Wednesday, 14 January 2009

A Series Unfortunate Events : The Grim Grotto


A Series Unfortunate Events : The Grim Grotto

Judul Indonesia: Gua Gelap

Penulis: Lemony Snicket

Penerjemah: Primadonna Angela

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan:I, November 2008

Tebal: 328 hlm

Setelah lepas dari cengkraman Count Olaf untuk sementara waktu, kisah anak – anak Baudelaire kali ini dimulai di Sungai Stricken. Apa yang mereka lakukan di sana? Piknik? Melakukan perjalanan wisata?


Yeah, mengarungi sungai yang jernih dan dikelilingi dengan pemandangan yang indah di atas kapal atau pun perahu kecil mungkin menyenangkan. Apalagi kalau kapal dan perahu itu lengkap dengan segala peralatan yang dapat digunakan di saat genting. Tapi tentu saja mereka tidak sedang piknik ataupun melakukan perjalanan wisata. Karena Sungai Stricken pun bukan sungai yang menyenangkan untuk dikelilingi. Bahkan membosankan. Sejauh mata memandang, yang terlihat anyalah pusaran hiotam dan gelap. Perairan kelabu dan kotor itu juga sangat dingin. Arusnya sangat deras siap menelan anak – anak Baudelaire bulat-bulat. Mereka bahkan tidak berada di atas perahu yang aman. Mereka hanya mengandalkan sebuah toboggan, yang sewaktu – waktu dapat terbalik.


Tak satupun diantara mereka yang menemukan cara untuk menghentikan toboggan ataupun keluar dari arus deras Sungai Striken. Mereka hanya bisa menunggu. Sesuatu hal yang mereka benci. Karena semua waktu yang terbuang itu bisa digunakan mencari lebih banyak hal tentang PKS ataupun mencari tiga sahabat kembar mereka, anak – anak Quagmire.


Seiring berjalannya waktu, mereka sampai ke sungai yang lebih lebar dan perairan semakin ganas. Violet, Klaus dan Sunny harus mempererat pegangan jika tidak ingin terhempas dari toboggan. Seraya berpikir bagaimana cara untuk menepikan toboggan, tiba- tiba saja di hadapan mereka muncul sebuah mata logam dari dalam sungai. Dengan cepat Klaus mengenalinya sebagai Periskop sebuah kapal selam. Yang juga berarti bahwa pada saat yang sama ada sebuah kapal selam yang berada di bawah mereka. satu kejutan lagi hadir dalam kehidupan anak – anak Baudelaire.


Walau tak ada jaminan bahwa orang di dalam kapal selam itu tidak akan sejaat Count Olaf, namun bagi mereka, masuk ke dalamnya adalah pilihan yang lebih baik daripada terapung di atas toboggan yang rusak.

Kejutan kali ini bisa disebut melegakan, Karena pemilik kapal selam bukanlah bagian dari komplotan jahat milik Count Olaf. Kapten Widdershins, begitu nama pemilik kapal selam itu. Ia ternyata tak sendiri, karena di dalam kapal selam juga ada seorang anak tirinya bernama Fiona dan juru masak yang tidak asing lagi bagi mereka, Phil. Ya, pria yang sama dengan pria yang pernah mereka temui di Pabrik Kayu Pasti Mujur. Jelas ini bukan kebutulan, tapi kalau pun kata itu ada, jelas sangat menyenangkan bagi anak – anak Baudelaire.

Tak butuh waktu lama untuk bergabung bersama awak kapal selam yang diberi nama Queequeg ini. Masing – masing dari mereka bahkan diberi seragam selam. Karena tak pernah ada yang tahu apa yang akan terjadi pada Queequeg tua.


Walau berada di tempat yang lembab, setidaknya untuk sementara waktu anak – anak Baudelaire bisa bernafas lega. Kapten Widdershins yang tidak berhenti mengucapkan Pria Yang Ragu – Ragu Akan Kalah adalah bagian dari P.K.S. Ia bersama anak perempuannya itu bahkan mengenal Jacques dan tentu saja dengan semua anggota P.K.S lainnya termasuk pertemuan P.K.S di Hotel Denouement. Bahkan tujuan mereka berada di dalam kapal selam tua itu adalah mencari mangkuk gula. Benda penting milik P.K.S yang juga menjadi incaran komplotan jahat Count Olaf.


Masih ada lima hari sebelum pertemuan itu di mulai. Rencana pun di susun. Violet mendapat tugas untuk mengecek peralatan telegram, jikalau sewaktu – waktu mereka akan mendapat pesan dari para agen. Klaus bersama Fiona akan mempelajari bagan pasang – surut untuk mengetahui keberadaan mangkuk gula yang terseret arus Sungai Stricken dan Sunny akan membantu Phil di dapur membuat hidangan lezat untuk mereka berenam.


Mengamati bagan pasang – surut tentu bukan keahlian Klaus ataupun Fiona. Dengan susah payah, akhirnya mereka menemukan tanda G.G yang menjadi lokasi mangkuk gula. Awalnya mereka kesulitan mengurai inisial kedua huruf itu, sampai saat makan malam. Grotto Gorgonia adalah kata yang mereka cari. Groto yang juga berarti gua. Di situlah mangkuk gula kemungkinan besar berada. Tak hanya mangkuk gula, tapi juga tempat hidup cendawan beracun, Miselium Medusa.


