Tuesday, 22 April 2008

Review: Animal Farm - George Orwell



Buku ini pertama kali saya lihat di Bukune, salah satu majalah yang awalnya fokus membahas tentang buku. Tidak adanya resensi apapun tentang buku yang satu ini membuat saya semakin ingin memilikinya. Apalagi mengetahui kalau pengarangnya adala George Orwell yang merupakan pengarang yang sama untuk buku yang berjudul 1984. Akhirnya beberapa bulan lalu, buku ini resmi jadi penghuni rak buku saya. 

Dari judul, sampul depan dan resensi singkat dibelakang sampul, dengan mudah saya mengetahui buku ini berkisah tentang binatang - binatang di sebuah perternakan milik Tuan Jones yang diberinya nama Perternakan Manor. Mereka yang hidup di pertenakannya ini sangat beragam. Dari sekumpulan ayam, babi sampai kuda penarik kereta.

Bertahun – tahun mereka hidup dalam penderitaan. Semua jerih payah yang mereka berikan pada tuan Jones tak pernah seimbang dengan makanan yang mereka dapatkan. Lihat saja telur – telur milik para ayam yang diambil begitu saja tanpa sempat melihat mereka menetas. Bahkan semua tahu cepat atau lambat hidup mereka akan berakhir di pemenggalan. Terlebih ketika mereka tak lagi berguna. 

Setelah sekan lama menunggu, sebuah suara lantang akhirnya terdengar. Menjelang akhir hidupnya, Mayor Tua mengumpulkan para penghuni peternakan dan mulai berpidato. Mayor yang dihormati ini berusaha menyakinkan para binatang agak menyusun kekuatan untuk melepaskan diri dari belenggu manusia yang selama ini membuat mereka menderita.

Tak butuh waktu lama untuk memahami maksud sang Mayaor. Karen amereka pun tak ada yang ingin hidup lebih lama di bawah cengkraman Tuan Jones yang memang tak pernah peduli dengan binatang ternaknya dan dengan sengaja membuat mereka kelaparan.
Tak lama setelah pidato terakhir sang mayor, kemarahan para binatang ternak tidak lagi dapat dibendung. Di awal bulan juni, pemberontakan pun terjadi dan dengan mudah mereka menyingkirkan Tuan Jones yang tak pernah mengira akan terusir dari perternakannya sendiri. Perternakan Manor kini berada di bawah kekuasaan para binatang. 

Hal yang pertama mereka lakukan adalah menyingkirkan hal-hal yang berhubungan dengan manusia. Dari tali kekang, tali leher kuda sampai cincin hidung semua dibiarkan dilalap api dan menjadi abu. Mereka berusaha untuk melenyapkan segala sesuatu yang mengingatkan mereka pada Tuan Jones.

Adalah Snowball dan Napoleon yang sejak awal pemberontakan menjadi pemimpin, kembali mengumpulkan semua binatang untuk membahas kelanjutan hidup mereka. Aturan demi aturan pun dibuat. Setelah didiskusikan akhirnya semua penghuni peternakan Manor menyetujui 7 peraturan. Tidak ada binatang yang boleh membunuh sesama binatang lainnya adalah salah satunya. 

Setelah aturan selesai, hal berikutnya yang dipikirkan adalah bagaimana bertahan hidup. rencana demi rencana pun dijalankan. Awalnya semua berjalan dengan mulus sampai insiden demi insiden terjadi. Manusia memang tak ada yang hidup di perternakan, namun nampaknya tirani kembali menyelimuti kehidupan mereka. 

Buku ini benar-benar membuat emosi saya turun naik. Awalnya saya mendukung pemberontakan namun akhirnya menjadi kesal karenanya. Tokoh – tokoh awalnya saya eluk-elukan akhirnya menjadi yang paling saya benci. Tidak salah jika ada kalimat yang selalu menyatakan bahwa, Tak Ada Yang Abadi Kecuali Kepentingan Pribadi.

Tak di duga, ketika mencari informasi tentang buku ini di wikipedia, banyak hal yang mengejutkan. George Orwell ternyata menuliskan buku ini sebagai refleksi dari kondisi pemeritahan di Uni Soviet saat Stalin berkuasa. Setiap binatang di dalam buku ini seperti Napoleon, Snowball, Mayor Tua bahkan Mr Jones juga ternyata mewakili orang –orang yang menghiasai kancah politik saat itu. Walaupun tidak diakui secara langsung oleh George Orwell mengenai hal tersebut, namun dengan mudah diinterpretasikan oleh beberapa pihak.

