Monday, 23 January 2012

Book Review: Knock Three Times - Marion ST. John Webb


Molly benar-benar kecewa ketika Bibi Phoebe mengirimkan sebuah bantalan jarum kecil berbentuk labu berwarna abu-abu untuk hadiah ulang tahunnya, dan bukannya gelang perak yang telah lama diidam-idamkannya.

Tetapi di malam hari, saat bulan purnama bersinar, bantalan jarum berbentuk labu itu berubah menjadi labu ajaib. Ia membawa Molly dan saudara kembarnya, Jack, ke sebuah dunia aneh tempat si Labu ternyata amat ditakuti.

Molly dan Jack mengalami petualangan yang amat menegangkan dalam usaha mereka menemukan si Labu. Mereka dijebak, beberapa kali masuk perangkap, sekaligus mendapat banyak teman di dunia itu. Siapakah sebenarnya si Labu Kelabu?
(Goodreads)
~~~

Dulu, ketika mengucapkan buku klasik, saya pasti langsung mengindentikannya dengan cerita kehidupan penuh drama. Sekarang, saya berusaha untuk menghapus generalisasi semacam itu. Terima kasih untuk Knock Three Times yang mengingatkan saya akan banyaknya buku klasik di luar sana, yang menawarkan cerita petualangan. Mungkin lebih tepatnya disebut sebagai buku bergenre klasik fantasi. Sebut saja The Chronicles of Narnia dan Peter Pan. Cerita yang mereka usung tidak kalah seru dengan buku-buku fantasi yang terbit beberapa tahun belakangan.

Bercerita tentang Knock Three Time, secara garis besar, petualangan Molly dan saudara kembarnya, Jack, terhitung seru. Saya suka ide tentang bantalan jarum yang berubah jadi Labu Kelabu dengan cerita masa lalu yang mengerikan. Konsep Dunia Mustahil dan Dunia Mungkin pun menarik, walau tidak ada penjelasan detail tentang penamaan keduanya. Sangat disayangkan buku yang juga bercerita tentang sihir putih dan hitam ini nyaris tanpa emosi. Perjalanan Molly dan Jack jadi terasa sangat melelahkan. Kerap kali saya ingin secepat sampai ke halaman terakhir. Saya tidak menikmatinya satu bab pun. Bagian yang menceritakan bagaimana pertemuan mereka dengan kaki tangan sang Labu Kelabu, Tuan Papingay dengan gambar kertasnya,ataupun tokoh-tokoh lainnya lewat begitu saja. Bahkan di saat-saat genting sekalipun. Padahal awalnya senang banget menemukan buku dengan genre klasik fantasi.

Berbicara tentang para tokoh, saya merasa ada yang aneh dari Molly dan Jack yang dinyatakan sebagai anak kembar sang penulis ataupun penerjemah. Semua tingkah dan kebiasaan mereka, tidak satupun yang mengindikasikan mereka sebagai dua saudara yang lahir pada waktu yang sama. Bahkan sulit rasanya untuk mengakui mereka sebagai saudara kandung. Dari awal ikatan batin antara keduanya tidak terasa. Mereka tidak lebih sebagai teman seperjalanan. Lebih tidak.

Dibanding Molly dan Jack, Tuang Papingay dengan tingkah dan isi rumah yang aneh jadi tokoh favorit saya. Dari web yang memuat tentang sedikit cerita tentang sang penulis, ternyata tokoh eksentrik ini punya kisah sendiri dan diterbitkan dalam banyak seri. Dari banyak judul buku yang ditulis Marion,saya mendapati The Little Round House, Mr. Papingay's ship, Mr Papingay's caravan dan Mr Papingay's flying shop. Jadi ingin tahu bagaimana kisah Pria aneh ini.

Walau tidak begitu menikmati Knock Three Times, setidaknya referensi tentang buku yang bercerita tentang dunia yang dipenuhi dengan hal-hal aneh bin ajaib ditambah sedikit unsur sihir bertambah. Buku ini juga membuat saya ingin baca lebih banyak buku klasik yang memuat kisah serupa. Sebut saja Wizard of Oz, A Wrinkle in Time ataupun Alice in Wonderland.

Cover dan Ilustrasi
Penampakan Labu Kelabu nyaris tak nampak. Kalau dari penjelasan di buku, ilustrasi labunya masih kurang besar. Warna background dan ilustrasi Molly dan Jack tuh jadi ingat ma cover buku-buku klasik penerbit sebelah. Cek per cek, ternyata desain sampulnya dikerjakan oleh orang yang sama. Dari hasil googling, ternyata buku yang terbit tahun 1917 ini dilengkapi dengan ilustrasi. Sayangnya oleh pihak Atria, ilustrasinya tidak diikutsertakan. Melihat cover di bawah sedikit mengingatkan pada ilustrasi di buku Astrid Lindgren. Terutama ilustrasi anak-anak Bullerbyn.