Tim pencarian pun dibentuk. Violet, Klaus, Sunny serta Fiona akan menyelam ke luar kapal selam. Karena kapal selam tua Queequeg tidak dapat mendekati gua itu. Sementara Kapten Widdershin dan Phil akan berjaga di kapal selam.


Pencarian pun di mulai. Namun dengan ancaman cendawan beracun, mereka harus ekstra hati hati. Beragam benda mereka temukan namun tidak satupun benda yang berciri mangkuk gula. Seakan mengobrak – ngabrik tempat itu hanyalah pekerjaan yang sia – sia.


Di saat mereka didera keputusasaan, ternyata sesuatu yang buruk terjadi di Queequeg. Kapten Widdhershin dan Phil menghilang dan yang lebih parah lagi, Count Olaf dan komplotan jahatnya ternyata mengambil alih kapal selam tua itu. Bahkan tanpa mereka ketahui cendawan beracun telah berkembang biak di salah satu pelatan selam milik salah satu dari mereka. Nampaknya kali ini adalah bagian dari kejutan yang tidak menyenangkan.

Misteri demi misteri yang menyelubungi anak – anak Baudelaire ternyata semakin menumpuk. Begitu juga dengan rasa penasaran. penemuan – penemuan yang mereka dapatkan ternyata mengarah ke dalam lubang mister yang lebih dalam lagi. Rasanya ingin cepat – cepat membuka catatan Lemony Snicket berikutnya. Walau tahu catatan – catatan berikutnya hanya akan menimbulkan pertanyaan – pertanyaan baru lagi.


Yeah, dari awal Lemony Snicket sebenarnya telah memberitahu kepada dunia bahwa orang – orang diluar sana tidak erlu ersusah ayah meluangkan waktu untuk turut membenamkan diri dalam kegelapan kisah anak – anak Baudelaire karena seperti itulah yang akan terjadi. Namun sebagai salah satu orang yang mencintai anak – anak Baudelaire, tak peduli segelap apapun kehidupan mereka, saya akan tetap menunggu. Bahkan ketika jaminan tentang kehidupan yang lebih ceria tak pernah dijanjikan oleh sang penulis.

Mirror, Mirror On The Wall


Mirror, Mirror On The Wall
Penulis: Poppy D. Chusfani
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, September 2008
Tebal: 176 hlm


Di luar sana banyak yang memandang sebelah mata pada buku-buku bergenre teenlit. Tidak salah sih kalau banyak diantara mereka yangmelakukan hal terebut. Karena memang kebanyakan dari buku buku tersebut ceritanya hanya berpuar – putar di masalah yang sama. Namun tidak berarti tidak ada teenlit yang seru untuk dibaca. Memang diperlukan kejelian untuk memilah – milih buku – buku tersebut.

Untuk amannya, saya lebih sering memilih teenlit terjemahan. Tapi tidak berarti teenlit karya lokal nggak ada yang bagus. Ada koq beberapa. Salah satunya adalah buku yang reviewnya saya tulis ini.

Semua berawal dari The Bookaholic Club,buku pertama mbak Poppy. Saya menyukai buku itu. Salah satunya karena buku bercerita tentang gadis remaja yang dicampur dengan unsur fantasi di dalamnya. Sebagai penggila buku bergenre fantasi buku ringan itu tentu sayang untuk dilewatkan.

Begitu tahu buku ini keluar tentu saya tidak ingin ketinggalan. Apalagi melihat judulnya. Mirror, Mirror On The Wall. Siapa yang tidak kenal dengan kata – kata itu. Tak perlu berpikir lama untuk memutuskan bahwa cerita kali ini juga ada campuran unsur – unsur yang sama dengan buku sebelumnya. Apalagi kalau melihat gambar di sampul depan. Ada sesuatu yang misterius di sana.

Kisah kali ini bercerita tentang seorang gadis SMU bernama Karin. Ia hidup bersama ayah dan seorang kakak perempuan. Ibunya sendiri telah lama meninggal.sejak saat itupula, untuk masalah perawatan rumah segalanya menjadi tanggung jawab kakaknya Lis yang dibantu oleh dua asisten rumah tangga. Semua kebutuhan Karin tidak ada yang tidak dipenuhi. Satu hal yang patut disyukuri. Sayangnya itu tidak da[at dilakukan Karin dengan sepenuh hati. Jangankan bersyukur untuk semua yang dimilikinya selam ini, bakan untuk kemampuan pada dirinya pun Karin tak dapat melihatnya.

Karin selalu saja merasa ada yang kurang pada dirinya. Tidak seperti kakaknya yang dianugerahi dengan kecantikan dan kepandaian, Karin merasa tidak ada yang istimewa dalam dirinya. Bahkan ketika Shawn, sahabat cowok satu – satunya yang ia miliki, telah berkali – kali berusaha untuk meyakinkanya.

Masalah baru muncul lagi ketika seorang cowok bernama Andre mulai menarik perhatian Karin. Karena merasa biasa- biasa saja, tidak heran jika Karin merasa ia tidak akan mampu merebut perhatian cowok paling keren di sekolah. Ia terlalu malu untuk melakukan apapun juga. Padahal kalau mau ia bisa saja melakukan banyak hal. Salah satunya adalah ikut paduan suara. Apalagi kalau melihat kualitas suaranya yang di atas rata- rata. Sayangnya pikiran negatif Karin mengalahkan semuanya.

