Friday, June 27, 2008

Lemot; a Diary of Ceweq Gokil


Lemot; a Diary of Ceweq Gokil
Penulis: Pritha Khalida
Desain Sampul: Ellina Wu
Penerbit: Gradien Mediatama
Cetakan: I, 2008
Tebal: 151 hal

Lemot: Lemah otak; sebutan untuk orang yang ga nyambung kalau diajak ngomong, atau lambat nangkap apa yang sedang dibicarakan
- Indah THBB-

Lemot: Lama unuk mengerti maksud dari sesuatu hal
- Tikyut EMO-

Lemot: Julukan untuk seseorang yang susah untuk menangkap atau mengikuti sesuatu, orang yang lamban
-Smartie EMO-

Semua definisi di atas saya kumpulkan melalui sms.

Kenapa harus mengeluarkan pulsa hanya untuk mendapatkan kata – kata tersebut? Karena awalnya saya merasa bahwa isi buku dan judulnya tidak benar - benar relevan satu sama lainsaya merasa sedikit kebingungan. Karena setelah membaca beberapa cerita di dalamnya, Pritha, cewek yang jadi tokoh sentral dalam buku ini, tidak benar- benar lemot. Saat itu pengertian lemot yang saya pegang sama seperti yang diungkapkan Indah, Tikyut dan Smartie. Saya bahkan berhenti membaca hanya karena penasaran dengan arti lemot yang dimaksud oleh buku ini.

SMS dari Arashi sungguh membawa pencerahan.

Lemot: Lambat berpikir dan merespon. Bisa juga untuk panggilan untuk orang yang kurang peduli dengan keadaan sekitar walaupun dia nggak sadar dengan kelemahannya. Contoh: karakter Mili di AADC
-Arashi EMO-

Saya jadi mengerti mengapa semua cerita yang diangkat dari sebuah blog ini diberi cap Lemot. Begitu mendapat yang saya cari, akhirnya buku ini dengan mudah saya lahap dalam satu beberapa jam.

Walau berjudul lemot, menurut saya buku ini malah kebanyakan bercerita tentang keluguan seorang perempuan bernama Pritha. Senyum simpul bahkan rasa geli mencuat ke permukaan begitu membaca beberapa kisah di dalamnya. Lihat saja cerita Pritha tentang insiden yang terjadi dengan rambutnya di salon, di sekitar kampus ITB atau bahkan di bus dan angkot sekalipun.

Kejailan juga ternyata jadi bagian tak terlepaskan dari hidup cewek jebolan Fakultas Psikologi di salah satu universitas di Bandung. Yang bagian ini jelas bukan hal yang patut ditertawakan. Karena dipertengahan cerita, saya jadi kasihan ma Bapak yang dibiarkan kebingungan mencari ruangan. Walau akhirnya dengan senyum penuh kemenangan ketika Pritha juga mengalami hal yang sama. Yah kalau kejadian ini disebut Pritha sebagai karma, saya menyebutnya sebagai sunatullah. Seperti yang dikatakan seseorang di buku yang lain yang kalau tidak salah berkata bahwa Allah tahu dan menunggu.

Kisah mengharukan juga ada di dalam buku ini. Tidak lain tidak bukan tulisan yang terkait dengan cerita tentang Nanda, adiknya Pritha. Saya sontak teringat dengan kakak – kakak yang sekarang tinggal di kota lain. Kenangan dengan mereka berdua memang tidak semuanya indah. Karena perselisihan tak pernah bisa telekaan. Yah namanya juga saudara. Bahkan dari masalah yang sepele sekalipun juga bisa jadi sumber pertengkaran. Tapi begitu jauh, yang tersisa adalah rasa kangen. Kalau dekat, saudara tuh emang bau banget, tapi begitu jauh, yang tercium adalah keharuman yang ngalahin bunga mana pun.

Yang sedikit membuat saya sedikit sedih, ternyata Pritha juga masuk list orang – orang yang nggak suka ma kucing. Hiks... makin banyak saja jumlah orangnya di bumi ini yang merasa bawa kucing tuh nggak ada lucu-lucunya.

Cerita apalagi yah? Yang jelas banyaklah. Ada bonus tracknya gitu(. Haha..ternyata bukan cuman kaset dan CD)

Rasanya tak sopan kalau semua cerita saya beberkan semua disini. Nanti malah nggak jadi beli bukunya. Overall, cerita – cerita Pritha tidak kalah menarik dengan buku – buku yang juga diangkat dari postingan di blog. Koleksi saya sendiri belum begitu banyak sih, namun buku ini pantaslah dijadikan penghuni rak buku di rumah. yang jelas buku Pritha ini dijadikan salah satu buku acuan bagi anggota angingmammiri.org yang ingin menulis cerita gokil. sekarang angingmammiri dan pihak Gradien menerima cerita-cerita konyol karya anak makassar, yang kalau beruntung akan diterbitkan menjadi buku, seperti punya Pritha. ^_^

Sayangnya gambar cewek modis yang dijadikan sampul depan, rasanya kurang pas untuk dijadikan sebagai simbol yang mewakili Pritha. Saya malah memilih gambar cewek yang ditaruh di sampul belakang. Ekspresi wajahnya jauh lebih menggambarkan kata LEMOT yang sempat membuat saya sedikit pusing. entah apa karena ikut ketularan virus lemotnya Pritha. Haha...

3 comments:

Pritha Khalida said...

Makasih yaa udah review buku aku :)
Terharu deh, mana dikupas dari berbagai aspek pula..
Maafkan baru sempat kunjungan balik skarang :)

ilmi said...

sepertinya buku yg bagus. kapan2 beli ah :)

Ally said...

@Ilmi
Semoga bukunya masih ada di toko buku. Selamat mencari