Knock Three Times

Penulis: Marion ST. John Webb
Penerjemah: Mutia Dharma
Editor: Jia Effendie
Penerbit: Atria
Cetakan: Mei, 2010
Tebal: 258 hlm
Sumber: Koleksi Pribadi

Sunday, 22 January 2012

Reading Challenge: Just For Fun Reading Challenge 2012



Just for Fun Reading Challenge is back. The aim of the challenge is to read books who have  been in  To-Be-Read piles for months or even years. 12 books in 12 months.


Now It is easier to submit all the books that have been read. Because Lori who hosted this challenge open a group in Goodreads for it. If you'd like to join, sign up here before January 31st, 2012. 


I am committing to read just one book for fun each month! 
JANUARY : Divergent by Veronica Roth - Review
FEBRUARY: The Book Thief
MARCH : Red Riding Hood 
APRIL: Warm Bodies by Isaac Marion 
MAY
JUNE
JULY
AUGUST
SEPTEMBER
OCTOBER
NOVEMBER
DECEMBER


For this reading challenge, I am going to pick all my English books not translation. I will update right after I get the books.

Wish me luck!

Saturday, 21 January 2012

Reading Challenge: Name In A Book Challenge 2012


Tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama tahun 2011 kemarin, saya harus lebih selektif untuk milih Reading Challenge. Kalau sejenak menoleh ke belakang awalnya sih emang semangat, tapi begitu masuk pertengahan tahun semuanya berantakan. Menjelang akhir tahun hanya tiga Reading Challenge yang kelar. Yang lainnya, gagal!

Kapok? tentu saja tidak. Reading Challenge masih  seru. Tapi kali ini harus lebih selektif. Semua Reading Challenge 2012 tujuannya untuk mengurangi tumpukan yang makin menggila. Nah, bukan kebetulan Reading Challenge yang diselenggarakan ma mba Fanda ternyata sangat membantu misi menghabiskan tumpukan buku yang sangat mulia ini. 

Jadi apa tantangan di Name in A Book Challenge 2012? 
Di blog postnya, Fanda menulis: 
"Tantangannya adalah membaca buku-buku fiksi yang mengandung nama orang di judulnya"
Dari tumpukan, terpilih buku-buku berikut:
1. Jonathan Strange & Mr. Norrell
2. The Lives of Christoper Chant
3. Therese Raquin
4. Harriet Si Mata-Mata
5. Howl's Moving Castle
6. Madicken dan Lisabet
7. Fatima's Good Fortune
8. Angel's Cake
9. Lee Raven Boy Thief
10. Enrique's Journey
11. The Lottie Project
12. Ronya
13. The Story of Tracy Beaker
14. Emil dari Lonneberga
15. Pippi Hendak Berlayar
16. Lola Rose
17. Harry and the Treasure of Eddie Carver
18. Ezperanza Rising
19. Alice-Miranda At School
20. Pope Joan


Doh!!!. Banyak banget. Semoga semuanya bisa kulahap habis. Amiin.

Mau ikutan? Cek aja langsung ke blog post
Baca Buku Fanda.

Friday, 20 January 2012

Book Review: Divergent by Veronica Roth


In Beatrice Prior's dystopian Chicago, society is divided into five factions, each dedicated to the cultivation of a particular virtue—Candor (the honest), Abnegation (the selfless), Dauntless (the brave), Amity (the peaceful), and Erudite (the intelligent). On an appointed day of every year, all sixteen-year-olds must select the faction to which they will devote the rest of their lives. For Beatrice, the decision is between staying with her family and being who she really is—she can't have both. So she makes a choice that surprises everyone, including herself. 
During the highly competitive initiation that follows, Beatrice renames herself Tris and struggles to determine who her friends really are—and where, exactly, a romance with a sometimes fascinating, sometimes infuriating boy fits into the life she's chosen. But Tris also has a secret, one she's kept hidden from everyone because she's been warned it can mean death. And as she discovers a growing conflict that threatens to unravel her seemingly perfect society, she also learns that her secret might help her save those she loves… or it might destroy her. 
Debut author Veronica Roth bursts onto the literary scene with the first book in the Divergent series—dystopian thrillers filled with electrifying decisions, heartbreaking betrayals, stunning consequences, and unexpected romance. (Goodreads)
~~~