Tidak ada yang berubah, sampai suatu hari, ketika Karin menemukan cermin tua di gudang rumahnya. Cermin itu berbingkai kayu jati berukir dengan ukuran yang cukup besar. Walau tua ternyata cermin itu masih bisa digunakan. Awalnya Karin hanya menganggap cermin itu sama seperti cermin – cermin lainnya. sampai suatu waktu, ia melihat tiga wanita cantik muncul dari dalam cermin. Bahkan cermin itu ternyata adalah pintu masuk ke sebua ruangan luas seperti keraton, dngan tiang – tiang dari kayu berukir dan dinding berwarna kehijauan. Nyi Rajadharma, Nyi Rajasita dan Nyi Rajasutri begitulah nama perempuan – perempuan yang saat itu mengenakan kebaya kuno namun terkesan sangat mewah.

Dari cerita mereka, Karin mengetahui bahwa ketiganya adalah penjaga cermin sekaligus pelindung keluarga Karin dan segala keturunannya. Mereka juga bersedia membantu apapun yang dibutuhkan Karin. Ada sesuatu yang menarik perhatian karin ketika mereka mengucapkan kalimat yang terakhir. Satu keinginan pun terucapkan. Tak perlu menunggu lama untuk membuktikan kebenaran kata- kata para wanita. dalam cermin. Dengan mudah ia lulus audisi paduan suara. Sehingga kini tak hanya satu, dua ataupun tiga permintaan. Karin nampaknya mulai ketagihan untuk terus meminta dan meminta

Shawn yang mengetahui keadaan tersebut telah berkali – kali mengingatkan namun semua itu diangapnya angin lalu. Karena Karin telah dibutakan oleh kesuksesan dan mimpi-mimpinya yang hampir menjadi kenyataan. Sayangnya Karin tak pernah tahu bahwa dirinya telah terjerumus. Karena tiga wanita itu ternyata menyimpan niat yang buruk. Sementara itu dirinya semakin lemah. Kekuatan gelap nyaris menguasai hidupnya bahkan siap mengambil alih seluruhnya.

Tidak seperti dibuku sebelumnya yang bercerita tentang cewek – cewek yang keren, Kali ini saya dibuat jengah oleh tokoh Karin. Semua itu karena tingkah dan pola pikirnya yang ogah – ogahan. Saya jadi maklum mengapa ia hanya punya satu teman. Tapi lepas dari tokoh cewek yang menyedihkan ini, ceritanya keren. Apalagi dengan adanya makhluk- makhluk gaib. Tidak hanya tiga wanita dari dalam cermin tapi juga makhluk gaib tambahan yang hanya kalian ketahui begitu membuka buku ini. Tak jarang mereka membuat saya tertawa.

A Series of Unfortunate Events: The Slippery Slope


A Series of Unfortunate Events: The Slippery Slope

Judul Indonesia: Lereng Licin

Penulis: Lemony Snicket

Penerjemah: Primadonna Angela

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan: I, Agustus 2008

Tebal: 336 hlm


Setelah menghabiskan hari – hari yang tidak menyenangkan di Karnaval Karnivora, Lemony Snicket kembali dengan kisah anak – anak Baudelaire di Lereng Licin.


Siapapun yang sudah mengikuti catatan – catatan itu tahu bahwa cerita anak – anak Baudelaire memang menyedihkan. Namun tidak seperti catatan – catatan Lemony Snicket sebelumnya, di Lereng Licin, pembaca langsung dihadapkan dengan kenyataan yang tidak menyenangkan. Lihat saja Sunny, anak termuda Baudelaire, yang disandera oleh Count Olaf dan kawan – kawan. Semua juga bisa merasakan bagaimana putus asanya anak kecil itu, tidak hanya harus berpisah dengan kedua kakaknya, Violet dan Klaus, ia juga harus menahan rasa sakit dari cubitan dan cakaran pada bahunya yang tidak segan – segan diberikan oleh Esme, kekasih Olaf.


Begitu sampai tempat tujuan mereka, cubitan yang diterimanya hanyalah awal dari perlakuan kejam selanjutnya. Tanpa peduli bahwa udara sangat dingin, Count Olaf menyuruh Sunny untuk memasang tenda kemudian memasak makanan bagi mereka semua dan tentu saja tanpa bantuan dari siapapun. Apakah berhenti sampai di situ? Tentu saja tidak. Karena pembagian tempat tidur pun, Sunny hanya diberikan wadah kaserol di bagasi.

Di saat yang sama, nasib Violet dan Klaus tidak kalah mengerikan. Mereka berdua berada dalam karavan yang berjalan sangat cepat di Pegunungan Portmain yang tinggi. Nyawa mereka bisa melayang sewaktu – waktu. Karena karavan itu bergerak turun. Untung saja di dalam karavan ada bermacam – macam benda bahan makanan yang bisa dimanfaatkan untuk menghentikan laju. Semua tentu saja semua itu tidak lain karena kepiawaian mereka berdua. Hammock dan adonan lengket menjadi pilihan mereka berdua. Kedua benda itu berhasil membuat karavan berhenti.


