat kakak-beradik Perempuan, Dua Kelinci, dan seorag Anak Laki-lai yan Sangat Menarik)
Penulis: Jeanne Birdsall
Penerjemah: Poppy Damayanti Chusfani
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I,  Maret, 2008
Tebal: 292 hal

Friday, 2 May 2008

Review: The Heart is A Lonely Hunter - Carson McCullers


Buku ini menjadi salah satu hadiah yang saya terima setahun yang lalu. Saat Qanita menggelar lomba menulis resensi melalu milisnya. Dari catatan singkat di belakang buku saya mengetahui bahwa novel yang disampul depannya terdapat cap dari Book Oprah’s Club : The Brand New Selection ini, berkisah tentang kehidupan orang – orang di Amerika, saat rasialis masih menjadi masalah yang mencuat dipermukaan.

Adalah John Singer, seorang pria bisu tuli menjadi toko sentral di buku ini. Pria bisu tuli ini dulunya tinggal bersama sahabatnya, Spiros Antonapoulos, yang juga bisu. Berbeda dengan sahabatnya yang urakan dan hanya memikirkan makanan, John Singer adalah seorang pria yang sangat rapi dengan paras yang selalu terlihat cerdas. Tak hanya dari penampilan, bahkan tingkah laku pun mereka sangat jauh berbeda. Entah berapa kali Antonapoulos melakukan keonaran. Dan setiap kali keonaran itu terjadi dengan segera Pak Singer melakukan sesuatu agar sahabatnya tak perlu mendekam di penjara. Sampai di halaman terakhir saya terus bertanya apa yang membuat Pak Singer terlihat begitu perhatian terhadap Antonapoulos yang selalu bertindak seenaknya. Bahkan tak sekalipun Antonapoulos menunjukkan hal yang sama terhadap Pak Singer.
Dan bukannya sadar, kelakuan Antonapoulos semakin menjadi-jadi. Sampai akhirnya diputuskan bahwa pria tambun ini harus mendapat perawatan khusus di rumah sakit jiwa.

Sejak ditinggal sabahatnya, Pak Singer pun memutuskan untuk meninggalkan rumah yang mereka tinggali bersama selama sepuluh tahun terakhir. Setiap sudut dirumah itu membawa mempunyai kenangan yang hanya membuatnya kembali teringat pada Antonapoulos. Ia menyewa salah satu kamar di sebuah gedung kumuh, tak jauh dari pusat kota dan Kedai yang diberi nama New York Cafe menjadi pilihannya untuk sarapan pagi, makan siang dan makan malam.

Bermula dari Cafe inilah, ia mulai mengenal dekat beberapa orang selain Antonapoulos. Mick Kelly, seorang gadis yang sangat menyukai musik, Jake Blount yang tak pernah berhenti berbicara mengenai ideologi dan membuat orang-orang disekitarnya yakin akan pemahamannya itu. Ada pula Biff Brannon sang pemilik New York Cafe dan terakhir Benedict Copeland, seorang dokter kulit hitam yang tak menentang adanya diskriminasi rasial.

Mereka secara rutin mengunjungi Pak Singer. Seakan dengan menceritakan segala hal pada pria ini membuat mereka lega. Lihat saja Mick, anak perempuan ini tak pernah bosan menceritakan obsesinya pada piano ataupun hal –hal yang terjadi di keluarganya. Cerita tentang Mick ini menjadi salah satu bab yang paling saya sukai.
Lain cerita dengan Jake Blount yang mengutarakan hal – hal yang tak pernah saya mengerti. Belum lagi kisah yang keluar dari mulut sang dokter. Hanya Biff Brannon yang tidak begitu banyak mengeluarkan kata-kata saat ia bertandang ke rumah. Walaupun tak dapat berbicara dan mendengar layaknya manusia normal, namun mereka sangat yakin Pak Singer mengerti setiap kata yang mereka sampaikan. Tak heran jika pertengahan musim panas, kamar Pak Singer hampir selalu terdengar suara-suara

Yang anehnya, tak sekalipun Pak Singer mencoba terbuka kepada empat orang ini tak pernah sekalipun. Tak sedikitpun cerita tentang Antonapoulos yang diceritakan kepada mereka. Bahkan ketika tiba waktu untuk mengunjungi sahabatnya itu, Pak Singer tak sekalipun mengucapkan sesuatu kepada para tamunya itu. Mereka pun mengira bahwa Pak Singer sedang melakukan perjalanan bisnis.

Tak kalah anehnya, ke empat orang ini juga tak pernah dekat satu sama lain. Padahal mereka tahu bahwa mereka kerap kali mengunjungi pria yang sama untuk menceritakan hal yang sama. Memang ada di antara mereka yang memasang dinding tebal seakan tak membiarkan yang lain untuk mendekat. Padahal sadar atau tidak, mereka terkait satu sama lain oleh dua hal. Kesendirian dan Kesepian.