My Thought
I did not read many dystopian. Uglies the series and The Hunger Games Trilogy were the only dystopian books on my shelves. They were on my favorite list for almost two years. Now they got a new companion. Divergent

I do not know why it took months to grab it.I should not have any doubts for everything those book bloggers said about this book. What I can say, It is not just hype. Divergent is fantastic. It's unputdownable book. I'm Lovin' It.

Let me tell you the reasons why.First, all the characters were written very well, even the one who got the smallest part. Tris was in the first character on my list. It was not difficult to walk in her shoes. All her emotion was sensed easily. I loved her boldness.  She got the talents. She learnt everything quickly. No matter how hard it seemed, she always gets a way out. Another thing I like from her is the way she revealed everything. As the first-person narrator, she did her job very well. Everything was described clearly. From the Aptitude test that made her so nervous, the Choosing Ceremony till the stages of initiation that she had to pass. I also like all the days that she spent in her new factions. 

After Tris, Four was also in my top list. Don't you think his name was weird? Let me tell you little bit about this. When everybody has chosen one faction to live in. They left everything behind including their own name. Now Back to Four. He was so charming. Since the beginning till the last chapter, he stayed as one of my favorite character. I liked the way he acted and how he treated Tris.

Another characters were also awesome. Lets say Peter and the gank, Christina, Will, or Al. They were still a lot. But I promised you,it is so easy to distinguish them.  Veronica Roth is so brilliant in creating such characters. Each of them has their own way to make you feel a variety of emotions.

Abnegation has fulfilled our need for selfless leaders in Government. Candor has provided us with trustworthy and sound leaders in law. Erudite has supplies us with intelligent teachers and researchers. Amity has given us understanding counselors and care-takers, and Dauntless Provided us with protections from thread both within and without."
Second, the world concepts awed me. As you can see in the synopsis and what I wrote above,  there are five factions. Everyone was divided based on their preference. No matter what the test result was, you still can choose. But you have to take all risks that follow after. You have to survive or you will end up as factionless.

Third, the relationship between the characters. All of them were built well. I adored the bond between Tris and her family especially her mother, Mrs. Prior. The scene who involved both of them were so touching. I also liked the chapters that brought me to  the story of Tris with Christina and Will. The hatred between Peter and Tris  was one of my favorite things in Divergent. And finally I choose relationship between Tris and Four. I love everything that happened between them especially when the end up that way

I'd love to tell you more. But I am afraid that I am just giving you spoiler.

The picture below is the cover of Insurgent, the second book in the series. I will never make a same mistake. Right after it is released, I am gonna bring it home. 




Cover
Before reading the book, I have no idea why they chose such cover. I got the answer right after I knew which faction Tris was. I wonder how Indonesian cover will look like.  