Keluar dari karavan, Violet dan Klaus hanya dibiarkan bernafas lega dalam waktu yang sangat singkat. Karena mereka kini harus berhadapan dengan hembusan angin dingin yang nyaris membekukan tubuh mereka. Karavan bahkan tidak dapat lagi digunakan untuk menyusul Sunny, karena secara tiba-tiba karavan itu meluncur kebawah dan menghilang dalam keheningan. Seakan ingin menambah daftar kemalangan anak – anak baudelaire, serangga salju ikut menyerang mereka dari segala arah. Tak tanggung – tanggung, wajah Violet dan Klaus menjadi sasaran empuk binatang – binatang kecil itu. Walau kecil, namun sengatan mereka meninggalkan rasa yang benar – benar sakit. Dari buku yang dibacanya, Klaus tahu bahwa api dapat mengusir serangga salju. Sayangnya Violet dan Klaus tidak punya apa – apa lagi untuk mengusir kerumunan itu. Meninggalkan tempat mereka berdiri menjadi satu- satunya pilihan.


Sesaat kemudian keduanya melihat sebuah gua. Di dalam sana mereka bisa selamat dari udara dingin dan sengatan yang menyakitkan. Namun resiko lain yang harus mereka hadapai adalah binatang yang berhibernasi. Violet dan Klaus tahu, lagi – lagi mereka hanya dihadapkan pada satu pilihan. Mereka mencoba peruntungan mereka dengan mencoba masuk lebih dalam ke gua yang muramPertama – pertama yang mereka mendapati api dan suara yang tidak asing lagi, yang meneriakan kata “malingkue”


Suara lain itu tidak lain adalah Carmelita Spats, anak perempuan kejam yang mereka temui di Sekolah Menengah Prufrock. Kini ia tergabung di Pramuka Pesalju yang dalam perjalanan merayakan Musim semi Salju bersama anak – anak lain. seperti biasa Carmelita tak pernah menyukai orang asing. Segera saja ia mengusir keduanya. Kalau saja tak dicegah oleh paman Bruce, satu – satunya pria dewasa di tempat itu, Violet dan Klaus pastinya harus berhadapan lagi dengan kumpulan serangga salju. Keadaan gua yang gelap dan mantel juga menyelamatkan mereka. Carmelita tidak mengenali mereka berdua. Untuk sementara mereka selamat. Setidaknya kali ini.

Cerita demi cerita pun mengalir setelah paman Bruce membiarkan mereka bergabung dengan Pramuka Pesalju. Tak disangka, kejutan berikutnya akan datang secepat itu. Kalau tadi mereka dikejutkan dengan kata “malingkue”, kini seseorang dari anak –anak pramuka itu menyebutkan kata “Penyelidik Kucing Sukarelawan”. Tiga kata yang mengandung tiga inisial yang selama ini mereka cari. PKS. Sayangnya Baik Violet maupun Klaus tidak dapat mendekati anak tersebut karena mereka harus mengikuti ritual Waktu Bercerita Pramuka Pesalju yang sangat membosankan


Kejutan demi kejutan ternyata telah menunggu mereka. Anak pramuka misterius itu ternyata menghampiri mereka ketika yang lain telah terlelap. Begitu banyak pertanyaan yang hendak dilontarkan Violet dan Klaus. Karena tak hanya mengucakan kata dengan inisial PKS di dalamnya, namun anak pramuka misterius ini juga ternyata mengetahui Paman Montgomery, yang tidak lain adalah salah satu wali pertama anak – anak Baudelaire. bahkan ia tahu jalan keluar dari gua menuju Padang Keempat Sumberangin melalui Pengalih Kebakaran Sementara. Walau tahu bahwa tidak Violet dan Klaus tidak boleh dengan percaya pada orang yang baru dikenalnya. Namun ini adalah pilihan yang lebih baik daripada harus mencari jalan keluar sendiri. Lagipula meraka tak mungkin menunggu berlama – lama di dalam gua, sementara adik mereka berada dalam cengkaraman orang sekeji Count Olaf. Sambil berharap rahasia yang menyelubungi PKS satu demi satu dapat mereka ketahui.


Entah berapa lama waktu yang digunakan Violet, Klaus serta anak pramuka misterius untuk sampai ke Padang Keempat Sumberangin. Tak ada keterangan dalam catatan Lemony Snicket mengenai itu. Perjalanan yang panjang dan pastinya melelahkan. Tak jauh beda dengan perjalanan seperti dibuku – buku yang lain. Sehingga tak heran jika diluar sana pun banyak orang yang berhenti mengikuti kisah mereka ini. tak perlu heran sebenarnya. Karena seperti diakhir setiap catatan yang lain, Violet, Klaus dan Sunny di Lereng Licin tidak juga berakhir dengan hal yang menyenangkan. Namun bagi saya, justru disitulah istimewanya buku ini. pilihan kata yang tidak biasa oleh Lemony Snicket, yang telah mendedikasikan untuk menyelidiki kisah sedih anak – anak Baudelaire ini, juga menjadi hal mengapa saya tidak pernah bosan.

Saturday, 10 January 2009

Review: My Sister Keeper - Jodi Picoult



Spoiler Alert!!!