Buku yang dipilih oleh Majalah Times sebagai satu dari 100 buku berbahasa inggris terbaik (1923 – 2005) dan berada pada urutan ke 31 untuk Modern Library List of Best 20th Century Novels, ini memang cerdas.Masih dari wikipedia, buku ini ternyata telah diadaptasi ke dalam film animasi atapun film layar lebar. 

Animal Farm
Penulis : George Orwell
Penerjemah : J. Fransisca
Penerbit : Fresh Book
Cetakan I: 2006
Tebal : 207 Hal

Tuesday, 15 April 2008

Review: Drunken Monster - Pidi Baiq




Sejak bisa membaca huruf tanpa terbata - bata , ketertarikan saya terhadap catatan seseorang cukup besar. Tidak peduli catatan berisi pelajaran ataupun tentang kesehariannya. Satu dua kalimat yang ditorekan di bagian paling bawah buku catatan pun tak luput dari pandangan saya. Apalagi kalau sudah bercerita suatu petulangan yang belum pernah saya lakukan maupun rasakan.

Tak heran jika buku yang berisi catatan pak Pidi Baiq ini saya pilih untuk menjadi sala satu penghuni baru rak buku saya di bulan April. Padahal sampul depannya sudah tertera beberapa peringatan seperti Kumpulan Kisah Tidak Teladan ataupun Ini Buku Berbahaya. Bahkan ilustrasi yang dipilih pun seperti gambar anak SD yang baru belajar menggambar. Yah, saya bukan orang yang menilai buku dari sampulnya.
Alasan lain selain paragraf pertama diatas adalah karena semua tulisan di buku ini adalah tulisan yang diposting di multiply.com. Tepatnya, Drunken Moster adalah blog yang dibukukan. Semua buku sejenis ini memang membuat mata saya kalap.

Buku ini selesai saya baca dalam beberapa jam setelah membuka plastik yang tadi membungkusnya. Walau tak mampu membuat saya terpingkal-pingkal ketika seperti membaca buku Raditya Dika, namun dengan mudah saya simpulkan bahwa bapak yang dulunya dekan ini jauh lebih gokil.

Lihat saja tingkah lakunya di semua kisah yang tertulis lengkap dengan ilustrasi yang tak kalah aneh. Tak peduli perempuan ataupun pria, tua maupun muda, tukang becak maupun tukang ojek semua sudah jadi korban kejailannya. Bahkan orang yang sama selalui tidak dikenalnya. Seakan tak pernah kehabisan ide, selalu ada hal baru yang mengejutkan dan membuat saya akhirnya tersenyum simpul bahkan kadang terpingkal tiba-tiba di setiap babnya.

Bayangkan saja, saat itu pak Pidi yang sedang mengendarai motor. Entah apa yang merasuki dirinya, diperjalanan menuju rumah, ia segera meminta seorang tukang becak untuk membawa motornya, sedangkan ia akan mengayuh becak sampai ke rumah. hal – hal seperti itu sepertinya terjadi dengan spontan. Tak ada perencanaan sama sekali.

Di antara kekonyolan-kekonyolan yang sepertinya tak pernah lepas dari diri Pak Pidi, ada satu, dua mungkin tiga yang membuat saya tiba-tiba terenyak dengan perubahan emosi yang begitu tiba – tiba.

Selain gokil, bapak yang satu ini juga sangat pandai berkelit. Ketika kedapatan melakukan hal-hal aneh, dia pasti akan segera mencari alasan apa saja agar semua perbuatan anehnya itu bisa tertutupi. Hanya orang – orang dekat ataupun kawan lama yang mengetahui bahwa pak Pidilah otak dari suatu insiden.

Bahkan ketika jatuh sakit pun, masih saja ada yang konyol yang dilakukannya,seperti menyuruh pembantunya emanggil tetangga hanya untuk mendengarkan ring tone Hpnya sampai membalikkan posisi TV , bahkan menulis surat cinta konyol kepada istrinya.