Walau terasa agak berat, terutama bab yang bercerita tentang Jake dan Copeland, namun banyak hal menarik yang saya dapatkan dalam buku ini. Setidaknya Carson McCullers, sang penulis, membantu saya memahami kalimat “ Hidup adalah Pilihan”. Menjadi bahagia atau menderita semua ada di tangan kita.

The Heart is A Lonely Hunter
Penulis: Carson McCullers
Penerjemah: A. Raharti Bambang Haryo
Penerbit: Qanita
Cetakan: I, Februari 2007
Tebal: 494 hlm

Review: Lotta - Astrid Lindgren



Astrid Lindgren adalah salah satu dari banyak penulis novel anak-anak. Di rak buku saya sudah berjejer buku-buku karyanya yang telah diterjemahkan. Lotta, begitu judul buku dengan sampul depan yang menggambarkan seorang anak kecil yang terlihat marah. Apa yang membuatnya sedemikian marah? 

Lotta adalah satu dari tiga anak yang tinggal di keluarga Nyman. Sebagai anak paling kecil, Lotta tak dapat melakukan banyak hal sebebas kedua kakaknya, Jonas dan Maria. Semua hal itu membuatnya ingin tumbuh besar lebih cepat. Karena selama ini hanya Jonas ataupun Maria yang diperbolehkan keluar rumah untuk membeli permen di lapangan depan rumah saat hujan turun. Hingga ketika mendengar bahwa hujan membantu tumbuhan untuk tumbuh menjadi besar, ia pun memutuskan untuk membiarkan tubuhnya basah diguyur hujan. Benar- benar anak yang lugu.

Tak ada hari yang berlalu tanpa dihabiskan dengan bermain bersama kedua kakaknya. Walau terkadang banyak permainan yang dibuat kedua kakaknya terasa konyol. Dari bajak laut sampai menjadi dokter. Jonas dan Maria tahu bahwa Lotta tak paham dengan peran yang harus ia jalankan,sehingga tak jarang permainan harus berakhir hanya karena Lotta menolak meneruskan permainan. 

Tak hanya keras kepala, Lotta adalah anak kecil yang hanya mengikuti kata hatinya.
Lihat saja ketika ia diajak ibu mengunjungi Dokter Gigi. Saat itu ada gigi yang berlubang. Tak sekalipun ia membuka mulut saat dokter hendak memeriksanya. Hanya karena ia pernah mendengar bahwa Ayah, Mr Nyman melarangnya membuka mulut untuk orang yang tak di kenalnya. Benar benar anak yang lugu.

Dari kejadian di rumah sakit berlanjut sampai ke rumah Bu Berg, wanita yang tinggal di sebelah rumah mereka. Rumah Bu Berg menjadi salah satu tempat favorit mereka. Tak hanyakarena ia mengijinkan meeka masuk ke rumah dan membuka laci – laci miliknya, namun juga karena Bu Berg selalu membuatkan kue – kue yang lezat. Bu Berg sangat senang dengan kedatangan mereka dan dua kali lebih senang ketika akhirnyaketiga anak itu memutuskan ulang. Bu berg hanya ingin melanjutkan rajutannya yang tadi sempat diurai kembali oleh Lotta. 

Masih banyak hal lain yang dilakukan oleh Lotta yang tak jarang membuat saya tersenyum simpul. tidak hanya karen kenakalan, sifat keras kepala, namun juga karena keluguannya. 

Novel anak-anak punya keistimewaan tersendiri. Sayangnya semua itu baru dapat saya nikmati saat usia saya beranjak jauh meninggalkan masa-masa itu. Masalahnya hanya satu. Saat kecil dulu, tidak mudah untuk mendapatkan bacaan semacam ini. Seingat saya perpustakaan yang kerap saya kunjungi di waktu libur hanya menyajikan komik Asterix, Smurf, dan tentu saja beberapa bundel tebal majalah bobo. Tapi, tak pernah ada kata terlambat untuk membaca sebuah buku. Kata-kata yang dikatakan oleh seseorang yang membuat saya tak pernah malu membaca buku bergenre anak-anak ini. 

Lotta
Penulis: Astrid Lindgren
Penerjemah: Listiana Srisanti
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: III, September 2007

Tebal: 184 hlm

Tuesday, 22 April 2008

Review: Animal Farm - George Orwell



Buku ini pertama kali saya lihat di Bukune, salah satu majalah yang awalnya fokus membahas tentang buku. Tidak adanya resensi apapun tentang buku yang satu ini membuat saya semakin ingin memilikinya. Apalagi mengetahui kalau pengarangnya adala George Orwell yang merupakan pengarang yang sama untuk buku yang berjudul 1984. Akhirnya beberapa bulan lalu, buku ini resmi jadi penghuni rak buku saya. 