Ketika anak – anak seusianya bertanya bagaimana bayi dibuat, Anna kecil malah bertanya kenapa. Ia telah memikirkan beratus alasan mengapa seorang bayi dilahirkan. Anna mulai memikirkan berbagai alternatif seperti hasil dari sebotol anggur murahan, bulan purnama, karena gejolak gairah semata atau yang paling buruk karena alat kontrasepsi yang tidak seratus persen berhasil. Yang jelas ia tahu bahwa tak satupun dari semua hal – hal konyol itu yang melatarbelakangi kehadirannya di keluarga Fitzgerald.

Anna lahir tak lepas dari tangan – tangan para ilmuwan. Mereka berhasil menggabungkan sel telur ibunya dan sperma ayahnya untuk menciptakan kombinasi spesifik. Kombinasi yang nantinya akan melahirkan seorang yang sangat mereka butuhkan untuk menjadi donor. Ya, Anna tahu satu – satunya alasan ia dilahirkan untuk menyelamatkan kakak perempuannya Kate, yang mengidap luekimia sejak kanak – kanak. Bahkan paham bahwa setiap sel dalam tubuhnya sangat berarti untuk mempertahankan satu tarikan nafas Kate.

Tak terhitung berapa kali ia harus menahan rasa sakit ketika jarum suntik itu masuk ke dalam tubuhnya. Menjalani beberapa operasi, transfusi darah, pengambilan sum-sum tulang belakang seakan menjadi hal yang biasa. Semua itu tidak lain hanya untuk Kate ketika penyakit kakak perempuannya itu kambuh ataupun terkena infeksi. Bahkan tak perlu heran saat Anna sudah menyumbangkan sel darah tali pusat untuk Kate beberapa jam setelah lahir. Ketika mengetahui fakta itu, ia semakin yakin bahwa ia dilahirkan memang untuk menyelamatkan Kate. Hanya itu, tidak lebih.

Ia benci setiap kali harus ke rumah sakit. Ia benci setiap kali harus menahan rasa sakit. Tapi ia tak pernah sekalipun mengutarakan pada siapa pun. Karena Anna juga tak mau kehilangan satu – satunya kakak perempuan yang ia miliki. Satu – satunya sahabat yang ia miliki. Sampai saat usianya yang ketiga belas, ketika Sara, ibunya, sekali lagi meminta Anna menjadi donor bagi Kate. Tak tanggung - tanggung, kali kini yang diminta adalah ginjal dan untuk pertama kalinya Anna menolak untuk melakukannya.

Melalui Campbell Alexander, pengacaranya, Anna mengajukan gugatan kepada kedua orang tuanya untuk memperoleh kebebasan medis. Anna tahu keputusannya ini akan membuat orang tua terutama ibunya akan berang, keluarganya semakin berantakan dan yang paling fatal, Anna akan kehilangan Kate untuk selamanya.

Kisah yang sangat mengejutkan. Namun disitulah yang menjadi daya tarik buku ini. Terlepas dari beberapa istilah kedokteran yang membingungkan. Saya sangat menyukai cara Jodi Picoult menuliskan kisah ini dengan membuat setiap tokoh di dalam buku ini menyampaikan semua yang mereka rasakan. Dari Anna, Sara sang Ibu, Brian sang Ayah, Campbell sang pengacara,Julia, wali ad litem Anna. sampai Jesse, kakak laki-laki Anna yang nyaris dilupakan oleh kedua orang tuanya.Sehingga tidak hanya mengetahui masalah dari satu sudut pandang saja.Walau begitu, saya tetap tidak habis pikir akan semua hal yang dilakukan oleh Sara. Mungkin karena tidak benar-benar merasakan posisinya sebagai ibu. Entahlah

Dari awal buku ini dimulai dengan cerita yang mengejutkan dan juga diakhiri dengan sesuatu yang membuat saya nyaris tidak percaya dengan apa yang saya baca. Rasa sedih ketika membaca kisah Anna semakin terasa di bagian terakhir. Bahkan saya berharap akan menemukan akhir yang berbeda.

Selesai melahap My Sister Keeper yang mengejutkan terlebih pada akhir ceritanya, saya jadi penasaran dengan buku - buku Jodi Picoult yang lainnya.

Dari Wikipedia, kisah Anna ini akan diangkat ke layar lebar. Rencananya akan dirilis akhir Juni tahun ini. Cameron Diaz, Alec Baldwin, Abigail Breslin akan menjadi bintang di film ini. Semoga saja filmnya nanti akan semenarik bukunya.

My Sister Keeper
Penulis: Jodi Picoult
Judul Indonesia: Penyelamat Kakakku

Penerjemah: Hetih Rusli
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, 2007
Tebal: 528 hlm

Monday, 29 December 2008

The Last Concubine


The Last Concubine
Penulis:Lesley Downer
Penerjemah: Yusliani Zendrato
Editor: Nadya Andwiani
Penerbit: Matahati
Cetakan: I, November 2008
Tebal: 658 hlm


Buku yang menceritakan sejarah Jepang selalu menarik perhatian saya. Kebanyakan dari lembaran – lembaran itu berisi kisah yang dituturkan melalui sudut pandang seorang pria. Bagaimana tingkah laku dan pola pikir seorang samurai menghadapi perselisihan kecil ataupun pertempuran besar seperti perang tidak lagi menjadi hal yang asing. Sehingga ketika tahu The Last Concubine berisi kisah yang diceritakan oleh seorang perempuan, tak perlu berpikir dua kali untuk segera melahapnya. Terlebih lagi ketika perempuan itu menjadi bagian dari kehidupan sang seorang shogun.