Dari semua hal-hal aneh yang tertuang dalam buku ini, ada satu yang membuat saya berdecak kagum. Pak Pidi terlihat sangat murah hati. Dengan mudah uang mengalir dari tangannya ke saku orang lain. Seperti hanya kejailan, ia pun tak sungkan untuk memberi rezeki yang dimilikinya kepada orang lain

Yang sedikit mengganggu adalah terkadang saya sedikit bingung dengan cara Pak Pidi bercerita, karena tak ada sensor EYD ataupun mungkin dibiarkan begitu saja oleh sang editor. Sehingga terasa ada keganjilan dalam kalimat-kalimatnya. Hmm...walaupun mungkin ini juga yang menjadi bagian dari keanehan Dan kekonyolan sang penulis itu. Melihat ini, membuat saya berpikir, tidak menutup kemungkinan akan lebih banyak lagi blog-blog yang dibukukan.

Buku ini memang berbahaya, ada virus tak nampak yang disebarkannya. Virus hanya akan bisa dideteksi begitu buku ini berada di tangan. Yah, jangan sampai Anda adalah korban kejailan Pak Pidi berikutnya.

Drunken Monster
Penulis : H. Pidi Baiq
Penerbit: Dar! Mizan
Cetakan: I, Januari 2008
Tebal: 204 hlm



Monday, 24 March 2008

Review: For One More Day - Mitch Albom



Buku ini saya pilih ketika pikiran saya sedang kalut. Semua itu karena berkaitan dengan M . Kalau meminjam istilah Charley dan merubahnya sedikit, saat itu adalah Saat Saat Ibu Tidak Membelaku.

Resensi di belakang buku inilah yang membuat saya akhirnya memutuskan untuk membawanya pulang.

Charley tahu betul, Pauline Benetto, ibunya, sangat sayang padanya. Namun ketika diminta oleh sang ayah untuk memilih menjadi anak mama atau anak papa, Charley malah memutuskan untuk memilih ayahnya. Tak ada hal yang tidak dilakukan Charley ketika ayahnya angkat bicara. Padahal ia tahu balasan yang diterimanya adalah ayahnya memutuskan untuk menceraikan ibunya dan pergi meninggalkan mereka.

Bersama adik perempuannya, Charley dibesarkan seorang diri oleh ibunya. Charley tahu ibunya kehilangan banyak hal, namun tak pernah berhenti meyakinkan anak laki-lakinya bahwa ia tak akan pernah kehilangan kasih sayangnya. Bahkan sampai Charley memulai hidup baru dan membentuk keluarganya sendiri.

Suatu malam, diam-diam Charley meninggalkan ibu untuk bertemu ayahnya. Tak disangka dimalam yang sama ibunya meninggal. Kejadian ini benar benar menjadi pukulan yang menyakitkan bagi Charley.

Sejak saat itu. Charley tidak henti-hentinya menyalahkan dirinya. Hampir setiap hari sejak pemakaman, dihabiskan dengan bermabuk-mabukan. Seakan minuman keras akan membantunya menghilangkan perasaan bersalah itu. Tentu saja bukan menyelesaikan masalah, masalah-masalah baru pun timbul baik dari keluarga maupun pekerjaan. Istri dan anak perempuannya memutuskan untuk meninggalkannya.Bahkan ia pun dipecat dari tempat ia bekerja. Semua hal itu membuat Charley memilih untuk bunuh diri.

Di saat ia yakin telah berhasil mengakhiri hidupnya, mengejutkan ia bertemu Ibunya di rumah lama mereka. Bahkan membantu Charley mengobati luka-lukanya. Dari pertemuan ajaib ini Charley tahu bahwa hanya sedikit hal yang ia tahu tentang ibunya. Rahasia demi rahasia pun terungkap.

Buku Mitch Albom yang selesai hanya dalam beberapa jam ini sukses membuat saya sesegukan. Terlepas dari masalah yang membebani saya saat itu. Tidak hanya Posey Benetto yang mencintai kedua anaknya hingga rela mengorbankan apapun. Saya tahu M juga telah melakukan hal yang sama. Untuk menuliskan Saat-Saat Ibu Membelaku mungkin catatan setebal apapun tak akan pernah cukup.

Oleh Oprah Winfrey, For One More Day ternyata dijadikan semacam FTV di stasiun TV ABC.