4.5/5

Author: Veronica Roth
Reading level: Ages 14 and up
Hardcover: 496 pages
Publisher: Katherine Tegen Books (May 3, 2011)
Language: English
ISBN-10: 0062024027
ISBN-13: 978-0062024022
Product Dimensions: 8.6 x 5.6 x 1.5 inches
Challenge: Just For Fun Reading Challenge

Thursday, 19 January 2012

Book Review: Kucing Bernama Dickens - CallieSmith Grant


Kisah Memikat tentang Kucing yang Membuat Kita Jatuh Cinta 
Kucing bukan sekadar hewan piaraan. Kucing adalah sahabat kita dalam melewati masa-masa sulit, teman ketika kita sedang kesepian, bantal sewaktu kita sedang bersedih. Kucing mengulurkan persahabatan, membuat kita merasa geli, dan membawa misteri ke dalam kehidupan kita dengan cara yang tak tertandingi oleh hewan piaraan lain. Dengkurannya yang lembut atau suara mengeongnya dapat mengubah suasana hati dan menghangatkan perasaan. 
Dalam buku berisi kumpulan kisah nyata yang menawan ini, Anda akan bertemu dengan kucing-kucing dari berbagai jenis, ukuran, dan tingkah laku. Tiap-tiap kucing memainkan peranan penting dalam kehidupan manusia pemiliknya. 
Anda akan berjumpa dengan anak kucing kurus kering yang membantu penyembuhan seorang gadis kecil pengidap anoreksia, induk kucing yang merelakan anaknya untuk dimiliki bocah lelaki yang membutuhkan teman, kucing yang berperan sebagai sahabat dalam menempuh jalan panjang nan sunyi menuju kesembuhan penyakit kanker, dan masih banyak lagi kisah tentang kucing-kucing yang luar biasa. 
Jadi, siapkanlah secangkir teh atau kopi, duduklah di kursi yang nyaman, bergelunglah bersama kucing istimewa dalam kehidupan Anda, dan nikmatilah kisah-kisah yang menyentuh dan membangkitkan inspirasi ini. (Goodreads)
~~~

Awalnya saya mengira buku ini  akan utuh bercerita tentang Dickens si kucing. Namun begitu membuka dan melihat daftar isi, ternyata Dickens tidak sendirian. Ada 23 kucing lain yang akan saya temui. Walau kisah mereka masing-masing hanya tertulis dalam beberapa halaman, saya tidak keberatan. Karena di sampul depan sudah ada jaminan. Para narator tidak akan pernah mengecewakan saya dengan membuat cerita-cerita dengan akhirnya menggantung. Lagipula semua lembaran akan berbicara tentang kucing, kucing dan kucing, binatang peliharaan paling menggemaskan yang pernah ada.

Perjalanan menemui para kucing dari rumahke rumah tidak semulus yang saya kira. Setiap kisah selalu menyisakan rasa iri dan membuat dahi berkerut bahkan ketika saya baru saja menapakkan kaki di beranda rumah mereka. Tidak hanya satu, dua atau tiga, tapi hampir semua tokoh di buku ini tidak perlu repot untuk menjinakkan sang kucing. Mereka tidak harus membujuk Dickens, Monk, Kit Kat,Mocha untuk masuk dan menjadi bagian dari rumah. Mereka juga tidak harus bersusah-susah melakukan apa saja agar makhluk imut itu bersedia dielus. Karena Mittens, Ollie, Angel-lah yang mendekat. Seakan-akan ada magnet yang tidak terlihat. Yang jelas Morris dan Frankie menjadi jinak bukan karena dipancing oleh makanan seperti yang biasa saya lakukan untuk membuat kucing-kucing liar itu mendekat. Yang menyedihkan cara itupun jarang berhasil bahkan.

Keistimewaan Dickens dan teman-temannya tidak berhenti sampai di situ. Kehadiran mereka sangat berarti bagi kehidupan para narator. Clover muncul di kehidupan Twila dan suaminya, Dan, bukan sebagai peliharaan biasa. Kekhawatiran, rasa kehilangan, tertekan ataupun diabaikan seakan menjadi hal kecil. Clover mengingatkannya pada satu lengan yang mengulurkan persahabatan dan pangkuan yang hangat. Yang mengherankan itu tidak hanya Clover. Hampir semua kucing di buku ini melakukan hal yang sama.

Cerita-cerita mereka sempat membuat saya curiga, jangan-jangan ini hanyalah rekayasa semata. Karena hal yang sama rasanya tidak pernah terjadi untuk beberapa tahun yang saya habiskan bersama banyak kucing. Namun para kontributor tentunya tidak akan pernah berbohong untuk hal-hal yang seperti ini.

Pada akhirnya buku ini juga mengingatkan saya akan satu hal. Walau Gigi, Lala,Ling-Ling, Newton, Einstein, Pandu, Panda,ataupun Godai tidak sehebat Dickens dan teman-temannya, mereka tetap menyisakan kenangan yang tidak akan pernah tergantikan. Seperti halnya Dickens, Godai pun istimewa.  Walau hanya kucing kampung, Godai, dengan caranya sendiri, sempat membuat hari-hari saya punya warna yang berbeda.

