Tuesday, June 10, 2008

The Five People You Meet In Heaven (Meniti Bianglala)


The Five People You Meet In Heaven
Judul Indonesia: Meniti Bianglala
Penulis: Mitch Albom
Alih Bahasa: Andang H. Sutopo
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, April 2005
Tebal: 208 hlm


Setelah One More Day, yang sukses menguras air mata, The Five People You Meet ini Heaven karya Mitch Albom menjadi pilihan saya berikutnya. Padahal buku ini lebih dahulu terbit.

Banyak alasan mengapa saat buku ini terbit, saya tidak serta merta mengajaknya menjadi penghuni rak buku di rumah. salah satu alasan adalah karena sampul depan yang kurang menarik. Apalagi saat itu saya belum mengenal siapa Mitch Albom.

Namun begitu membaca One More Day yang ceritanya sangat menyentuh, saya pun segera mencari karyanya yang lain. Walaupun tak yakin masih bersisa di rak toko buku. Karena mengingat buku ini diterbitkan tiga tahun yang lalu.

Beruntung!. Beberapa pekan lalu, saya menemukannya di salah satu sudut rak buku. Tak ada lagi plastik yang membungkus seperti biasa. Namun bagi saya tak masalah. Yang jelas bisa segera melaap buku ini.

Taman hiburan menjadi tempat kerja Eddie, sejak ia memutuskan untuk meninggalkan perang. Bertahun tahun lamanya ia menghabiskan waktunya di tempat yang selalu ramai karena wahana – wahana seperti Tilt a Whirl, Pipeline Plunge, Ghost Coaster dan wahana lain yang tak kalah menarik di dalamnya.

Eddie bekerja di bagian Maintenance. Tugasnya tak lain merawat dan memperbaiki setiap wahana. Tak kadang Ruby Pier, taman hiburan, tutup karena ia beserta kawan-kawannya sedang memperbaiki beberapa wahana.

Walau melakukan rutinitas yang sama setiap hari, Eddie tak kunjung meninggalkan pekerjaannya. Padahal kalau mau ia bisa saja melakukannya. Eddie seakan tak punya pihan lain. BahkanRuby pier dijadikannya tempat pelarian seuluh penyesalan, kekecewaan bahkan kesepian yang dialaminya.

Tak disangka pagi itu, saat ia merayakan ulang tahunnya yang ke 83, malaikat maut datang menjemput. Kecelakaan tragis membuatnya tewas saat ia berusaha menolong seorang gadis kecil dari wahana yang rusak. Benturan yang hebat yang tak hanya menimbulkan kilau cahaya membutakan kemudian kehampaan. Saat mengembuskan nafas yang terakhir, Eddie sempat merasakan dua tangan kecil di tangannya.

Ketika membuka mata, Eddie yakin bawa dirinya tak berada di surga seperti yang dibicarakan banyak orang dibicarakan orang. Di dunia baru yang masih terasa asing, Eddie malah bertemu dengan lima orang. lima orang yang berasal dari masa lalunya. orang – orang yang sangat dikasihinya, bahkan banyak dari mereka yang tak pernah dikenalnya.

Mereka memang telah menunggu kedatangan Eddie. Untuk memberitahu sesuatu yang sesungguhnya terjadi di kehidupannya. Memberinya beberapa pelajaran. Bahkan banyak diantaranya yang membuat Eddie sadar akan semua amarah dan kekecewaan yang dipendamnya selama ini tak beralasan. Kelima orang ini juga memperlihatkan banyak hal yang ternyata tanpa disadar mengubah jalan hidup Eddie selamanya,

Selesai membaca buku ini dan membandingkannya dengan One More Day, banyak kesamaan yang saya temukan. Tak hanya dari alur maju mundur, bahkan keluarga masih menjadi latar cerita. Untung saja alur maju mundur tetap runut sehingga tak ada membuat saya kebingungan.

Mitch Albom rasanya penulis yang sangat ahli untuk menuliskan sebuah cerita yang menyentuh. Dari buku sebelumnya, Mitch Albom tetap menyukai dan tak pernah bosan dengan tema kematian untuk dikembangkan menjadi sebuah cerita.

Melalui bukunya, Mitch Albom seakan ingin mengingatkan kepada semua orang bahwa kematian adalah sesuatu yang pasti yang kedatangannya tak akan pernah bisa diketahui kapan datangnya. Siap atau tidak. Karena tak satu jiwapun yang dapat menolak takdirnya, maka ia mengingatkan bahwa tak perlu membawa penyesalan, kekecewaan ataupun kemarahan menjadi beban yang harus dibawa ke mana – mana, bahkan seumur hidup. karena sesungguhnya, hidup punya makna yang lebih dalam dari pada sekedar memikirkan hal – hal yang hanya membuat kita bersedih.

Masih ada atu lagi buku Mitch Albom yang sebenarnya telah diterbitkan oleh GPU, namun hingg kini pencarian saya tak kunjung membuahkan hasil karena buku itu (Tuesday With Morrie) telah diterbitkan beberapa tahun yang lalu. Jauh sebelum Meniti Bianglala terbit. Saya yakin masalah yang diangkat tak jauh berbeda dengan buku-buku yang sebelumnya. Namun saya tetap penasaran dengan buku yang mungkin disajikan dalam bentuk yang berbeda.

1 comment:

Althesia Silvia Koyongian said...

Gimana Tuesday with morrienya udah ketemu?udah baca?