Selesai melahap buku ini, saya teringat lagu milik Iwan Fals

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki penuh darah penuh nanah
Seperti udara kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas

M, Love U

For One More Day
(Satu Hari Bersamamu)
Penulis: Mitch Albom
Alih Bahasa: Olivia Gerungan
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan:I, Desember 2007
Tebal: 248 hlm

*Lirik Credit: Iwan Fals

Review: Gelang Giok Naga by Leny Helena

Gelang Giok Naga
Penulis: Leny Helena
Penerbit: Qanita
Cetakan : I, November 2006
Tebal: 316 hlm

Buku ini sebenarnya sudah lama berada dalam rak buku saya. Setelah sekian lama menunggu akhirnya sabtu kemarin saya pun mulai melahapnya. Padahal saya pernah berjanji pada diri sendiri setelah membaca Snow Flower, buku ini akan menjadi buku berikutnya. Setidaknya kedua buku itu punya latar belakang yang sama, kehidupan perempuan China. Di luar dugaan, buku ini hampir sama menariknya dengan Snow Flower. Tak perlu waktu lama untuk menghabiskan setiap lembaran di dalamnya.

Giok dan naga menjadi dua kata yang menarik perhatian saya saat melihat sampul depan buku ini.

Selama ini saya selalu menginterpretasikan Giok dengan sebuah batu berharga berwarna hijau. Semua hal itu terlihat di film silat berseri seperti 8 dewa dkk yang ngetop ketika saya masih SD. Dari buku ini, saya akhirnya tahu giok tak hanya didominasi oleh warna hijau, lebih jauh lagi ternyata giok dijadikan sebagai lambang kemewahan.

Berpindah ke Naga,walau hanya hidup dalam sebuah legenda, naga tetap dianggap penting. Setidaknya di China, Naga telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari budaya mereka. Naga yang dimaksud jauh dari kesan mengerian yang kapan saja mampu mengeluarkan api, dari mulut mereka. Sebaliknya, Naga yang ada dalam legenda China dikenal sebagai sosok yang memastikan bahwa tak satupun roh jahat yang akan membuat kekacauan di tahun baru. dijadikan sebagai simbol kekuatan Bahkan dipercaya bahwa para naga sangat berjasa karena merekalah yang membantu menurunkan hujan disaat manusia mengalami kekeringan. Yang terakir adalah cerita yang tertulis dalam prolog di buku ini yang telah diceritakan secara turun temurun.

Seperti legenda, gelang giok naga ini pun diturunkan dari saat Negeri China diperintah oleh kekaisaran sampai ketika akhirnya setiap jengkal daerah tersebut dikuasai oleh pemerintahan komunis.

Yang Kuei Fei, seorang selir kaisar China, mendapatkannya langsung dari tangan sang putra langit sebagai hadiah. Sebagai selir, Yang Kuei Fei termasuk salah satu yang beruntung karena diantara ratusan selir yang ada, ia mampu menarik perhatian kaisar. Keadaan yang berubah dalam waktu sekejap, membuatnya harus meninggalkan istana

Beratus tahun berlalu, A Sui, seorang wanita memutuskan untuk menyusul suaminya yang bekerja di indonesia. Di tangannyalah gelang giok naga tersebut kini berada. Tahun - tahun pertama di negara yang masing masing ini dilaluinya tanpa hambatan yang berarti. Kendala bahasa dapat hanya masalah waktu.

Gejolak politik di indonesia dengan cepat membuat kehidupan A Sui dan keluarganya berubah. Usaha suaminya akirnya bangkrut. Harta yang tadinya lebih dari cukup sedikit demi sedikit habis bahkan dengan terpaksa gelang warisan ibunya digadaikan pada seorang wanita rentenir, A Lin.

Pertemuan singkat yang diharapkan A Lin menjadi yang terakhir itu berlanjut menjadi pertalian keluarga. kedua anak bungsu mereka secara diam –diam menjalin hubungan. Padahal dengan keras A Lin telah mewanti-wanti anak-anaknya untuk menjauhi keluarga A Sui yang miskin. Nasib berkata lain.