Untuk pencinta kucing, saya merekomendasikan buku ini.

Cover
Dibanding buku aslinya, cover yang dipilih oleh pihak Serambi jauh lebih bagus. Foto kucing yang dipilih pun lebih menggemaskan . Saya juga suka dengan foto-foto kucing yang ada di setiap bab. Pastinya lebih menarik kalau mereka dicetak penuh warna seperti kucing di bawah ini. 


Image Credit: Silverhammer - His lost cat


Judul Asli: A Dickens of a Cat
Disusun oleh: Callie Smith Grant
Penerjemah: Istiani Prajoko
Editor: Adi Toha
Penerbit: PT Serambi Ilmu Semesta
Cetakan I: Juli 2011





Monday, 16 January 2012

Book Review: Pak Harto The Untold Stories



"Piye to kok ora bisa ditulung (bagaimana sih kok tidak bisa ditolong)?" adalah pertanyaan Pak Harto ketika ia merasa limbung menghadapi kenyataan baru saja kehilangan belahan jiwanya, Ibu Tien Soeharto-istri tercinta yang puluhan tahun menemaninya mengarungi suka dan duka, istri yang selalu mengobarkan semangatnya, menuangkan kasih sayang, serta menguatkan hati. 
Setetes air mata Pak Harto menandai kehilangan besar yang harus diikhlaskannya hari itu, disaksikan Profesor Dr. Satyanegara yang selanjutnya menjadi lebih sering menjaga kesehatan Pak Harto. Demikian pula perjalanan hidup Pak Harto sejak muda yang terekam dengan baik dalam ingatan keluarga besar, sesama kepala negara, para menteri, ajudan, serta orang-orang yang bekerja bersamanya, menjelaskan sisi-sisi lain karakter Pak Harto yang sangat jarang dipublikasikan, yang selama ini tersimpan sebagai the untold stories seorang Pak Harto. 
Masih dalam kenangan mesra Pak Harto bersama Ibu Tien, Brigjen TNI (Purn) Eddie Nalapraya, yang berpangkat kapten ketika menjadi pengawal pribadi Pak Harto di tahun-tahun awal menjabat Presiden RI, pernah mendapat pesan jenaka dari Ibu Tien. Ibu Negara itu mengetuk-ngetuk jendela mobil sesaat sebelum Eddie berangkat mengawal Pak Harto memancing ke laut lepas, "Jangan memancing ikan yang berambut panjang ya...." Pesan canda buat sang pengawal itu membuat Pak Harto tersenyum mendengarnya. 
Sementara Profesor Dr. Emil Salim, Menteri Lingkungan Hidup pada masa pemerintahan Pak Harto, menuturkan kisah yang mengharukan ketika sepasukan tentara disiapkan untuk menembaki serombongan gajah yang dilaporkan memorakporandakan kebun-kebun warga desa transmigrasi di Lampung. Rupanya hewan-hewan besar itu keluar dari hutan karena setiap enam bulan sekali mereka perlu berendam di laut untuk mendapatkan garam. 
"Mendengar rencana itu, Pak Harto segera memerintahkan agar para tentara tidak menembaki kelompok gajah pada saat mereka pulang nanti, melainkan menggiringnya melalui jalan yang berbeda, dengan menggunakan peralatan yang bisa menghasilkan bunyi-bunyian seperti genderang dan terompet. Maka pada perjalanan kembali ke habitatnya di atas bukit, gajah-gajah itu tidak lagi menghancurkan kebun dan rumah di desa transmigrasi," cerita Pak Emil. 
Ide sederhana Pak Harto ini berakhir tidak sederhana. "Setelah berhari-hari mengawal kawanan gajah pulang ke hutan tempat tinggalnya di atas bukit, beberapa tentara meneteskan air mata haru karena dapat merasakan terbitnya kasih sayang di hati mereka terhadap hewan-hewan itu. Presiden Soeharto lantas mengundang semua tentara yang bertugas dari yang berpangkat terendah ke rumahnya di Jalan Cendana. Dengan riang Pak Harto menyalami mereka satu per satu sebagai tanda terima kasih," cerita Pak Emil. 
Buku ini memang sarat bermuatan kisah-kisah human interest sebagai bagian dari keseharian Pak Harto sejak muda hingga akhir hayatnya. Kisah tentang seekor burung beo di halaman belakang yang akhirnya menjadi salah bicara setelah Pak Harto berhenti dari jabatan presiden, isyarat dari alam semesta mengenai akan terjadinya suatu peristiwa duka terhadap diri Pak Harto melalui burung-burung camar yang merontokkan bulu-bulunya memenuhi geladak kapal pada saat Pak Harto sedang bermalam di tengah laut, bahkan kisah tentang rumor yang tidak bertanggung jawab di seputar wafatnya Ibu Tien Soeharto, semua terpapar gamblang apa adanya di dalam buku ini melalui penuturan 113 narasumber yang mengalami dari dekat berbagai peristiwa suka duka di sepanjang hidup Pak Harto. (Goodreads)