Memang bukan buku pertama yang memberitahu saya bagaimana kisah seorang wanita Jepang di masa lalu. Namun inilah buku yang membuka pintu istana sang shogun lebih lebar sehingga semua bisa melangkahkan kaki ke dalam lingkungan yang selama ini dibatasi tembok yang tebal. Bahkan merasakan apa yang dirasakan para penghuninya.

Sachi, begitulah nama perempuan yang beruntung itu. Melalui matanyalah, semua terungkap dengan jelas. Segala hal yang terjadi pada klan Tokugawa sebelum dan sesudah pemberontakan terjadi.

Tak sekalipun pernah terlintas dibenak Sachi, suatu hari ia akan menjalani kehidupan istana di Edo. Karena awalnya ia adalah seorang gadis desa yang dibesarkan oleh keluarga petani di lembah Kiso. Hidup bersama Jiroemon dan Otama, Ayah-ibunya, sudah lebih dari cukup. Ia tak punya waktu untuk merajut satupun mimpi untuk masuk ke lingkaran orang – orang terhormat itu. Tak hanya disibukkan bersama teman sepermainannya dengan hal – hal yang menyenangkan, namun juga karena sibuk membantu ayah-ibunya mengurusi penginapan yang selama ini selalu digunakan oleh para bangsawan saat menelusuri jalur Nakasendo, jalan yang menghubungkan Edo dan Kyoto.

Sehingga iring – iringan orang terhormat dengan ratusan pasukan pengiring tidak lagi menjadi hal asing bagi Sachi. Puluhan aturan dipahaminya dengan baik. Termasuik ritual berlutut dan menundukkan pandangan sedalam mungkin ,menghadap tanah, ketika rombongan itu melintas tak pernah sekalipun diabaikan.seperti yang lain, Sachi tak mau mengambil resiko kehilangan nyawa hanya karena melanggar aturan itu.

Namun semua aturan itu segera saja dilupakannya ketika yang melintas adalah iring –iringan Yang Mulia Putri Kazu. Rasa penasaran memang telah lama menggelitiknya sejak pertama kali mendengar berita bahwa mereka adik sang kaisar itu akan melewati jalan Nakasendo terlebih lagi beristirahat di penginapan ayahnya. Ia tak pernah meohat seorang putri pun seumur hidupnya. Dari hari ke hari menjelang kedatangan sang putri, rasa penasaran Sachi pun semakin besar. Terlebih karena cerita demi cerita tentang sang putri yang rasanya tidak berhenti dibicarakan orang-orang disekitarnya.

Sampai akhirnya iring – iringan besar itu datang. Sachi yang saat itu memakai kimono berwarna biru-nila telah mengambil tempat dan duduk membungkuk bersama yang lain. Awalnya Sachi melihat dari sudut matanya, joli demi joli indah yang membawa para perempuan terhormat terus berdatangan. Namun tak lama kemudian,Sachi benar –benar tak dapat menahan untuk tidak mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok sang putri. Mendadak tatapan seorang perempuan muda bertemu dengan tatapannya. Tak butuh waktu lama untuk membuat para perempuan lain menoleh ke arahnya. Suasana yang awalnya sunyi mendadak menjadi ribut. Sedetik kemudian bayang – bayang kematian membayangi pikiran Sachi karena satu pelanggaran yang fatal.

Namun suratan takdir berbicara lain. Alih- alih mendapat hukuman mati atas kelancangannya, Sachi mendapat kesempatan untuk melangkahkan kaki di kastel Edo. Sejak hari itu. Sachi belajar banyak hal, sebagai dayang-dayang pengiring putri Kazu, ia harus mengerti cara berjalan sampai berbicara layaknya perempuan terhormat, menulis puisi, membaca, seni bela diri dan tentunya beratus aturan istana.

Tak hanya itu, Sachi juga mempelajari ritme kehidupan di Istana Para Perempuan, yang seakan memiliki dunianya sendiri. Sachi tahu benar bagaimana persaingan antar satu dengan yang lain tak lagi dianggap sebagai hal yang aneh, bahkan jika satu pembunuhan terjadi sekali pun. Sehingga tak heran jika ia diingatkan untuk tetap waspada. Terlebih ketika akhirnya ia diangkat menjadi selir sang shogun. Sekali lagi perubahan besar terjadi pada hidup Sachi. Kini statusnya berganti menjadi Nyonya Rumah Samping. Para pelayan mengerumuninya dan siap untuk melakukan apapun yang diinginkannya. Kimono – kimono yang digunakannya kini jauh lebih indah dari sebelumnya. Ditambah lagi setiap bulannya, ia menerima ryo emas yang dapat digunakan untuk membiayai kehidupannya yang baru sebagai selir berikut fasilitas lain untuk keluarganya. Rasanya seumur hidup, tak ada yang lebih baik dari ini. terutama ketika ia mendapat perhatian khusus dari sang shogun.