Dari kedua anak mereka, lahirlah Swanlin. Cucu perempuan yang lahir di tahun naga dengan cepat menyadari bahwa kedua neneknya, popo Sui dan popo Lin,tak pernah berhenti bersaing dalam berbagai hal. Ia tumbuh menjadi perempuan yang percaya bahwa sosok wanita yang kuat,yang tak pernah letih berusaha untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia mampu bertahan hidup diantara orang –orang yang tak henti-hentinya mengecam kelompok hanya karena mereka warga keturunan.

Seakan menjadi saksi biksu, gelang giok naga hadir ditengah kehidupan perempuan-perempuan yang berusaha bertahan hidup di jalan terjal yang telah digariskan oleh takdir.

Tokoh-tokoh yang ada di dalam buku ini sungguh membuat saya kagum. Sosok mereka terlihat begitu kuat padahal kehidupan yang mereka hadapi tidaklah ramah.

Tak diperlukan badan seperti Xena untuk bertahan hidup.

Monday, 17 March 2008

Review: Perempuan Terluka - Qaisra Sharaz



Siang itu di Desa Chiragpur diadakan Kacheri, pengadilan terbuka. Ruangan saat itu dipenuhi oleh warga desa. Tak peduli jarak yang mereka harus tempuh untuk sampai ke madrasah tempat Kacheri dilangsungkan. Karena pengadilan seperti ini jarang terjadi. Mereka ingin menjadi saksi atas hukuman yang akan dijatuhkan oleh Siraj Din, seorang tuan tanah yang dituakan, untuk Haroon dan Naghmana, dua orang yang didakwa telah melakukan perbuatan tak senonoh.

Perkataan kasar yang menyakitkan pun tak berhenti dilontarkan oleh warga desa kepada keduanya. Semua memberikan tatapan penuh penghinaan. Naghmana tak berbuat banyak kecuali menunduk untuk menghindari semua sorot mata yang seakan siap menerkamnya kapan saja sampai akhirnya kebenaran terungkap.

Sayangnya keadilan tak juga didapatkan Naghmana ketika setiap orang di dalam madrasah itu mengetahui cerita yang sebenarnya. Ketika tahu bahwa tak banyak yang dapat ia perbuat, Naghmana hanya bisa mengangguk sebagai tanda setuju atas keputusan yang diambil oleh Siraj Din.Kata talak dari mulut Haroon pun terdengar, Bukan satu kali ataukah dua kali tapi tiga kali. Dunia Naghmana seakan berhenti saat mendengar kata kata tersebut. Semua kini berakhir.

Semua tercengang. Tak terkecuali Hajra, perempuan yang meminta Siraj Din untuk melaksanakan Kacheri. Perempuan tua itu tak pernah mengira Kacheri yang awalnya ditujukan untuk menghukum Haroon menantu laki-lakinya dan Naghmana, seorang perempuan asing yang baru bertandang selama dua hari di Desa Chiragpur berakhir dengan rasa bersalah yang berkepanjangan.

Rasa bersalah itu tak hanya dirasakan oleh Hajra. Semua orang yang hadir di gedung madrasah saat itu merasakan hal yang sama bahkan Siraj Din sekalipun. Hal itu seakan tak pernah hilang dari ingatan mereka. Bahkan ketika kejadian di siang hari yang panas itu telah berlalu selama 20 tahun. Seakan kutukan itu menghantui semua langkah mereka. Sehingga tak satupun yang mampu melupakan kejadian yang menyisakan luka yang mendalam dan tak kunjung kering.

Buku sekuel dari Perempuan Suci, yang menurut saya lebih tepat disebut prekuel ini, memang tak kalah tragis dari buku yang pertama. Kembali, keegoan pria telah mengorbankan cinta dan perasaan seorang perempuan. Seakan tersihir, tak satupun yang berusaha menghentikan ataupun menolong. Sekali lagi hati perempuan berdarah dibuatnya. Tak heran jika Perempuan Terluka menjadi dua kata yang dipilih menjadi judul buku ini.

Tak ada air mata untuk buku yang satu ini. Amarah telah lebih dulu menguasai diri saya. Perempuan –perempuan di dalam buku ini terlihat sangat lemah. Tak ada yang dapat mereka lakukan selain melarikan diri. Setiap babnya hanya membuat saya ingin melompat ke bab berikutnya.