~~~

"History is written by the victors"

Tidak banyak buku yang menarik perhatian saya hanya dengan membaca judulnya. Karena saya lebih cenderung memilih bacaan berdasarkan rekomendasi dari teman. Namun kata-kata The Untold Stories punya daya tarik yang sangat kuat. Saya penasaran dibuatnya.

Sebelumnya saya tidak pernah membaca satupun biografi tentang Presiden Indonesia yang kedua ataupun buku-buku yang berkaitan dengan kepemimpinan beliau. Jadi saya sangat berharap buku ini akan memberikan jawaban untuk beberapa pertanyaan yang sempat terlintas di benak. Mengenai kesimpangsiuran Supersemar, insiden Tanjung Priuk tahun 1984 silam, cerita dibalik banyaknya pelanggaran HAM yang terjadi selama pemerintahan pak Harto, ataupun hal-hal yang selama ini tidak pernah tertulis dalam buku sejarah dan tersimpan rapat dari publik.

Sayangnya, harapan saya terlalu tinggi. Karena buku setebal 604 halaman ini sama sekali tidak memberikan jawaban yang saya cari. Kecewa? tentu saja.  Namun pada akhirnya saya hanya bisa tertawa. Sebagai pembaca, saya terlalu lugu. Kata Pengantar, Sekapur Sirih ataupun Catatan Editor yang ditempatkan di bagian awal, seharusnya sudah bisa membuka mata saya. Buku yang berisi tentang kenangan 113 narasumber bersama Pak Harto diterbitkan tidak untuk menghilangkan rasa dahaga akan apa yang sebenarnya terjadi dengan sejarah bangsa ini.

Terlepas dari  semua hal di atas, setidaknya dari buku yang terbagi menjadi delapan bab, saya bisa tahu sosok Pak Harto, baik saat masih menjabat sebagai presiden maupun kehidupan beliau setelah mengundurkan diri tanggal 21 Mei 1998 lalu.


Jangan heran ketika nanti mendapati kalimat-kalimat yang seakan berulang. Karena banyak di antara mereka menyuarakan hal yang sama. Sebagai contoh pembawaan Pak Harto yang tegas dan berwibawa saat masih menjabat sebagai Presiden. Mereka juga bercerita tentang ekspresi wajah Pak Harto yang nyaris tak terbaca. Tidak jarang pula saya mendapati  kekecewaan mereka terhadap orang - orang yang dulunya dekat dengan Pak Harto namun akhirnya menusuk dari belakang. Mereka juga menyayangkan cacian, fitnah dan hujatan yang dilontarkan kepada Pak Harto. Seakan-akan lupa bagaimana kerja keras Pak Harto selama bertahun-tahun. Sejarah berulang? Mungkin.