Sayangnya kehidupan menyenangkan itu tak berlangsung lama. Semua berawal dari kejadian buruk yang menimpa sang shogun. Pemberontakan pecah. Keadaan menjadi sangat kacau. Pertumpahan darah tak terelakkan. Seakan tak ada tempat bagi siapa saja yang dicurigai sebagai pendukung shogun. Semua menjadi porak poranda. Bahkan di benteng pertahanan terakhir klan Tokugawa, tak terkecuali Istana Para Perempuan. Tak satu pun tempat yang aman bagi mereka sekarang dan satu-satunya cara menyelamatkan diri adalah meninggalkan istana. Sachi tak punya pilihan lain. Karena ia juga tahu bahwa tak pernah ada jaminan bahwa kehidupan di luar akan lebih baik selama perang masih berkecamuk.

Perjalanan baru dimulai. Sekali lagi melalui mata Sachi, peristiwa demi peristiwa menjelang runtuhnya Kastel Edo terekam dengan jelas.

Tidak seperti buku – buku yang juga mengambil sejarah jepang di dalam lembarannya, buku ini memberikan kepuasan tersendiri. Setiap fakta yang ada di dalam buku ini memberikan jawaban – jawaban atas beberapa pertanyaan saya.Dari berakhirnya pemerintahan shogun yang erat kaitannya dengan Restorasi Meiji, dua kata yang sebelumnya tak pernah saya pahami, sampai bagaimana kekaisaran jepang mengambil alih kekuasaan. Yang tak kalah menarik, tentu saja fakta seputar kehidupan para wanita yang mengelilingi sang shogun. Ini benar – benar hal baru buat saya. Suatu kejutan begitu tahu bahwa nyaris semua yang dituliskan oleh sang penulis adalah sesuatu yang benar- benar terjadi di masa lalu. Tentunya bagi penggemar fiksi sejarah, buku ini tak boleh dilewatkan.

Friday, 26 December 2008

Review: Chicken With Plums - Marjane Satrapi


Nasser Ali Khan dan Tar adalah dua hal yang benar – benar asing bagi saya. Setidaknya sebelum menyelesaikan novel grafis ini. Nama Nasser Ali Khan tak pernah saya dengar sama sekali. Begitu pula dengan tar, yang ternyata adalah salah satu alat musik.


Namun tidak demikian dengan orang – orang Iran saat itu. Semua pasti langsung tahu begitu nama pria itu disebut. Tidak perlu heran, karena Nasser Ali Khan adalah salah satu musisi yang sangat piawai memainkan tar. Namun buku ini tidak banyak bercerita tentang kesuksesaannya. Sebaliknya, bercerita tentang hari – hari terakhir sebelum ia menghembuskan nafas terakhir. Walau begitu lembaran demi lembaran buku ini lebih dari cukup untuk mengetahui bahwa Nasser Ali Khan dan tar adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan.


Mengejutkan, ketika suatu hari, tar itu bisa patah dan rusak. Tidak ada kemungkinan untuk memperbaikinya. Perjalanan mencari tar baru pun di mulai.


Bukan hal yang sulit untuk menemukan tar baru. Namun begitu memcoba memainkannya, nada yang dihasilkan ternyata tak seindah tar miliknya terdahulu. Sehingga pencarian berikutnya pun dimulai. Tak peduli jauhnya jarak yang harus ditempuh ataupun berapa banyak uang yang harus ia keluarkan. Semua rela dilakukan demi mendapatkan musiknya kembali. Sayangnya, nada-nada indah itu tetap tak didapatkannya. Ternyata tak ada tar lain yang bisa memberikan kebahagian bermain musik. Semangatnya pun menguap dalam sekejap. Putus asa segera menyelubunginya. Parahnya, ia pun memutuskan untuk mati.


Hari – hari terakhir, dihabiskannya dengan berbaring. Berbagai hal terlintas di benaknya. Termasuk semua cara untuk mengakhiri hidup. Dari hal – hal tersebutlah terungkap mengapa musik indah dari tar yang dipetiknya tak pernah kembali


Setelah membaca Embroideries (Bordir) yang mengungkapkan kehidupan pribadi beberapa wanita Iran, rasa penasaran kembali menggelitik untuk mengikuti kisah yang dituturkan Marjane Satrapi di buku ini. Namun dibandingkan dengan Bordir, Chicken With Plums dikemas dalam goresan – goresan yang lebih rapi. Tak terlihat lagi pria – pria mengerikan. Tentu saja tidak ketinggalan selipan humor kecil ada di dalamnya.


Saya memang tak mengenal Nasser Ali Khan. Bahkan tak sekalipun mendengar musik yang dimengalun melalui tar yang dimainkannya. Namun begitu menyelesaikan buku ini, saya bisa mengerti mengapa nada – nada indah itu tak pernah lagi didapatkannya, mengapa tak satupun tar bisa mengantikan tar miliknya, tak peduli semahal apapun harga yang harus dibayarnya. Saya mengerti. Saya sungguh mengerti.


Chicken With Plums

Judul Indonesia: Ayam Dengan Plum

Karya: Marjane Satrapi

Penerjemah: Tanti Lesmana

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan: I, Agustus 2008

Tebal: 88 hlm

Sumber: Koleksi Pribadi

Wednesday, 17 December 2008

Review: The Miraculous Journey of Edward Tulane - Kate DiCamillo


Dahulu kala, hiduplah seorang putri yang sangat cantik. Ia gemerlapan bagai bintang – bintang di langit tanpa bulan. Sayangnya ia putri yang tidak menyayangi siapa pun dan tak peduli pada rasa sayang, meskipun banyak yang menyayanginya.