Cerita yang ada di dalam buku ini mungkin hanya fiksi. Tapi saya tahu di luar sana beribu hati perempuan terluka. Tak terhitung tetesan air mata yang terbuang karenanya. Bahkan banyak yang akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidup karena tak tahan menanggung sakit akibat luka yang tak kunjung sembuh. Apakah karena perempuan adalah mahkluk yang begitu lemah hingga tak mampu memberikan sedikit pun perlawanan?

Perempuan Terluka 
Penulis: Qaisra Sharaz
Penerjemah: Atta Verin
Penerbit: Mizan
Cetakan: 1, Mei 2007
Tebal: 410 hlm

Sunday, 16 March 2008

Review: Lizzie Si Mulut Terkunci - Jacqueline Wilson





Lizzie telah terbiasa tinggal berdua dengan ibunya. Semua hal dikerjakan berdua bersama dari menonton bola, makan segelas besar es krim, ataupun berdansa mengikuti irama musik. Bahkan Lizzie berbagi tempat tidur bersama ibunya. Hal itu ia lakukan sejak mereka berpisah dengan dua pria jahat, baik ayah kandung Lizzie maupun ayah tiri pertamanya.

Tentu saja semuanya menjadi berbeda ketika ibunya memutuskan untuk pindah bersama seorang pria yang menjadi ayah tiri keduanya. Semua hal tak lagi dilakukan berdua. Karena tak hanya berbagi dengan sam, ayah tiri barunya tapi juga berbagi segala hal dengan Rory dan Jake, dua anak lelaki Sam.

Lizzie tak dapat menerima keputusan yang diambil ibunya. Semua protes yang dilontarkan oleh Lizzie tak satupun yang ditanggapi. Mereka pun akhirnya meninggalkan flat menuju rumah baru mereka, rumah Sam,Rory dan Jake.

Tak kehabisan akal, Lizzie akhirnya mengambil tutup mulut sebagai jalan terakhir. Ia tak sekalipun mengucapkan sesuatu ketika Sam, Rory ataupun Jake mengajaknya bicara. Tak ada yang dapat membuatnya berbicara bahkan ketika ibunya membujuknya sekalipun.

Sampai suatu saat Lizzie memutuskan untuk menghentikan aksinya mogok bicara. Hari itu ia bertemu seseorang yang tak hanya membuatnya berbicara bahkan memaksanya memohon.

Kelakuan Lizzie membuat saya teringat masa kecil. Kalau ngambek saya juga sering membuat M jadi bingung karena semua pertanyaan beliau saya jawab dengan bertingkah seperti Lizzie. Hihi..Anak yang nakal *jitak

Saya tahu saat itu tak hanya M yang merasa sakit. Di dalam hati saya pun rasanya ingin menangis ketika melihat kekecewaan di wajah M. Entah mengapa semua kata kata itu tersangkut di kerongkongan. M, Maafin Ally. Ngga lagi-lagi deh.

Mengenai ilustrasi, sampai sekarang saya tak pernah suka dengan semua gambar itu. Sebenarnya saya hanya terganggu dengan gambar mata setiap tokoh yang hanya digambarkan dengan satu titik. Mungkin karena terbiasa dengan mata yang lebar seperti di komik jepang. 

Lizzie Si Mulut Terkunci 
(Lizzie ZIPMOUTH) 
Penulis: Jacqueline Wilson 
Alih Bahasa: Listianan Srisanti 
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama 
Cetakan: II, Desember 2003 
Tebal: 96 hlm

Wednesday, 12 March 2008

Perempuan Suci


Perempuan Suci
Penulis: Qaisra Shahraz
Penerjemah: Anton Kurnia dan Atta Verin
Penerbit: Mizan
Cetakan V: Desember 2007
Tebal: 520 hlm

Buku ini sudah masuk wishlist sejak pertama kali terlihat di salah satu rak gramedia. Apalagi melihat tulisan Winner of Jubilee Award 2002 yang tertera disampulnya benar-benar membuat saya penasaran. Namun entah mengapa semua pundi-pundi emas itu tidak pernah saya tukarkan untuk membawa pulang buku ini. Rasa penasaran terus menghantui saya ketika satu demi satu review tentang buku ini muncul. Tak satupun kalimat yang saya baca. Karena saya ingin mengetahui bagaimana kisah Perempuan Suci ini mengalir dengan mata kepala sendiri. Yang jelas saya tahu tak ada penyesalan meluang waktu untuk membaca buku dengan ketebalan dan font yang menantang.