Tidak hanya dari keluarga, kerabat dekat, ajudan, sederetan menteri ataupun pemimpin-pemimpin negara lain, buku ini juga memuat penuturan tokoh-tokoh yang dulunya bersuara lantang mengkritisi kebijakan pemerintahan Pak Harto. Sebut saja lembaran yang memuat penurutan A.M Fatwa. Bagian yang juga cukup berkesan juga terdapat pada kisah yang diceritakan oleh Teguh Juwarno dan Fadli Zon. Sebagai orang - orang yang mengkritisi pemerintahan Pak Harto, ternyata mereka diterima dengan baik di keluarga Cendana. Dialog dengan orang nomor satu Indonesia saat itu pun berjalan dengan baik. Saya jadi bertanya-tanya mengapa hal yang sama tidak terjadi pada orang lain.

Puluhan foto Pak Harto yang dilampirkan dalam setiap bab adalah bagian yang paling saya sukai dari buku yang harganya cukup mahal ini.

3/5


Pak Harto The Untold Stories
Penulis: Anita Dewi Ambarsari, Bakarudin, Donna Sita Indria, Dwitri Waluyo, Mahpudi
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, Juni 2011
Tebal: 604 Hal
Sumber: Koleksi Pribadi Annisa Anggiana 

Wednesday, 11 January 2012

Early Review: Isabella - Girl on the Go by Jennifer Fosberry




Isabella's back, and her dreams are turning an ordinary backyard into an exciting adventure!
Jennifer Fosberry has created an inspiring follow-up to her New York Times bestselling series featuring everyone's favorite purple-haired, little girl. Previously, Isabella discovered her favorite heroes in My Name Is Not Isabella. Now she travels around the world experiencing its greatest wonders without ever leaving her own backyard.
Isabella, as precocious as ever, spends the day playing her dad as they discover some of the greatest places man has made around the world. She pretends everyday things (like the sandbox) are extraordinary places (like the desert and pyramids of Egypt). Isabella ends the day in her own home-sweet-home, the most wonderful place to be.

A back of the book "Places that Changed the World" section features descriptions of all the places Isabella visits. (Goodreads)

~~~

My Thought
Isabella: Girl on the Go is another good book for children. It has not only beautiful illustration but also nice story.

Isabella, a little cute girl who has a great Imagination is the main character. I liked her.  She does not need any sophisticated things to play. All simple things that she got around were more than enough. Look at how Paintbrush and a fence could make her become a warrior who built the longest and strongest wall in the world to protect her people. Or a flashlight that took her to New York and made her become the Lady Liberty, the defender of freedom.I liked all her journey. Her father was also nice. He's the one who prompted everything for her.

Another thing that I liked from this book was the few last pages. It revealed clearly about all places that mentioned in the previous pages. It also explained to the reader about some words that were said by Isabella. Totally complete - great book for children.  I think I am going to buy this kind of book for my future child.  

Before this one, Jenniffer Fosberry has written another book about Isabella. I wonder what she wrote about. I'd love to know what kind of adventure that Isabella have inside.

Thanks to NetGalley and Sourcebook who has approved my request. I got this free Galley in exchange for an honest review.  

Cover and Illustration
I like the cover. It revealed what we're going to find inside. I love the illustration and its colors. I am going to put Mike Litwin as one of my favorite illustrators. He drew Isabella with very well

5/5

Author: Jennifer Fosberry | Website
Illustrator: Mike Litwin
Reading level: Ages 4 and up
Hardcover: 32 pages
Publisher: Sourcebooks Jabberwocky (February 21, 2012)
Language: English
ISBN-10: 1402266480
ISBN-13: 978-1402266485
Source: NetGalley


#SS2014: The Riddle

Here we go again~ Setelah dua tahun berturut-turut dapat buku terjemahan, tahun ini aku dapat buku dari penulis Indonesia. Ud...