Dari judul, sampul depan dan resensi singkat dibelakang sampul, dengan mudah saya mengetahui buku ini berkisah tentang binatang - binatang di sebuah perternakan milik Tuan Jones yang diberinya nama Perternakan Manor. Mereka yang hidup di pertenakannya ini sangat beragam. Dari sekumpulan ayam, babi sampai kuda penarik kereta.

Bertahun – tahun mereka hidup dalam penderitaan. Semua jerih payah yang mereka berikan pada tuan Jones tak pernah seimbang dengan makanan yang mereka dapatkan. Lihat saja telur – telur milik para ayam yang diambil begitu saja tanpa sempat melihat mereka menetas. Bahkan semua tahu cepat atau lambat hidup mereka akan berakhir di pemenggalan. Terlebih ketika mereka tak lagi berguna. 

Setelah sekan lama menunggu, sebuah suara lantang akhirnya terdengar. Menjelang akhir hidupnya, Mayor Tua mengumpulkan para penghuni peternakan dan mulai berpidato. Mayor yang dihormati ini berusaha menyakinkan para binatang agak menyusun kekuatan untuk melepaskan diri dari belenggu manusia yang selama ini membuat mereka menderita.

Tak butuh waktu lama untuk memahami maksud sang Mayaor. Karen amereka pun tak ada yang ingin hidup lebih lama di bawah cengkraman Tuan Jones yang memang tak pernah peduli dengan binatang ternaknya dan dengan sengaja membuat mereka kelaparan.
Tak lama setelah pidato terakhir sang mayor, kemarahan para binatang ternak tidak lagi dapat dibendung. Di awal bulan juni, pemberontakan pun terjadi dan dengan mudah mereka menyingkirkan Tuan Jones yang tak pernah mengira akan terusir dari perternakannya sendiri. Perternakan Manor kini berada di bawah kekuasaan para binatang. 

Hal yang pertama mereka lakukan adalah menyingkirkan hal-hal yang berhubungan dengan manusia. Dari tali kekang, tali leher kuda sampai cincin hidung semua dibiarkan dilalap api dan menjadi abu. Mereka berusaha untuk melenyapkan segala sesuatu yang mengingatkan mereka pada Tuan Jones.

Adalah Snowball dan Napoleon yang sejak awal pemberontakan menjadi pemimpin, kembali mengumpulkan semua binatang untuk membahas kelanjutan hidup mereka. Aturan demi aturan pun dibuat. Setelah didiskusikan akhirnya semua penghuni peternakan Manor menyetujui 7 peraturan. Tidak ada binatang yang boleh membunuh sesama binatang lainnya adalah salah satunya. 

Setelah aturan selesai, hal berikutnya yang dipikirkan adalah bagaimana bertahan hidup. rencana demi rencana pun dijalankan. Awalnya semua berjalan dengan mulus sampai insiden demi insiden terjadi. Manusia memang tak ada yang hidup di perternakan, namun nampaknya tirani kembali menyelimuti kehidupan mereka. 

Buku ini benar-benar membuat emosi saya turun naik. Awalnya saya mendukung pemberontakan namun akhirnya menjadi kesal karenanya. Tokoh – tokoh awalnya saya eluk-elukan akhirnya menjadi yang paling saya benci. Tidak salah jika ada kalimat yang selalu menyatakan bahwa, Tak Ada Yang Abadi Kecuali Kepentingan Pribadi.

Tak di duga, ketika mencari informasi tentang buku ini di wikipedia, banyak hal yang mengejutkan. George Orwell ternyata menuliskan buku ini sebagai refleksi dari kondisi pemeritahan di Uni Soviet saat Stalin berkuasa. Setiap binatang di dalam buku ini seperti Napoleon, Snowball, Mayor Tua bahkan Mr Jones juga ternyata mewakili orang –orang yang menghiasai kancah politik saat itu. Walaupun tidak diakui secara langsung oleh George Orwell mengenai hal tersebut, namun dengan mudah diinterpretasikan oleh beberapa pihak.

Buku yang dipilih oleh Majalah Times sebagai satu dari 100 buku berbahasa inggris terbaik (1923 – 2005) dan berada pada urutan ke 31 untuk Modern Library List of Best 20th Century Novels, ini memang cerdas.Masih dari wikipedia, buku ini ternyata telah diadaptasi ke dalam film animasi atapun film layar lebar. 