Pada suatu hari, sang Raja, ayahnya berkata bahwa sang putri harus menikah. Tidak lama kemudian, datanglah pangeran dari kerajaan tetangga. Ia melihat sang putri, dan segera, jatuh cinta padanya. Ia memberi sang purti sebuah cincin dari emas murni. Dipasangnya cincin itu di jari putri. Ia mengucapkan kata- kata ini padanya:’aku cinta padamu.’ Tapi sebagai balasan, sang putri melepas cincin dari jarinya dan menelannya dan berkata, ‘Itulah pendapatku tentang cinta’. Dan ia berlari meninggalkan sang pangeran. Ia pergi dari istana dan masuk jauh ke dalam hutan dan tersesat.

Setelah berhari hari berkelana, akhirnya ia menemukan pondok kecil dan mengetuk pintunya. Ternyata pondok itu milik seorang nenek sihir yang nampaknya tak menaruh sedikit pun perhatian padanya. Sikap acuh tak acuh itu membuat sang putri kesal. Sampai akhirnya si penyihir bertanya “ Siapa yang kau cintai?”. Dengan bangganya sang putri menjawab “ Aku tidak mencintai siapa-siapa”. Sayangnya ocehan sang putri hanya membuat wanita tua itu marah dan akhirnya menyihirnya jadi babi hutan. Terkejut dengan sosoknya yang mengerikan, putri babi hutan pun berlari keluar dan menemukan para prajurit Raja.

Para prajurit yang melihat babi hutan, dengan sigap menembaknya. Dan membawa babi itu kembali ke istana dan juru masak memotong motongnya untuk disajikan sebagai malam malam. Begitu membelah perut babi, tentu saja sang juru masak menemukan cincin emas. Tanpa pikir panjang, cincin itu disematkannya ke jarinya dan meneruskan memotong si babi hutan.


Ketika Pellegrina menceritakan dongeng di atas, Edward Tulane, si kelinci persolen, tak sepenuhnya mengerti. Ia hanya menganggap bahwa dongeng itu memiliki akhir yang aneh. Walau sempat memikirikan nasib sang putri, namun ia tetap tak ambil pusing. Kisah tragis itu hanya terjadi pada sang putri. Ia tak mau repot memikirkannya.

Mungkin tak salah jika Edward berpikir seperti itu, karena saat itu ia dimiliki anak perempuan Abilene, yang memperlakukannya dengan penuh kasih dan amat sangat menyayanginya. Setiap malam sebelum tidur Abilene selalu membisikan kata – kata ditelinga Edward dan seakan tak pernah bosan mengungkapkan bagaimana ia sangat menyayangi kelinci itu. Walau memiliki emosi, Edward ternyata tak merasakan apa pun, kecuali rasa bosan.

Sampai suatu hari, Abilene menghilang dari hidupnya. Jam demi jam berlalu, berhari – hari, berminggu – minggu, hingga berbulan – bulan lamanya, namun Abilene ternyata tak juga kembali. Yang ia tahu dirinya terkurung di dasar laut.

Beruntung, suatu malam di lautan terjadi badai yang membuatnya dirinya terempas naik-turun, maju-mundur sampai akhirnya ditemukan oleh seorang nelayan, yang membawanya pulang. Di rumah sang nelayan, Edward dirawat oleh Nellie, seorang perempuan tua dengan penuh kasih. Edward diperlakukan layaknya anak mereka. Anehnya tak seperti di rumah Abilene, Edward menikmati semua hal tersebut.

Sayangnya, saat – saat menyenangkan itu tak berlangsung lama. Edward kembali dihempas dan dijejalkan di tempat sampah. Tak ada lagi sosok nelayan dan Nellie. Malam itu keanehan kembali terjadi, karena Edward merasakan sakit yang teramat sangat.

Petualangan Edward ternyata tak berakhir di pembuangan sampah. Takdir membawanya kepada seorang gelandangan dan seekor anjing kemudian berpindah ke tangan anak perempuan yang sakit keras, ke jalan – jalan kota Memphis sampai akhirnya berakhir di sebuah toko reparasi boneka. Sedikit demi sedikit Edward pun paham makna kata – kata yang dulu selalu diucapkan Abilene.

Sayangnya semua perjalanan itu ternyata membuat Edward kelelahan. Dan akhirnya memutuskan untuk berhenti berharap. Sampai suatu hari ia bertemu sebuah boneka tua.

Dibandingkan Because of Winn-Dixie dan The Tiger Rising, cerita tentang Edward Tulane inilah yang paling saya sukai. tidak hanya karena ilustrasi penuh warna namun tentu saja karena perjalanan Edward memahami sesuatu yang selama ini tak pernah dipedulikannya sama sekali.

The heart breaks and breaks
And lives by breaking

The Miraculous Journey of Edward Tulane
Judul Indonesia: Perjalanan Ajaib Edward Tulane
Penulis: Kate DiCamillo
Ilustrasi: Bagram Ibatoulline
Penerjemah: Dini Pandia
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, November 2006
Tebal: 208 hlm

#SS2014: The Riddle

Here we go again~ Setelah dua tahun berturut-turut dapat buku terjemahan, tahun ini aku dapat buku dari penulis Indonesia. Ud...