Semua buku yang telah saya jadwalkan untuk saya lahap akhirnya harus menyingkir beberapa hari karena buku ini akhirnya berhasil berada digenggaman saya senin pekan lalu. Apalagi beberapa belakangan ini saya sedang mengumpukan semua hal yang terkait dengan seorang perempuan.

Adalah Zarri Bano yang menjadi tokoh sentral yang digambarkan sebagai wanita matang yang memiliki keistimewaan membuat banyak wanita iri, bukan hanya karena wajahnya yang menarik banyak pria. Tak terkecuali adik perempuannya Ruby dan sepupunya Gulshan. Berita pernikahannya sendiri telah banyak ditunggu oleh orang. Semua ingin tahu siapakan pria yang berhasil membuat perempuan ini bertekuk lutut karena telah brkali kali lamaran yang datang ditampiknya. Semua hal itu dilakukan seperti rutinitas lainnya.

Sampai akhirnya, Sikander, seorang pria dari Karachi memikat hatinya pada padangan pertama. Lamaran pria itu pun diterimanya. Berita gembira yang telah lama ditunggu itu tak bertahan lama. Karena gaungnya terpaksa tertutupi oleh kematian adik laki-lakinya, Jafar. Kehilangan adik laki-lak satu satunya bukanlah hal paling buruk minggu itu. Sesuatu yang tak pernah dibayangkan sebelumnya ternyata telah menunggunya.

Keputusan sepihak oleh sang ayah pun tak dapat dicegah oleh siapa pun. Setelah merundingkan dengan Siraj Din, Habib Sahib, sang ayah memutuskan untuk menjadikan Zarri Bano sebagai Shahzadi Ibadat, perempuan suci, perempuan yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk beribadah kepada Tuhan, dengan maksud menjadikannya sebagai ahli waris keluarga. Keputusan ini membuat Zarri Bano benar-benar terpukul. Walau terluka, harga dirinya terlalu tinggi untuk dikorbankan. Satu demi satu keinginan untuk menjadi istri Sikander pun dikuburnya dalam – dalam.

Zarri Bano pun memulai lembaran baru dengan menjadi seorang perempuan yang hidup di balik burqa hitam yang sederhana. Berbagai ilmu barupun dipelajarinya. Sekuat tenaga ia berusaha untuk menyembunyikan kesedihan dah amarahnya. Walau tak bisa membohongi diri sendiri akan kenangan masa lalu yang masih mengikatnya di beberapa tempat yang akhirnya kembali ketika mengetahui bahwa Sikander akan menikahi adiknya Ruby. Mendengar kabar langsung dari mulut adiknya itu membuat dinding yang telah susah payah dibangungnnya akhirnya runtuh menjadi puing – puing. Kali ini air mata tak mampu lagi dibendungnya.

Beberapa Pertanyaan kembali menghantui bnak saya. Yang paling mengganggu adalah masalah Sikander, bagaimana pria bisa mencintai dua wanita berbeda pada saat yang sama?

Walau tak sampai sembab, buku ini berhasil membuat mata saya berkaca-kaca. Bukan hanya menangisi kisah Zarri Bano tapi lebih pada nasib yang harus dialami oleh perempuan-perempuan yang harus menyerah pada tradisi dan budaya.
Ternyata tak hanya di Afghanistan ataupun di Pakistan pun perempuan tak akan pernah bisa menanyaingi kedudukan para pria yang dipuja-puja dan dianggap sebagai harta yang tak ternilai bahkan di atas semua kekayaan duniawi. Dari sumber yang ada ternyata di negara belahan lain, perempuan mendapat perlakuan yang sama.

Setelah buku ini selesai, Perempuan Terluka telah menunggu saya di salah satu sudut rak. Wajah dan tatapan sendu yang sarat dengan kesedihan di sampul depan membuat saya luluh dan akhirnya kembali menyingkirkan buku –buku lain

#SS2014: The Riddle

Here we go again~ Setelah dua tahun berturut-turut dapat buku terjemahan, tahun ini aku dapat buku dari penulis Indonesia. Ud...