Animal Farm
Penulis : George Orwell
Penerjemah : J. Fransisca
Penerbit : Fresh Book
Cetakan I: 2006
Tebal : 207 Hal

Tuesday, 15 April 2008

Review: Drunken Monster - Pidi Baiq




Sejak bisa membaca huruf tanpa terbata - bata , ketertarikan saya terhadap catatan seseorang cukup besar. Tidak peduli catatan berisi pelajaran ataupun tentang kesehariannya. Satu dua kalimat yang ditorekan di bagian paling bawah buku catatan pun tak luput dari pandangan saya. Apalagi kalau sudah bercerita suatu petulangan yang belum pernah saya lakukan maupun rasakan.

Tak heran jika buku yang berisi catatan pak Pidi Baiq ini saya pilih untuk menjadi sala satu penghuni baru rak buku saya di bulan April. Padahal sampul depannya sudah tertera beberapa peringatan seperti Kumpulan Kisah Tidak Teladan ataupun Ini Buku Berbahaya. Bahkan ilustrasi yang dipilih pun seperti gambar anak SD yang baru belajar menggambar. Yah, saya bukan orang yang menilai buku dari sampulnya.
Alasan lain selain paragraf pertama diatas adalah karena semua tulisan di buku ini adalah tulisan yang diposting di multiply.com. Tepatnya, Drunken Moster adalah blog yang dibukukan. Semua buku sejenis ini memang membuat mata saya kalap.

Buku ini selesai saya baca dalam beberapa jam setelah membuka plastik yang tadi membungkusnya. Walau tak mampu membuat saya terpingkal-pingkal ketika seperti membaca buku Raditya Dika, namun dengan mudah saya simpulkan bahwa bapak yang dulunya dekan ini jauh lebih gokil.

Lihat saja tingkah lakunya di semua kisah yang tertulis lengkap dengan ilustrasi yang tak kalah aneh. Tak peduli perempuan ataupun pria, tua maupun muda, tukang becak maupun tukang ojek semua sudah jadi korban kejailannya. Bahkan orang yang sama selalui tidak dikenalnya. Seakan tak pernah kehabisan ide, selalu ada hal baru yang mengejutkan dan membuat saya akhirnya tersenyum simpul bahkan kadang terpingkal tiba-tiba di setiap babnya.

Bayangkan saja, saat itu pak Pidi yang sedang mengendarai motor. Entah apa yang merasuki dirinya, diperjalanan menuju rumah, ia segera meminta seorang tukang becak untuk membawa motornya, sedangkan ia akan mengayuh becak sampai ke rumah. hal – hal seperti itu sepertinya terjadi dengan spontan. Tak ada perencanaan sama sekali.

Di antara kekonyolan-kekonyolan yang sepertinya tak pernah lepas dari diri Pak Pidi, ada satu, dua mungkin tiga yang membuat saya tiba-tiba terenyak dengan perubahan emosi yang begitu tiba – tiba.

Selain gokil, bapak yang satu ini juga sangat pandai berkelit. Ketika kedapatan melakukan hal-hal aneh, dia pasti akan segera mencari alasan apa saja agar semua perbuatan anehnya itu bisa tertutupi. Hanya orang – orang dekat ataupun kawan lama yang mengetahui bahwa pak Pidilah otak dari suatu insiden.

Bahkan ketika jatuh sakit pun, masih saja ada yang konyol yang dilakukannya,seperti menyuruh pembantunya emanggil tetangga hanya untuk mendengarkan ring tone Hpnya sampai membalikkan posisi TV , bahkan menulis surat cinta konyol kepada istrinya.

Dari semua hal-hal aneh yang tertuang dalam buku ini, ada satu yang membuat saya berdecak kagum. Pak Pidi terlihat sangat murah hati. Dengan mudah uang mengalir dari tangannya ke saku orang lain. Seperti hanya kejailan, ia pun tak sungkan untuk memberi rezeki yang dimilikinya kepada orang lain

Yang sedikit mengganggu adalah terkadang saya sedikit bingung dengan cara Pak Pidi bercerita, karena tak ada sensor EYD ataupun mungkin dibiarkan begitu saja oleh sang editor. Sehingga terasa ada keganjilan dalam kalimat-kalimatnya. Hmm...walaupun mungkin ini juga yang menjadi bagian dari keanehan Dan kekonyolan sang penulis itu. Melihat ini, membuat saya berpikir, tidak menutup kemungkinan akan lebih banyak lagi blog-blog yang dibukukan.

Buku ini memang berbahaya, ada virus tak nampak yang disebarkannya. Virus hanya akan bisa dideteksi begitu buku ini berada di tangan. Yah, jangan sampai Anda adalah korban kejailan Pak Pidi berikutnya.

Drunken Monster
Penulis : H. Pidi Baiq
Penerbit: Dar! Mizan
Cetakan: I, Januari 2008
Tebal: 204 hlm



#SS2014: The Riddle

Here we go again~ Setelah dua tahun berturut-turut dapat buku terjemahan, tahun ini aku dapat buku dari penulis Indonesia. Ud...